Di negeri yang gemar berpidato tentang integritas,
korupsi tumbuh lebih subur daripada padi di sawah.
Spanduk antikorupsi berkibar di depan kantor,
sementara tangan-tangan rakus menghitung setoran di belakang meja.
Moral dipajang sebagai hiasan dinding yang berdebu.
Anak-anak menunggu makan bergizi di sekolah,
namun sebagian dana tersesat ke perut keserakahan.
Nasi yang seharusnya menguatkan tulang-tulang kecil,
berubah menjadi angka-angka gemuk dalam rekening rahasia.
Lapar rakyat dijadikan ladang panen para pemburu untung.
Di ruang izin dan stempel kekuasaan,
warga asing membeli waktu dengan uang ketakutan.
Pintu-pintu birokrasi tak lagi berbunyi "selamat datang",
melainkan berbisik lirih, "berapa yang kau bawa?"
Hukum pun tampak sibuk menawar harga dirinya.
Betapa aneh negeri ini,
para pejabat yang telah kenyang masih berebut remah.
Gunung emas belum cukup memuaskan dahaga mereka,
lautan uang pun terasa sekadar seteguk air.
Keserakahan menjelma agama baru yang tak mengenal puasa.
Mereka berkata korupsi adalah pelicin pembangunan,
seolah maling menjadi arsitek kemajuan bangsa.
Jalan rusak diperbaiki dengan pidato yang mulus,
sementara keadilan ditambal sulam dengan alasan-alasan usang.
Kebohongan berjalan tegak memakai jas kehormatan.
Reformasi pernah datang membawa sapu besar,
mengusir debu Orde Baru dari ruang republik.
Namun debu itu rupanya belajar menjadi asap,
masuk kembali lewat jendela yang dibiarkan terbuka.
Kini ia memenuhi paru-paru demokrasi yang sesak.
Rakyat menyaksikan berita demi berita,
nama tersangka berganti seperti musim yang berulang.
Hari ini kepala badan, esok wakil menteri,
lusa mungkin wajah lain yang sama rakusnya.
Korupsi seperti serial panjang yang tak pernah tamat episodenya.
Dan negeri terus berjalan dengan luka yang dipendam,
membangun monumen kejujuran di atas fondasi kemunafikan.
Di antara gemuruh janji dan tepuk tangan seremoni,
suara nurani terdengar makin lirih dari kejauhan.
Barangkali yang paling miskin di negeri ini bukan uang, melainkan rasa malu.
Sumber: "Negeri yang Tamak Korupsi" dalam Kompas, Sabtu, 6 Juni 2026, hlm. 13.