Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Parvum Iter Ad Introitum | Jalan Kecil Menuju Pintu Masuk. Bisa disebut bahwa belum ada bahasan utuh tentang Esai Digital, apalagi sesuai kriteria Opa Jappy (saya). Oleh sebab itu, sebagai penguat teoretis dan inspirasi dalam pengembangan konsep Esai 8Digital ini, menggunakan sejumlah referensi, antara lain
Adorno, Theodor W
Carr, Nicholas
Landow, George P.
Opa Jappy
Tuturan Awal
Hari Ini, Dunia Literasi dan Konstelasi Sastra sedang menghadapi persimpangan jalan yang krusial; simpang mempertahankan pakem dan cabang jalan adanya intervensi Teknologi Digital. Menyenangkan dan sekaligus "menyusahkan" pecinta sastra yang tua seperti saya; pertahanan pakem sastra (terutama narasi dan orasi manusia yang puitis) atau adaptasi seturut intervensi teknologi digital.
Betapa Tidak! Kemajuan teknologi informasi, digital, penetrasi media sosial, dan kehadiran Kecerdasan Buatan telah mendemokratisasi ruang ketik; semua orang kini bisa menjadi penulis. Namun, membawa ironi besar, terjadinya pendangkalan kognitif secara masif. Ruang digital didominasi oleh teks instan yang sensasional, potongan video pendek tanpa konteks, serta maraknya penggunaan Template Words, frasa klise dan otomatis yang disediakan oleh mesin atau tren algoritma.
"Semua Orang Bisa Menjadi Penulis," minimal mampu deskripsikan pikiran (yang terpenjara di kepala) ke papan ketik digital; itu adalah suatu kemajuan. Namun, di balik itu, ada semacam malapetaka yang mereka lakukan, yaitu "copy-paste verbal" atau pun publikasi langsung (tanpa edit dan memasukkan unsur nalar serta rasa manusia) dari hasil produk AI. Model "penulisan dan publikasi" justru melahirkan Kemiskinan Kognitif atau Cognitive Poverty serta artikel banjir redundansi dan tumpahan sampah Template Words. Akibatnya Masyarakat, dengan wawasan, modern mulai malas berpikir mendalam dan kehilangan otentisitas dalam berbahasa. Atau pun, membiarkan "Mesin berpikir untuk Saya! Pikiran saya fokus pada hal-hal lain."