Kita terlalu mudah terpesona oleh nama besar. Kita terkadang memilih karena popularitas. Kita mudah terpengaruh oleh media sosial. Kita bahkan bisa berdebat panjang hanya karena berbeda pilihan politik.
Padahal setelah pemilu selesai, kehidupan rakyat tetap berjalan. Harga kebutuhan pokok harus dibayar. Anak-anak harus sekolah. Guru harus mengajar. Petani harus bertani. Pedagang harus berdagang. Pekerja harus mencari nafkah.
Rakyat tidak membutuhkan dinasti yang hanya sibuk mempertahankan kekuasaan. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu menyelesaikan persoalan.
Saya kemudian teringat sejarah keluarga besar dalam politik Indonesia yang ditulis oleh Christianto Wibisono. Hubungan keluarga ternyata tidak selalu menjamin keharmonisan politik. Konflik kepentingan tetap dapat muncul. Perbedaan pandangan dapat membuat orang yang memiliki hubungan darah sekalipun berseberangan.
Dari sana saya mendapatkan pelajaran penting. Keluarga dapat mewariskan nama, tetapi tidak dapat menjamin keberhasilan.
Keluarga dapat memberikan pendidikan, jaringan, dan pengalaman. Tetapi pada akhirnya seseorang tetap harus membuktikan dirinya sendiri.
Itulah mengapa saya selalu mengatakan kepada siswa-siswa saya: jangan minder hanya karena berasal dari keluarga sederhana.
Jangan pernah berpikir bahwa masa depan hanya milik mereka yang memiliki nama besar. Dunia berubah. Teknologi berubah. Media sosial berubah. Cara manusia memperoleh pengaruh juga berubah.
Dahulu seseorang mungkin membutuhkan surat kabar dan televisi untuk dikenal. Sekarang seorang anak muda dapat membuat karya dari kamar tidurnya, membangun komunitas, menulis, membuat video, menciptakan teknologi, dan mendapatkan perhatian jutaan orang.
Pintu kesempatan semakin banyak. Tinggal apakah kita mau mengetuknya. Sebagai Omjay, guru blogger Indonesia, saya memilih mengetuk pintu itu melalui tulisan.
Saya tidak punya ambisi menjadi pejabat politik. Saya lebih senang menjadi guru yang terus belajar, menulis, berbagi, dan mendokumentasikan perjalanan hidup melalui blog serta buku.