"Kalau sudah kangen bubur ayam langganan, jarak puluhan kilometer itu cuma angka."
Begitulah kami berdua pagi itu.
"Mah... sarapan bubur Cianjur di Mega Mendung yuk."
Istri saya hanya tersenyum sambil menjawab, "Buburnya sih alasan... paling ujung-ujungnya ngopi lagi."
Saya tertawa. "Ya... masa habis bubur langsung pulang. Sekalian kerja sedikitlah..."
Dari rumah kami di Pamoyanan, Bogor Selatan, perjalanan memang lumayan jauh. Tapi kalau tujuannya bubur ayam langganan sekaligus silaturahmi dengan kawan, rasanya perjalanan justru menjadi bagian yang paling menyenangkan.
Setelah semangkuk bubur ayam hangat berpadu kerupuk, cakwe, dan segelas teh hangat berhasil mengisi tenaga, saya langsung mengirim pesan WhatsApp kepada seorang kawan yang baru saja membuka kawasan camping bernama Hademen Camp.
Saya kirim posisi.
Tak lama kemudian balasannya masuk.
"Ok... saya juga baru mau meluncur ke Hademen. Kita ketemu di sana saja."
Nah... ini yang saya suka. Janjian tanpa ribet.
Hademen Camp berada searah menuju Curug Panjang. Kalau dari Hademen menuju Curug Panjang hanya sekitar tujuh menit berkendara. Jadi, Hademen menjadi "gerbang pembuka" sebelum menikmati kesegaran air terjun.

Sesampainya di lokasi, beberapa kawan ternyata sudah lebih dulu menunggu kami.
"Kirain Om batal datang."
"Lho... saya ini kalau urusan kopi, jarang batal," jawab saya sambil tertawa.
Suasana pagi itu benar-benar menyenangkan. Udara pegunungan yang sejuk, pepohonan hijau, dan suara burung menjadi musik alami yang tidak perlu membayar tiket konser.
Yang membuat kami senang, ternyata ada beberapa remaja yang sedang menikmati camping. Dua tenda berdiri rapi dengan enam orang anak muda asal Tangerang yang sedang menghabiskan waktu liburan mereka.
"Enak ya, bangun tidur langsung lihat suasana perkotaan puncak dari ketinggian."
Salah satu dari mereka menjawab sambil tersenyum.
"Enak, Om... yang nggak enak itu kalau malam teman ngorok."
Kami semua langsung tertawa.

Kedatangan kami hari itu memang mempunyai dua tujuan.
Pertama tentu saja ingin mencicipi kopi andalan Hademen Camp.
Baristanya masih muda, ramah, dan penuh semangat.
Saya langsung bertanya, "Mas... kopi andalannya apa?"
Dengan percaya diri ia menjawab, "Yang paling laris, Om."
Saya kembali menggoda.
"Kalau belum saya minum, saya belum percaya."
Semua yang berada di dekat meja kopi langsung tertawa.
Beberapa menit kemudian secangkir kopi panas tersaji di hadapan saya.
Aromanya lebih dulu mengajak ngobrol sebelum saya menyeruputnya.
Saya menikmati perlahan.
"Hmm... ini baru kopi."
Barista tersenyum lega.
"Gimana Om?"
"Saya kasih nilai bagus... syaratnya satu."
"Apa tuh?"
"Cangkirnya jangan diambil lagi sebelum habis."
Gelak tawa kembali pecah.
Sementara itu, teman saya yang mengelola camping mulai bercerita tentang bagaimana ia membangun kawasan ini. Mulai dari membuka lahan, menata area tenda, hingga berharap Hademen Camp bisa menjadi tempat orang-orang melepas penat dari hiruk-pikuk kota.
Saya dan istri berjalan mengelilingi lokasi. Area campingnya cukup nyaman, tertata, dan cocok untuk keluarga maupun anak-anak muda yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus mendaki gunung.
Istri saya berbisik pelan.
"Kalau nanti kita camping di sini, kamu jangan bawa laptop ya."
Saya menjawab cepat.
"Tenang... saya cuma bawa kamera sama perut."
"Itu dia yang lebih berat."
Kami kembali tertawa.
Sayangnya, beberapa bulan kemudian ketika kami kembali melewati jalur menuju Curug Panjang, saya melihat papan nama Hademen Camp sudah tidak ada lagi. Nama tempatnya tampak berubah. Saya pun tidak tahu apakah pengelolanya masih teman saya atau sudah berganti tangan.
Sedikit ada rasa penasaran sekaligus haru. Sebab setiap tempat selalu menyimpan cerita. Kadang yang berubah hanya namanya, tetapi kenangan yang pernah tercipta di sana tetap tinggal di hati.

Begitulah perjalanan kami hari itu.
Berawal dari semangkuk bubur ayam langganan, berlanjut menikmati secangkir kopi hangat, bertemu kawan lama, bercanda dengan barista, berbincang dengan para pecinta camping dari Tangerang, hingga membawa pulang cerita yang kini hanya bisa dikenang melalui foto, video, dan tulisan ini.
Karena pada akhirnya, perjalanan bukan hanya tentang destinasi yang kita datangi, tetapi tentang orang-orang yang kita temui dan tawa yang kita bawa pulang.