Mantan jurnalis; videografer Media Asing New Tang Dinasty Television (NTDTV). Blogger lifestyle, suka menulis isu lingkungan, seni budaya, traveling, kuliner dan fiksi. Kompasiana Next Top Content Creator 2024 || Peraih Brst in Fiction Kompasiana 2014. Tinggal di Bogor. IG @rachmatpy Tiktok @rachmat_py
Ini kuliner atau makanan tradisional yang sudah sulit dicari pembuatnya. Sudah langka. Bahkan di pasar tradisional belum tentu ada.
Namanya Pindang Wehus atau Pindang kambing. Orang sering menyebutnya Pindang saja.
Menilik namanya, orang sering salah tafsir dengan makanan berbahan dasar ikan. Pindang yang ini bukan dari ikan tapi dari hewan ternak "Wedhus" (Jawa) atau kambing.
Makanan khas kota kelahiranku, Wonogiri ini, sekarang hanya segelintir orang atau hitungan jari saja, yang masih bertahan membuat dan menjajakannya, Bersifat lokal saja.
Salah satu produsen Pindang yang populer adalah Mbok Sinem. Perempuan tua berusia hampir 80 tahun itu, bertahan membuat Pindang sebagai porofesi yang dilakukan sejak tahun 1985.
Nama Mbok Sinem dikenal terbatas dI kalangan pelangganya. Bukan hanya di Wonogiri namun juga kota lain di sekitarnya seperti Solo, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar. Nama yang menjadi "top mind" saat Pindang disebut.
Meski Pindang bikinannya gak sebanyak dulu, Mbok Sinem setia memasak jeroan, kikil, tulang, kaki dan kepala kambing menjadi makanan lezat legenaris nan menggoda.
Di tangan Mbok Sinem, "nyala api" kuliner khas Wonogiri itu, bertahan melawan redup. Bertahan melawan kepunahan.
Dari dalam dapur rumah limasan ala Jawa, Mbok Sinem menanti para pelangannya datang, penuh suka cita.
Saya bersemangat berburu Pindang ini di rumahnya, dusun Sambirejo, Ngadirojo Kidul, Wonogiri. Lokasi rumah sekitar 15 kilimeteter dari rumah orangtuaku di kampung. Makanan ini favoritku sejak masa kecil.
Berharap nyala api di dapur rimah Mbok Sinem, tak pernah padam untuk memasak makanan langka ini. Semoga bertahan eksis di antara gemerlap makanan terkini yang membuat orang berpaling.
Terima kasih kepada Mbok Sinem yang telah merawat Pindang untuk tetap bisa dinikmati oleh lidah-lidah penikmatnya. Mari turut menjaga kelestarian kuliner tradisional kita melalui langkah kecil, tetap menyukai dan menikmatinya.
Salam Kuliner.
BACA JUGA ARTIKEL Lengkap "PINDANG WEDHUS" = Kisah Mbah Sinem, Maestro Pindang Kambing, Kuliner Langka nan Legendaris
Instagram @rachmatpy