Sebagai blogger, saya sering melihat kejadian politik dari sudut yang sederhana. Saya membayangkan Indonesia seperti sebuah sekolah besar. Di sekolah, anak seorang kepala sekolah tidak otomatis menjadi siswa terbaik. Anak seorang guru juga tidak otomatis mendapatkan nilai sepuluh.
Ia tetap harus belajar. Ia tetap harus mengerjakan tugas. Ia tetap harus mengikuti ujian. Begitu pula dalam politik.
Anak seorang tokoh besar tentu boleh terjun ke dunia politik. Cucu seorang presiden juga memiliki hak yang sama. Istri seorang pejabat boleh mencalonkan diri. Saudara seorang menteri juga boleh berpolitik.
Tidak ada yang salah dengan hubungan keluarga. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah sistem memberikan kesempatan yang adil kepada mereka yang tidak mempunyai nama besar.
Inilah titik pentingnya.
Bayangkan ada seorang anak muda dari daerah terpencil. Ia cerdas, memiliki integritas, rajin bekerja, memahami persoalan rakyat, tetapi tidak mempunyai ayah seorang pejabat, tidak mempunyai keluarga konglomerat, dan tidak memiliki jaringan politik yang kuat.
Di sisi lain, ada seseorang yang lahir dalam keluarga politik terkenal. Sejak kecil ia sudah mengenal para tokoh, memiliki akses, jaringan, dan popularitas.
Apakah keduanya memulai perlombaan dari garis start yang sama? Jawabannya tentu tidak selalu. Namun demokrasi memiliki mekanisme penting: rakyat memilih.
Karena itu saya tidak ingin terburu-buru mengatakan bahwa semua politik dinasti itu buruk. Bisa saja seseorang berasal dari keluarga politik, tetapi ia memiliki kemampuan luar biasa dan benar-benar bekerja untuk rakyat.
Sebaliknya, seseorang yang bukan berasal dari keluarga politik juga belum tentu memiliki integritas. Jadi persoalannya bukan semata-mata "anak siapa?" Persoalan yang jauh lebih penting adalah "mampu melakukan apa?"
Inilah yang sering terlupakan dalam hiruk-pikuk politik.