Di dusun sunyi yang memeluk waktu,
seorang perempuan menakar hari dengan doa,
namanya bergaung pelan di antara napas renta,
Mufakhiroh merajut luka menjadi rumah bernama kasih,
ketika dunia sibuk menghitung untung,
ia memilih menghitung sisa usia yang dititipkan,
pada tubuh-tubuh yang dilupakan sejarah,
dan pada jiwa yang nyaris kehilangan nama.
Di selasar itu, langkah-langkah tertatih menjadi puisi,
tongkat kayu berbunyi seperti detak yang tersisa,
mukena putih mengalir menuju cahaya subuh,
sementara dapur mengasapi harapan sederhana,
piring-piring berisi nasi dan kasih tanpa harga,
tak ada kontrak, tak ada tender, tak ada proyek,
hanya cinta yang dimasak dengan kesabaran,
untuk mereka yang tak lagi punya alamat pulang.
Ia menyapa satu per satu seperti menyebut doa,
menghafal luka seperti menghafal denyut nadi,
dari diare hingga sunyi yang tak terdiagnosis,
ia dengarkan keluh seperti mendengar mazmur,
ia memberi obat seperti membagi harapan,
sementara dunia sibuk merawat citra,
ia merawat manusia tanpa kamera,
tanpa tepuk tangan yang bersuara keras.
Di bangsal itu, tubuh-tubuh rebah seperti daun gugur,
setengah dari mereka berbaring menunggu senja,
popok diganti dengan ketelatenan yang tak dibayar,
makan disuapi dengan cinta yang tak dicatat,
ada yang lupa nama, lupa dunia, lupa dirinya,
namun tidak lupa disentuh oleh tangan lembut,
yang percaya bahwa setiap jiwa tetap berharga,
meski ingatan telah pergi meninggalkan raga
Dari jalanan, kolong jembatan, hingga tepi hutan,
mereka dikumpulkan seperti serpihan harapan,
dibawa ke rumah yang tak menanyakan asal-usul,
karena kemanusiaan tak butuh kartu identitas,
di negeri yang sering meminta bukti administrasi,
ia membuka pintu tanpa syarat dan stempel,
seolah berkata: menjadi manusia sudah cukup,
untuk diterima tanpa syarat dan prasangka.
Dulu ia menolong kelahiran, kini ia menemani kematian,
dari tangis pertama hingga napas terakhir,
ia menjadi jembatan antara awal dan akhir,
menyaksikan hidup seperti lingkar yang utuh,
ketika yang lain mengejar jabatan dan pensiun,
ia justru melepaskan kenyamanan dunia,
demi mengabdi pada mereka yang ditinggalkan,
oleh sistem yang pandai menghitung tapi lupa merasa.
Di negeri yang gemar berpidato tentang kepedulian,
ia diam-diam menulis manifesto dengan tindakan,
tanpa baliho, tanpa slogan, tanpa kampanye,
ia mengajar arti keberpihakan yang sesungguhnya,
bahwa kesejahteraan bukan sekadar angka APBN,
melainkan tangan yang menyuapi yang tak berdaya,
dan hati yang tak lelah menampung kesedihan,
yang tak sempat masuk laporan statistik negara.
Wahai Mufakhiroh, engkau bukan sekadar nama,
engkau adalah jeda di tengah bising dunia,
engkau adalah doa yang menjelma perbuatan,
ketika banyak orang takut kehilangan harta,
engkau justru takut kehilangan makna,
dan di antara liang-liang sunyi yang kau rawat,
kau tanamkan satu keyakinan sederhana:
bahwa cinta, jika sungguh, tak pernah menua.
Sumber: “Mufakhiroh: Merawat Lansia Telantar” dalam Kompas, Senin, 26 Januari 2026, hlm. 16.