Di Torobulu, debu turun seperti doa yang dipatahkan,
gunung dibelah, sunyi dipaksa bicara.
Rumah-rumah mengecil di hadapan mesin,
tanah yang ramah berubah menjadi ancaman.
Warga berdiri dengan suara serak,
menjaga hidup yang kian terdesak,
di sudut Laeya, luka mulai bernama tambang.
Tambak-tambak mengerang menahan racun,
air laut memerah coklat oleh lumpur.
Ikan-ikan mati sebelum sempat tumbuh,
udang hilang bersama harapan.
Hujan tak lagi berkat dari langit,
melainkan arus dari gunung yang membawa petaka,
menenggelamkan kerja dan doa para petani.
Yusuf Barung menghitung rugi dengan mata basah,
dua ratus lima puluh ribu bibit ditebar.
Yang pulang hanya lima belas kilogram,
Ini bukan panen, melainkan ironi.
Tangannya kapalan, hatinya patah,
“Kasihan kami,” katanya lirih,
“anak-anak mau makan apa hari ini?”
Katanya pembangunan harus maju,
tapi siapa yang ditinggalkan di belakang?
Kepentingan perusahaan berdiri angkuh,
di atas mata pencarian tradisional.
Tambak bukan sekadar kolam air,
ia adalah hidup yang diwariskan,
yang kini diperas hingga kering.
Di Kabaena, laut kehilangan birunya,
pesisir berubah menjadi tapak luka.
Di Kolaka, sawah menelan harapan,
padi gagal tumbuh, lumpur berkuasa.
Di Konawe Utara, hutan dibuka tanpa jeda,
banjir lumpur jadi tamu rutin,
setiap hujan membawa kisah duka.
Morowali berdengung oleh konflik,
mesin dan jerit buruh bersahutan.
Kecelakaan kerja jadi angka dingin,
nasib manusia sekadar catatan.
Smelter menjulang seperti menara kuasa,
sementara keselamatan jadi sisa,
yang mudah dilupakan demi produksi.
Di Maluku Utara, adat berdiri melawan,
Maba Sangaji menjaga tanah leluhur.
Sebelas warga justru dinyatakan bersalah,
karena menolak kehancuran alam.
Hukum berdiri terbalik wajahnya,
yang merusak dielu-elukan,
yang menjaga malah dihukum.
Nikel digadang sebagai masa depan,
tapi masa depan siapa yang diselamatkan?
Janji perbaikan menguap di udara,
tak menyentuh lumpur di kaki warga.
Jika tanah, laut, dan manusia terus dikorbankan,
maka kemajuan hanyalah nama lain,
dari ketidakadilan yang diwariskan.
Sumber: “Pertambangan Nikel dan Protes Warga” Kompas 3 Januari 2026, hlm. 18