Naura Muthia Indra
Naura Muthia Indra Mahasiswa

cat lovers and chocolates mania

Selanjutnya

Tutup

Video

Menatap Cerita di Balik Lensa dan Kata: Belajar Memaknai Foto Jurnalistik

22 Oktober 2026   19:34 Diperbarui: 22 Oktober 2026   19:34 163 0 0

Dudi Sugandi, M.I.Kom., menyampaikan materi
Dudi Sugandi, M.I.Kom., menyampaikan materi "Foto Jurnalistik di Era Media Sosial: Menatap Cerita di Balik Lensa dan Kata" di Auditorium Lantai 3 Bandung Creative Hub, Sabtu (17/10/2026). Dokumentasi pribadi.

Sebuah foto bisa terlihat sederhana ketika pertama kali dipandang. Namun, di balik sebuah gambar, ada sudut pandang, keputusan, dan cerita yang ingin disampaikan oleh orang yang mengabadikannya. Gagasan inilah yang menjadi salah satu pembahasan dalam talkshow Festival Jurnalistik 2026 bertajuk "Foto Jurnalistik di Era Media Sosial: Menatap Cerita di Balik Lensa dan Kata" di Bandung Creative Hub, Sabtu, 17 Oktober 2026.

Bertempat di Auditorium Lantai 3 Bandung Creative Hub, kegiatan ini menghadirkan Dudi Sugandi, M.I.Kom., sebagai pemateri. Talkshow tersebut menjadi bagian dari Festival Jurnalistik Aksara Rupa Pancarona yang diselenggarakan oleh Pers Birama. Melalui kegiatan ini, peserta diajak melihat fotografi dan jurnalistik bukan sekadar aktivitas menghasilkan gambar atau tulisan, melainkan cara untuk menyampaikan makna kepada masyarakat.

Foto Bukan Sekadar Gambar

Dalam pemaparannya, Dudi Sugandi membahas perubahan konsumsi berita visual di era digital. Media sosial telah menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk menemukan dan membagikan informasi. Dalam situasi tersebut, foto memiliki peran penting karena dapat menarik perhatian sekaligus membantu menyampaikan konteks sebuah peristiwa.

Materi yang disampaikan juga menyoroti bagaimana format visual perlu disesuaikan dengan platform publikasi. Foto persegi, potret, lanskap, hingga galeri memiliki kegunaan masing-masing. Pemilihan format bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana sebuah peristiwa ditampilkan dan dipahami oleh audiens.

Di tengah kebiasaan masyarakat mengakses informasi melalui layar ponsel, foto jurnalistik dituntut untuk menyampaikan pesan secara efektif. Meski demikian, menarik perhatian tidak seharusnya menjadi satu-satunya tujuan. Sebuah foto tetap perlu memiliki konteks dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.

Hal tersebut berkaitan dengan pemahaman bahwa foto bukan sekadar kumpulan warna, objek, atau komposisi visual. Sebuah gambar dapat memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang, bergantung pada sudut pandang fotografer maupun pengalaman orang yang melihatnya.

Pandangan ini juga dirasakan oleh Candra, salah satu peserta talkshow dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM). Baginya, salah satu hal menarik dari materi yang disampaikan adalah pemahaman bahwa setiap foto memiliki cerita tersendiri.

Candra menilai sebuah foto mempunyai "jiwa", "napas", dan "nyawa", bukan hanya sekadar gambar berwarna ataupun hitam putih. Setelah mengikuti talkshow, ia merasa terdorong untuk melihat foto melalui berbagai perspektif agar dapat memahami pesan yang ingin disampaikan oleh fotografernya.

Ketika Media Sosial Membawa Tantangan

Perkembangan teknologi turut membawa tantangan bagi dunia foto jurnalistik. Kemudahan mengambil dan menyebarkan gambar membuat informasi visual dapat beredar dengan cepat. Namun, kecepatan tersebut juga membuka peluang bagi beredarnya foto palsu atau gambar yang kehilangan konteks aslinya.

Dalam materi talkshow, persoalan keselamatan fotografer juga menjadi perhatian. Fotografer yang meliput konflik, demonstrasi, maupun isu sensitif dapat menghadapi ancaman fisik dan digital. Identitas yang mudah dilacak, penyebaran data pribadi tanpa izin, serta pelecehan di ruang digital menjadi risiko yang perlu diperhatikan.

Karena itu, keselamatan tidak berhenti ketika fotografer meninggalkan lokasi peliputan. Keamanan digital juga perlu menjadi bagian dari proses kerja jurnalistik. Menunda unggahan lokasi secara langsung ketika situasi berbahaya, memperhatikan metadata foto, dan menjaga keamanan komunikasi merupakan beberapa langkah yang dibahas dalam materi.

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan fotografi tidak cukup hanya diukur dari hasil gambar yang menarik. Pemahaman mengenai etika, konteks, dan keamanan juga dibutuhkan agar sebuah karya dapat dipublikasikan secara bertanggung jawab.

Arap, peserta talkshow dari UNIKOM, turut menyoroti relevansi perkembangan teknologi dalam pembahasan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa materi mengenai kecerdasan buatan atau artificial intelligence menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatiannya karena berkaitan dengan perkembangan zaman.

Menurut Arap, kegiatan ini memberinya wawasan baru mengenai teknik jurnalistik dan cerita di balik foto. Ia juga berharap Festival Jurnalistik Aksara Rupa Pancarona dapat diselenggarakan dengan lebih baik pada tahun-tahun berikutnya.

Warna-Warni yang Menyatukan Cerita

Di balik materi yang dibahas, Aksara Rupa Pancarona memiliki konsep yang berangkat dari keberagaman warna dan perspektif dalam fotografi maupun jurnalistik. Hal tersebut dijelaskan oleh Iqbal, Ketua Pelaksana Festival Jurnalistik Aksara Rupa Pancarona.

Menurut Iqbal, kata Pancarona dipilih karena memiliki arti berwarna-warni. Tema tersebut menjadi gambaran keinginan panitia untuk menyatukan beragam persoalan dan sudut pandang yang hadir melalui fotografi serta penulisan jurnalistik.

Sementara itu, slogan "Menatap Cerita di Balik Lensa dan Kata" mengajak pengunjung untuk tidak berhenti pada tampilan luar sebuah karya. Ada maksud yang ingin disampaikan pembuatnya, ada pengalaman yang melatarbelakanginya, dan ada kemungkinan makna berbeda ketika karya tersebut dilihat oleh orang lain.

Wawancara dengan Iqbal selaku Ketua Pelaksana Festival Jurnalistik Aksara Rupa Pancarona untuk menggali makna tema dan tujuan penyelenggaraan festival. Dokumentasi pribadi.
Wawancara dengan Iqbal selaku Ketua Pelaksana Festival Jurnalistik Aksara Rupa Pancarona untuk menggali makna tema dan tujuan penyelenggaraan festival. Dokumentasi pribadi.

Bagi Iqbal, festival ini juga diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan berbagai hal yang terjadi di masyarakat melalui karya fotografi dan artikel. Ia berharap kegiatan tersebut dapat kembali diselenggarakan dengan inovasi dan perubahan yang membuatnya semakin menarik.

Candra pun memberikan kesan positif terhadap kegiatan ini. Ia menilai talkshow tersebut menarik dan membangun, sekaligus membuka kesempatan untuk memperoleh wawasan serta relasi baru. Ia berharap penyelenggaraan berikutnya dapat dikembangkan secara konsisten dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

Cerita yang Tidak Berhenti pada Satu Bingkai

Talkshow Aksara Rupa Pancarona memperlihatkan bahwa fotografi jurnalistik memiliki ruang pembahasan yang lebih luas daripada sekadar teknik mengambil gambar. Di tengah derasnya arus informasi digital, sebuah foto perlu menyampaikan cerita, mempertahankan konteks, dan memperhatikan tanggung jawab di balik proses publikasinya.

Melalui materi yang disampaikan Dudi Sugandi serta pengalaman yang dibagikan para peserta, pengunjung diajak memandang foto dari sudut yang lebih dalam. Sebab, gambar yang terlihat sesaat di layar bisa menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada apa yang tampak di dalam bingkainya.

Pada akhirnya, menatap cerita di balik lensa dan kata berarti belajar memahami bahwa setiap karya memiliki pesan. Tugas kita bukan hanya melihatnya, melainkan juga mencoba memahami cerita yang ingin disampaikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3