pieter sanga lewar
pieter sanga lewar Penulis

Hobi membaca dan menulis artikel, puisi, cerpen, novel, dan baca puisi

Selanjutnya

Tutup

Video

Jerat Sunyi di Balik Jubah

28 September 2026   11:12 Diperbarui: 28 September 2026   11:12 47 1 0


Jerat Sunyi di Balik Jubah

Di ruang-ruang yang tampak teduh dan suci,
anak-anak menitipkan mimpi pada tangan yang dihormati.
Namun ada serigala yang belajar berdoa dengan fasih,
menyembunyikan taring di balik senyum penuh wibawa,
sementara kepercayaan dijadikan pintu menuju luka.

Mula-mula bukan ancaman yang datang,
melainkan hadiah, pujian, dan perhatian yang hangat.
Korban diajari merasa istimewa, merasa dipilih,
hingga rantai itu tampak seperti kalung kasih sayang,
padahal perlahan mencekik kebebasan jiwanya.

Ketika tubuh mulai diperlakukan sebagai milik kuasa,
mulut korban berubah menjadi kamar yang terkunci.
Ia tahu ada yang salah, namun takut menamai gelap.
Setiap penolakan dipatahkan oleh rasa hormat yang dipaksa,
setiap tangis dibungkam oleh kata: "percayalah padaku."

Ironisnya, masyarakat gemar memuja panggung,
tetapi sering lupa mendengar suara dari bawah altar.
Kita lebih cepat membela gelar daripada luka,
lebih sibuk menjaga nama baik tembok-tembok megah,
daripada menyelamatkan hati yang remuk di dalamnya.

Lalu korban memberanikan diri berbicara,
namun yang datang bukan pelukan, melainkan curiga.
"Mengapa baru sekarang?" tanya dunia tanpa cermin.
Seakan luka harus memiliki jadwal yang disetujui khalayak,
agar penderitaan layak disebut kebenaran.

Di kantor hukum dan ruang pemeriksaan,
kisah pilu sering diukur dengan bekas yang kasatmata.
Padahal ada luka yang tak berdarah di kulit,
namun mengalir bertahun-tahun dalam ingatan,
mengikis harga diri hingga tinggal bayangannya.

Betapa tragis negeri yang mengajari anak berkata jujur,
namun ragu ketika mereka akhirnya bersuara.
Kita membangun pagar tinggi untuk rumah ibadah dan sekolah,
tetapi membiarkan nurani berlubang tanpa penjaga.
Di sanalah kejahatan tumbuh, dipelihara oleh diam.

Maka dengarkanlah sebelum tangis berubah menjadi abu.
Percayalah sebelum keberanian korban patah kembali.
Keadilan bukan sekadar pasal dan palu sidang,
melainkan keberpihakan pada mereka yang dirampas martabatnya,
agar tak ada lagi masa depan yang dikubur oleh jerat sunyi.

Sumber: ALISSA WAHID, "Manipulasi" dalam Kompas, Jumat, 5 Juni 2026, hlm. 1 dan 15.