
Ada film yang membuat kita bukan hanya memikirkan apa yang diceritakan, tetapi juga bagaimana cerita tersebut disampaikan. Laut Bercerita adalah salah satunya.
Menurut saya, film ini memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu film Indonesia terbaik tahun ini. Ceritanya membawa persoalan yang masih relevan dengan keadaan Indonesia, mulai dari represi negara, otoritarianisme, penghilangan paksa, hingga perjuangan mempertahankan kebebasan berekspresi. Tema-tema tersebut memiliki kekuatan emosional sekaligus politis yang tidak bisa dianggap remeh.
Namun, sebuah cerita yang kuat tidak selalu menghasilkan film yang sama kuatnya. Di sinilah saya merasa Laut Bercerita masih memiliki sejumlah ruang untuk dieksplorasi, terutama dalam aspek penulisan dan penyutradaraan.
Bahasa visual dan persoalan komposisi gambar
Jika dilihat melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, elemen visual dalam film tidak sekadar berfungsi sebagai informasi, melainkan juga membawa makna konotatif yang membentuk persepsi penonton.
Hal ini terlihat dari penggunaan ukuran gambar dan komposisi yang cenderung sempit. Beberapa medium shot dan medium close-up terasa berada di antara dua ukuran gambar, dengan headroom yang terbatas serta ruang visual yang cukup terhimpit.
Saya memahami kemungkinan intensi penyutradaraan di balik keputusan tersebut. Komposisi semacam ini dapat membangun kesan claustrophobic, merepresentasikan tekanan psikologis, dan memperlihatkan bagaimana karakter seolah-olah terperangkap dalam situasi yang tidak memberikan ruang bagi mereka untuk bergerak bebas.
Dalam konteks tersebut, pendekatan visualnya cukup berhasil.
Namun, persoalan mulai terasa ketika film memperlihatkan kedekatan antara Laut dan Anjani. Perubahan ukuran gambar berlangsung terlalu cepat sehingga alur visual dan perkembangan kedekatan emosional keduanya terasa kurang memiliki ruang untuk tumbuh. Menurut saya, bahasa visual yang baik bukan hanya tentang memilih ukuran gambar yang memiliki makna, tetapi juga bagaimana perpindahan antargambar membentuk kontinuitas dan ritme penceritaan.
Karakter dan kontradiksi identitas
Persoalan lain yang cukup mengganggu saya terdapat pada adegan di atas rusun dan ketika para karakter berkumpul sambil minum-minum. Dialog serta akting dalam beberapa bagian tersebut terasa kurang natural dan sedikit dibuat-buat.
Ada satu hal yang cukup menarik perhatian saya, yaitu kontradiksi antara identitas politik para karakter dengan perilaku mereka dalam percakapan sehari-hari. Mereka digambarkan sebagai anak-anak muda yang memperjuangkan perubahan dan melawan rezim diktator, tetapi dalam interaksi informal justru memperlihatkan kecenderungan seksis.
Sebenarnya, saya tidak menganggap kontradiksi tersebut sebagai sesuatu yang keliru. Seseorang bisa memiliki kesadaran politik yang progresif, tetapi masih membawa bias sosial yang konservatif. Bahkan, pertentangan semacam ini berpotensi membuat karakter terasa lebih manusiawi.
Namun, film kurang memberikan respons dramatik terhadap perilaku tersebut. Menurut saya, seharusnya ada satu karakter di antara mereka yang menetralkan percakapan itu. Bukan untuk menjadikannya representasi moral yang sempurna, melainkan untuk memperlihatkan perbedaan perspektif dan membangun dinamika kelompok yang lebih organik.
Detail teknis yang mengganggu imersi
Dari sisi tata suara, terdapat beberapa ketidakkonsistenan yang cukup mengganggu pengalaman menonton. Salah satunya adalah suara langkah kaki pada adegan pembuka yang terdengar sangat keras, seperti seseorang yang mengenakan sepatu, padahal karakter tersebut berjalan tanpa alas kaki.
Saya juga beberapa kali menemukan perbedaan level audio antara master shot dan cover shot. Dalam beberapa kesempatan, suara pada master shot justru terdengar lebih keras dibandingkan cover shot.
Mungkin terdengar seperti persoalan teknis yang kecil, tetapi kontinuitas suara merupakan bagian penting dalam membangun realitas sinematik. Ketika informasi auditori tidak selaras dengan visual, perhatian penonton dapat teralihkan dari peristiwa yang sedang berlangsung.
Keputusan penceritaan yang patut diapresiasi
Di balik beberapa kekurangan tersebut, ada keputusan penyutradaraan dan penulisan yang menurut saya sangat berhasil.
Saya menyukai keputusan menempatkan adegan penculikan Laut di rusun sebagai pembuka film. Secara dramaturgis, adegan ini berfungsi sebagai hook yang efektif. Penonton langsung diperkenalkan pada sebuah peristiwa yang memunculkan pertanyaan, tanpa harus terlebih dahulu memahami seluruh konteks ceritanya.
Kemudian, ketika film memasuki babak berikutnya dan kembali memberikan konteks terhadap adegan pembuka, penonton memperoleh pemahaman yang berbeda terhadap peristiwa tersebut. Ini merupakan penggunaan callback yang tepat, bukan sekadar pengulangan adegan, tetapi juga perubahan perspektif terhadap informasi yang sebelumnya telah diberikan.
Saya juga menyukai pencahayaan dalam rangkaian adegan tersebut. Selain itu, music scoring menjadi salah satu elemen terkuat film ini. Musiknya mampu memperkuat atmosfer dan emosi tanpa kehilangan karakteristiknya sendiri. Bahkan, setelah film selesai, saya langsung mendengarkan kembali musiknya.
Kepulangan tidak selalu berarti pemulihan
Bagian akhir film sebenarnya memiliki gagasan emosional yang kuat, tetapi menurut saya masih terdapat persoalan dalam kontinuitas emosi antarkarakter.
Ekspresi beberapa karakter terasa terlalu cepat beralih menuju kebahagiaan, seolah-olah pengalaman perjuangan dan kehilangan sebelumnya dapat ditinggalkan begitu saja. Sebaliknya, ibu, adik, dan kekasih Laut justru berhasil mempertahankan ekspresi kehilangan dengan lebih meyakinkan.
Di sinilah saya merasa film seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap konsekuensi emosional dari peristiwa yang telah dibangun sejak awal. Kehilangan bukan sesuatu yang dapat diselesaikan hanya dengan perubahan keadaan. Ada trauma, waktu, dan kehidupan yang tidak mungkin dikembalikan.
Transisi dari kedatangan Alex ke rumah Laut menuju pameran foto juga terasa terlalu cepat. Penonton membutuhkan sedikit ruang dramatik untuk memproses perubahan suasana tersebut sebelum memasuki bagian penutup.
Menurut saya, ending akan terasa lebih kuat apabila film mempertahankan dua emosi sekaligus: kebahagiaan atas sesuatu yang akhirnya ditemukan dan kesedihan atas segala sesuatu yang telanjur hilang.
Potensi yang belum sepenuhnya terealisasi
Pada akhirnya, Laut Bercerita merupakan film dengan fondasi cerita yang kuat dan relevansi sosial yang besar. Film ini memiliki sejumlah keputusan penceritaan yang efektif, sinematografi yang menarik pada beberapa bagian, serta music scoring yang sangat membekas.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diimbangi oleh kematangan eksekusi, terutama dalam penulisan karakter, kontinuitas visual, penyutradaraan aktor, dan detail teknis.
Saya tidak menganggap film ini gagal. Justru sebaliknya, sejumlah kekurangannya membuat saya semakin menyadari betapa besar potensi yang sebenarnya dimiliki film ini.
Melalui cerita tentang penghilangan paksa, film ini mengingatkan bahwa kehilangan seseorang bukan hanya persoalan hilangnya satu individu, melainkan juga kehidupan, ingatan, dan masa depan yang dirampas dari orang-orang yang ditinggalkan.
Sebab, seseorang mungkin telah kembali, tetapi tidak semua hal yang hilang dapat dipulihkan.