Video Pilihan

Sarapan Nggak di Saung...Hari Ini Kita Kabur ke Lembah Salak!

1 September 2026   05:24 Diperbarui: 1 September 2026   05:24 222 9 4


Sarapan Nggak di Saung, Nggak Juga Nasi Uduk... Hari Ini Kita Kabur ke Lembah Salak!

A Day in My Life
Catatan dari Saung APA, 620 MDPL
Episode 22... Sarapan Nggak di Saung, Nggak Juga Nasi Uduk... Hari Ini Kita Kabur ke Lembah Salak

Selamat pagi kompasianer...

Pagi ini ada yang sedikit berbeda.

Biasanya kalau pagi, saya dan istri sarapan di saung. Kalau sedang malas masak, paling ujung-ujungnya meluncur ke nasi uduk langganan.

Tapi pagi ini kami sepakat...

"Kita sarapan di Lembah Salak yuk!"

Hehehe... ternyata urusan sarapan saja bisa dibuat seperti sebuah perjalanan kecil.

Dari Saung APA kami baru berangkat sekitar jam 8 lewat. Sengaja memang tidak terlalu pagi.

Kenapa?

Karena kalau kepagian, bukannya dapat sarapan, malah dapat pemandangan tempatnya masih tutup!

Lembah Salak biasanya mulai buka sekitar pukul 9 pagi.

Jaraknya dari saung kami juga dekat sekali, kurang lebih hanya 2 kilometer. Naik kendaraan roda dua, tidak sampai 10 menit sudah sampai.

Kalau yang pernah lewat jalur bawah, arah Kawung Luwuk, Lembah Salak ini lokasinya tepat di sisi parkiran Suaka Elang Loji.

"Koleksi: Misbah Moerad"
Jadi sebenarnya tidak perlu perjalanan jauh-jauh untuk mendapatkan suasana yang berbeda.

Kadang yang dekat justru sering terlupakan.

Sampai... langsung cari tempat enak

Begitu sampai, suasananya terasa berbeda dari tempat makan biasa.

Bukan restoran mewah.

Tidak ada meja yang harus dibuat terlalu formal.

Justru yang kami cari memang suasana seperti ini.

Suasana kampung, udara segar, dan makan sambil menikmati alam.

Kami memilih tempat yang nyaman, duduk santai berdua, lalu mulai melihat-lihat hidangan yang tersedia.

Konsepnya sederhana, tetapi justru di situlah keseruannya.

Ada rasa seperti sedang bertamu ke sebuah kampung yang kebetulan menyediakan tempat untuk kita berhenti sejenak.

Dan yang paling penting...

hari ini istri nggak perlu masak!

Hehehe...

Buat saya, ini juga salah satu bentuk kemewahan kecil.

Bukan soal mahal atau murah.

Tapi soal bisa duduk berdua, menikmati makanan, ngobrol ngalor-ngidul, dan sesekali melihat suasana sekitar.

Hidangan kampung memang punya cerita sendiri

Kami menikmati hidangan kampung yang sederhana tapi asyik.

Mungkin bagi sebagian orang makanan seperti ini biasa saja.

Tapi buat saya, justru makanan kampung seperti ini punya sensasi tersendiri.

Apalagi kalau makannya di tempat yang suasananya mendukung.

Nggak perlu buru-buru.

Nggak perlu mengejar waktu.

Duduk...

Makan...

Ngobrol...

Lalu melihat suasana sekitar.

Slow living versi kami.

Sayangnya pagi itu ada satu yang kurang...

GORengan!

Nah, ini yang sebenarnya saya tunggu-tunggu.

Tapi ternyata karena kami datang bukan weekend, pilihan makanannya belum selengkap kalau akhir pekan.

Kata yang punya, kalau weekend biasanya paketnya lebih lengkap. Ada beberapa jenis makanan dan tentu saja gorengan juga ikut hadir.

Waduh...

Berarti kami salah hari nih!

Hehehe...

Tapi nggak apa-apa.

Justru ada alasan untuk datang lagi.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Masuk gratis, bayar yang memang digunakan

Satu hal yang cukup menyenangkan, untuk masuk ke kawasan Lembah Salak ini tidak dikenakan tiket masuk.

Jadi kita cukup membayar biaya yang memang digunakan, seperti parkir, mandi, atau kalau mau camping.

Menurut saya konsep seperti ini cukup menarik.

Mau datang sebentar untuk makan dan menikmati suasana, bisa.

Mau mandi setelah bermain air, ada biayanya.

Mau bermalam dan camping, juga tersedia.

Jadi tinggal disesuaikan dengan kebutuhan dan aktivitas kita.

Sarapan sederhana, tapi pagi terasa istimewa

Akhirnya pagi itu kami tidak sarapan di Saung APA.

Tidak juga mampir ke nasi uduk langganan.

Kami memilih sesuatu yang lebih sederhana:

pergi hanya sekitar 2 kilometer dari rumah, lalu duduk berdua menikmati suasana Lembah Salak.

Kadang memang tidak perlu pergi jauh untuk mencari kebahagiaan.

Tidak perlu keluar kota.

Tidak perlu menginap.

Tidak perlu membuat perjalanan panjang.

Cukup ajak istri keluar rumah, naik kendaraan, menikmati jalan sebentar, lalu makan bersama di tempat yang suasananya berbeda.

Dan ternyata...

sesederhana itu sudah cukup membuat pagi kami menyenangkan.

Apalagi setelah tinggal di Saung APA, rasanya kami semakin menikmati kehidupan yang pelan-pelan saja.

Bangun pagi.

Beribadah.

Ngopi.

Mengurus tanaman.

Sesekali jalan-jalan.

Dan kalau bosan makan di rumah...

kabur sebentar cari sarapan.

Hari ini tujuan kami Lembah Salak.

Besok?

Entahlah...

Yang penting jangan lupa menikmati hidup.

Karena pada akhirnya, yang sering kita kenang bukanlah seberapa mahal makanan yang kita makan...

tetapi dengan siapa kita menikmatinya, di mana tempatnya, dan cerita kecil apa yang terjadi di sepanjang perjalanan.

Dan pagi ini, ceritanya adalah...

"Sarapan cuma 2 kilometer dari Saung APA, tapi rasanya seperti sedang piknik berdua."

Hehehe...

Salam sehat selalu om bro.

Salam dari Saung APA, 620 MDPL.

Karena bahagia itu kadang cuma sejauh 2 kilometer dari rumah.

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9