Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Virus TBB, Tuli-Buta-Bisu, bukan sekadar metafora, melainkan diagnosis sosiologis sangat akurat untuk menggambarkan realitas masyarakat. Ketika bangsa dijangkiti TBB moral, daya tahan tubuh sosialnya runtuh, membuat Predator Child Grooming, dan semua kejahatan terhadap kemanusiaan lainnya, melenggang bebas tanpa hambatan.
Secara Filosofis TBB, Tuli-Buta-Bisu, bermakna: Tuli. Penolakan secara sadar ketika mengetahui, mendengar jeritan, keluhan, atau tangisan para korban ketidakadilan dan kekerasan di sekitar atau pada wilayah tertentu; melihat langsung, pemberitaan media, dan percakapan di area publik. Buta. Sikap menutup mata dan berpura-pura tidak melihat kebrutalan, penindasan, atau ancaman masa depan yang nyata terjadi di depan mata. Bisu. Memilih tetap diam, acuh, dan tidak bersuara ketika melihat ketimpangan moral atau kejahatan yang menimpa orang lain.
Dengan pemaknaan tersebut, TBB merupakan wabah Kolektif. Sikap masa bodoh yang terjadi masyarakat luas (kolektif), termasuk orang dewasa yang seharusnya menjadi pelindung. Serta Krisis Empati. Penderita TBB sebenarnya masih memiliki organ tubuh dan hati yang utuh, namun fungsi kemanusiaan, empati, dan simpati mereka telah hilang. Jika TBC merusak fisik dan paru-paru manusia, maka TBB menghancurkan tatanan moral, sosial, dan masa depan generasi penerus.
Wabah TBB, Tuli-Buta-Bisu, merupakan Penyakit Moral yang sangat akut; menyangkut perilaku sosial (seseorang dan kolektif) yang perhatian terhadap kemanusiaan telah mati. Penderita atau orang-orang yang menderita TBB sangat terlihat di area dan arena publik yang terbuka. Pada konteks dan sikon tersebut, yang terjadi antara lain,
TBB bukan sekadar masalah individual, melainkan pandemi sosiologis; Virus yang menyerang fungsi kemanusiaan, sehingga organ fisik dan hati manusia tetap utuh, namun fungsi empati dan respons moralnya telah mati.
Penderita TBB: Mati Pendengaran Sosial. Penolakan merespons jeritan atau aduan korban, baik yang terdengar langsung maupun melalui media. Mati Penglihatan Sosial, sengaja menutup mata dan berpura-pura tidak melihat kebrutalan atau ancaman nyata di depan mata. Mati Suara Sosial, memilih tetap diam, tidak bersuara, dan tak mengintervensi kejahatan demi kenyamanan pribadi.
Sia-sialah Anda menunjukkan diri sebagai orang baik-baik, jika Tuli Bisu Buta ketika melihat kejahatan. Jadi ingat seruan dari masa lalu, "Dengarkanlah, hai orang-orang tuli pandanglah dan lihatlah, hai orang-orang buta!"
Perhatikan! Ada yang salah? Ini adalah seruan agar orang-orang yang panca indranya sehat tapi tak berfungsi. Mungkin, Salah satunya adalah Anda; orang yang menderita kebebalan sebelum dilahirkan. Akhirnya, Anda, Saya, dan Semuanya, tertunduk malu ketika membaca seruan dari Abad 7 Sebelum Masehi ini,
Dengarkanlah, hai orang-orang tuli pandanglah!
Lihatlah, hai orang-orang buta!
Engkau melihat banyak, tapi tidak memperhatikan
Engkau memasang telinga, tapi tidak mendengar.
Orang seperti itu tidak mengetahui dan tak mengerti apa-apa, sebab matanya melekat dan tidak dapat melihat, serta hatinya tertutup sehingga tiada pernah memahami.
Opa Jappy | Pro Life Indonesia

