Mencari keindahan dalam kesederhanaan, tapi tak pernah ragu melangkah ke pengalaman baru

Semua orang ngomongin Darso. Semua orang ngomongin gore nya, ngomongin Joker-nya, ngomongin semesta Qodrat-nya tetapi nyaris nggak ada yang ngomongin satu hal yang menurut gue justru paling bikin film ini luar biasa ini yaitu Badut Gendong adalah surat cinta untuk kesenian Jawa yang hampir nggak ada yang tahu. Waktu orang denger "film boneka horor Indonesia", pikiran langsung melompat ke Chucky atau Annabelle, boneka Barat dengan ruh jahat yang acak. Para pembuat film sendiri menyatakan bahwa Badut Gendong sama sekali tidak bisa disamakan dengan karakter boneka horor populer seperti Chucky atau Annabelle.
Lalu dari mana asalnya? Charles Gozali ternyata sangat terpikat dengan estetika serta makna filosofis di balik tradisi ledek gogek yang ditemukan di kawasan Sleman. Ketertarikan itulah yang kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi sebuah konsep horor utuh dan yang lebih mengejutkan ide awal pembuatan Badut Gendong muncul dari diskusi tim kreatif beberapa tahun silam, mulai digodok setelah mereka menyelesaikan proyek film tentang legenda musik Didi Kempot sekitar tahun 2021. Jadi ini bukan proyek dadakan spin off komersial. Ini sudah dipikirkan bertahun-tahun, tertanam dari kecintaan pada budaya lokal yang di dalamnya.
Ledek Gogek adalah kesenian yang melibatkan seorang penari yang mengikat sebuah boneka menyerupai manusia di bagian depan tubuhnya. Efek visual dari ikatan ini memunculkan ilusi optik yang unik, di mana sang penari terlihat seolah-olah sedang digendong oleh boneka tersebut saat bergerak maju-mundur. Coba bayangkan kesenian ini pada dasarnya adalah seni menipu mata lo nonton pertunjukan, dan otak lo bingung siapa yang menggendong siapa? Nah, Charles Gozali mengambil ambiguitas visual itu dan mengubahnya menjadi ambiguitas eksistensial siapa yang mengendalikan siapa? Darso yang menggendong badut, atau badut yang mengendalikan Darso? Jenius ini 100% lahir dari kearifan lokal, bukan dari referensi Hollywood.
Jika boneka lain seperti Chucky dan Annabelle biasanya hanya berisi satu ruh jahat, Badut Gendong melibatkan interaksi dua entitas yang berbeda, dengan berputarnya spiritual dan psikologis yang sangat rumit antara karakter Darso dan sosok Badut Gendong yang ia bawa. Ini bukan sekadar "boneka dirasuki setan". Ini tentang dua jiwa yang ikatan satu yang bersumpah, satu yang membalas dendam dan kita tidak selalu bisa bedain mana yang mana. Tingkat psikologis horor dewa yang tidak banyak film Indonesia berani masuk ke sana.
Film ini memuat isu-isu sosial seperti kemiskinan, konflik agraria, hingga pejabat daerah yang lebih memihak pada perusahaan dibandingkan warganya, ke dalam cerita dan itu bukan sekadar latar belakang. Konflik itulah yang memicu ritual, yang memicu kutukan, yang memicu segalanya. Karakter Darso yang terlalu pasif membuat penonton sulit terhubung secara emosional. Ketika ia menemukan rahasia kelam dari badut gendongnya, ia berusaha mencari tahu atau mencegah dengan taktiknya. Di titik ini, film kehilangan sedikit napasnya. Justru itu yang bikin gue makin penasaran sama pertemuannya dengan Ustaz Qodrat nanti. Setelah trilogi Qodrat, Kodrat akan menghadapi lawan yang tidak hitam putih lawan yang sangat abu-abu dan memiliki latar belakang yang bahkan mirip dengan dirinya dan kalau Darso terlalu pasif sekarang, bayangkan betapa mengerikannya kalau dia akhirnya meledak.