Dari dunia pendidikan saya belajar satu hal yang sangat penting: setiap manusia membutuhkan kesempatan untuk membuktikan dirinya.
Karena itu, kalau politik dinasti terus tumbuh di Indonesia, masyarakat tidak perlu hanya marah. Masyarakat harus semakin cerdas.
Pelajari rekam jejak calon. Baca gagasannya. Lihat pekerjaannya. Periksa integritasnya. Jangan hanya memilih karena nama keluarga. Jangan pula menolak seseorang hanya karena ia berasal dari keluarga politik.
Nilailah dengan kepala dingin. Sebab demokrasi bukan lomba mencari keluarga siapa yang paling kuat. Demokrasi adalah proses mencari pemimpin yang mendapatkan kepercayaan rakyat.
Saya menutup tulisan ini dengan sebuah pertanyaan sederhana. Kalau nama keluarga bisa diwariskan, apakah kepercayaan rakyat juga bisa diwariskan? Menurut saya, tidak.
Kepercayaan harus diperjuangkan. Kepercayaan harus dibuktikan. Kepercayaan harus dijaga. Dan ketika kepercayaan itu hilang, sehebat apa pun nama keluarga, rakyat tetap memiliki hak untuk berkata: cukup. Itulah indahnya demokrasi.
Kekuasaan boleh berputar di antara nama-nama besar, tetapi keputusan terakhir tetap berada di tangan rakyat.
Sebagai guru, saya hanya berharap generasi muda Indonesia tidak takut bermimpi hanya karena mereka bukan bagian dari keluarga besar kekuasaan.
Jangan tunggu punya nama besar untuk membuat karya besar. Mulailah dari sekarang. Belajarlah. Bekerjalah. Menulislah. Berkaryalah. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa anak siapa.
Sejarah juga akan mencatat apa yang telah kita lakukan untuk bangsa ini. Dan saya akan terus menulis. Sebab bagi Omjay, tulisan adalah cara sederhana untuk melawan lupa.
Jabatan boleh berakhir. Kekuasaan boleh berganti. Dinasti boleh datang dan pergi. Tetapi jejak kebaikan yang ditulis dengan hati semoga tetap hidup lebih lama daripada kekuasaan itu sendiri.