Video Pilihan

Geopark Cileteuh

3 Juli 2026   05:30 Diperbarui: 2 Juli 2026   21:05 150 19 8


Kadang Tujuan Terbaik Bukan Tempatnya, Melainkan Perjalanan Menuju ke Sana

"Tidak semua perjalanan harus berakhir dengan menginap. Ada kalanya perjalanan terbaik justru adalah perjalanan yang mengajarkan kita menikmati setiap kilometer yang dilewati."

Dua minggu yang lalu kami menikmati keindahan Kawah Putih Ciwidey.

Akhir pekan kali ini, tujuan kami berbeda. Kami sepakat menuju salah satu kawasan wisata alam paling terkenal di Jawa Barat, Geopark Ciletuh.

Sayangnya, perjalanan kali ini terasa sedikit berbeda.

Anak sulung kami tidak bisa ikut karena harus menjemput istrinya yang baru tiba dari Banjarmasin melalui Bandara Soekarno-Hatta. Akhirnya, kami berempat memulai petualangan pagi itu.

Seperti biasa, setelah menunaikan salat Subuh, mobil kami mulai meninggalkan Bogor.

Kami memilih jalur Cigombong, Lido, kemudian masuk ke jalur utama Bogor-Sukabumi melalui Cibadak.

Perjalanan terasa jauh lebih nyaman dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Jalan yang kini sudah selesai dibangun membuat perjalanan menjadi lebih singkat. Bahkan jaraknya bisa menghemat sekitar 60 kilometer dibandingkan jalur lama.

Namun bagi kami, perjalanan bukan soal cepat sampai.

Setiap kali menemukan pemandangan yang indah, kami berhenti.

Kadang hanya lima menit.

Kadang sedikit lebih lama.

Sekadar mengambil foto, merekam video, lalu kembali menikmati perjalanan.

Semakin mendekati kawasan Ciletuh, pemandangan berubah semakin menakjubkan.

Di sisi kiri berdiri gagah pegunungan hijau.

Sementara di sisi kanan, lautan biru membentang luas sejauh mata memandang.

Perpaduan dua panorama itu membuat kami berkali-kali berkata, "Masya Allah... indah sekali."

"Koleksi: Misbah Moerad"
Perhentian pertama kami adalah beberapa titik panorama yang menghadap langsung ke laut.

Setelah puas mengambil gambar, perjalanan berlanjut menuju Bukit Panenjoan.

Dari ketinggian bukit ini, bentang alam Geopark Ciletuh mulai terlihat jelas.

Hamparan laut, perbukitan hijau, dan lekukan pantai berpadu menjadi pemandangan yang sulit dilupakan.

Kami kembali mengabadikan momen.

Rasanya sayang jika keindahan seperti ini hanya dinikmati beberapa detik tanpa membawa pulang kenangan.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Puncak Darma.

Suasana di sana jauh lebih ramai.

Puluhan bahkan ratusan sepeda motor dari berbagai komunitas memenuhi area parkir.

Para rider tampak menikmati udara pegunungan sambil bercengkerama dengan teman-teman mereka.

Suasana itu justru menambah semarak perjalanan kami.

Belum puas menikmati panorama, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Kali ini tujuan berikutnya adalah Curug Dogdog.

Air terjun yang masih alami itu menjadi tempat singgah berikutnya sebelum kami menuju Curug Cimarinjung.

Curug Cimarinjung benar-benar memukau.

Debit air yang besar, tebing yang menjulang, dan hijaunya pepohonan membuat suasananya terasa begitu sejuk.

Pengunjung juga cukup ramai.

Semuanya tampak menikmati keindahan alam yang masih terjaga.

Akhirnya tibalah kami di tujuan utama.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Geopark Ciletuh.

Pantainya begitu luas.

Angin laut berembus pelan.

Deburan ombak terdengar silih berganti.

Kami memarkir kendaraan, lalu mencari sebuah warung makan sederhana di tepi pantai.

Menu kami hari itu sangat sederhana.

Kelapa muda.

Tiga ekor ikan bakar ukuran besar dengan bumbu yang berbeda.

Lalapan segar.

Sambil menunggu pesanan datang, kami duduk menghadap pantai menikmati semilir angin laut.

Tidak lama kemudian makanan tersaji.

Dan benar saja...

Rasanya luar biasa.

Bahkan kami sampai bercanda bahwa masakan sederhana di warung pinggir pantai itu mampu mengalahkan rasa makanan di restoran bintang lima.

Saking nikmatnya, nasi yang tersedia sampai tiga bakul habis kami santap berempat.

Sesekali kami saling menggoda.

"Ini makan atau balas dendam?"

Tawa pun pecah di antara suara ombak.

Namun perjalanan yang menyenangkan itu sempat diwarnai kejadian kecil.

Saat kembali ke mobil, saya baru menyadari bahwa kaca di sisi tempat duduk istri ternyata lupa saya tutup sejak kami turun tadi.

Syukurlah tidak ada barang berharga yang hilang.

Hanya satu kartu e-toll yang tidak lagi berada di tempatnya.

Lucunya, kartu e-toll itu memang sedikit berbeda.

Di salah satu sisinya terdapat foto keluarga kami, sedangkan di sisi lainnya ada foto saya sendiri.

Saya sempat bercanda kepada keluarga,

"Jangan-jangan yang mengambil malah tertarik sama foto saya."

Padahal malam sebelumnya kartu itu baru saja saya isi saldo sebesar Rp900.000.

Mungkin memang sudah ada rezekinya orang lain.

Setelah menikmati pantai, kami mulai mencari penginapan.

Sayangnya hampir semua penginapan di kawasan Ciletuh sudah penuh.

Kami bertanya kepada warga sekitar.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Mereka menyarankan mencoba mencari penginapan ke arah Curug Kembar.

Harapan kembali muncul.

Namun satu per satu guest house yang kami datangi ternyata juga penuh.

Jam sudah menunjukkan sekitar pukul tiga sore.

Kami masih belum mendapatkan kamar.

Akhirnya istri saya berkata pelan,

"Kalau Papa tidak capek, bagaimana kalau kita pulang saja ke Bogor?"

Saya tersenyum.

Anak-anak pun setuju.

Tidak ada yang kecewa.

Karena kami sadar...

Tujuan utama perjalanan hari itu sebenarnya sudah kami dapatkan.

Bukan kamar penginapan.

Bukan juga sekadar sampai di Geopark Ciletuh.

Tetapi kebersamaan.

Kami pun memutar kendaraan, meninggalkan Ciletuh perlahan sambil menikmati cahaya matahari sore yang mulai condong ke barat.

Perjalanan pulang terasa tenang.

Meski badan mulai lelah, hati justru terasa penuh.

Hari itu kami belajar satu hal. Kadang perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang sempurna. Justru cerita-cerita kecil di sepanjang jalan, berhenti menikmati pemandangan, makan ikan bakar di pinggir pantai, kehilangan kartu e-toll, hingga akhirnya pulang tanpa menginap, itulah yang kelak akan paling sering kami kenang. Sebab dalam setiap perjalanan, yang paling berharga bukanlah destinasinya, melainkan kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9