Istri saya berbisik pelan.
"Kalau nanti kita camping di sini, kamu jangan bawa laptop ya."
Saya menjawab cepat.
"Tenang... saya cuma bawa kamera sama perut."
"Itu dia yang lebih berat."
Kami kembali tertawa.
Sayangnya, beberapa bulan kemudian ketika kami kembali melewati jalur menuju Curug Panjang, saya melihat papan nama Hademen Camp sudah tidak ada lagi. Nama tempatnya tampak berubah. Saya pun tidak tahu apakah pengelolanya masih teman saya atau sudah berganti tangan.
Sedikit ada rasa penasaran sekaligus haru. Sebab setiap tempat selalu menyimpan cerita. Kadang yang berubah hanya namanya, tetapi kenangan yang pernah tercipta di sana tetap tinggal di hati.

Begitulah perjalanan kami hari itu.
Berawal dari semangkuk bubur ayam langganan, berlanjut menikmati secangkir kopi hangat, bertemu kawan lama, bercanda dengan barista, berbincang dengan para pecinta camping dari Tangerang, hingga membawa pulang cerita yang kini hanya bisa dikenang melalui foto, video, dan tulisan ini.