Pendidikan SD hingga SMA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kuliah D3 IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang UNY) dilanjutkan ke Universitas Terbuka (S1). Bekerja sebagai guru SMA (1987-2004), Kepsek (2004-2017), Pengawas Sekolah jenjang SMP (2017- 2024), dan pensiun PNS sejak 1 Februari 2024.

Sebelum menyaksikan video yang disertakan dalam tulisan sederhana ini, alangkah lebih baik membaca prosesi sebelumnya yang sudah ditayangkan:
1. https://video.kompasiana.com/suprihadi/kembar-mayang-disiapkan-untuk-acara-tradisi-temu-pengantin-jawa
2. https://video.kompasiana.com/suprihadi/pengantin-wanita-berdiri-menunggu-pengantin-pria-datang
3. https://video.kompasiana.com/suprihadi/acara-temu-pengantin-adat-jawa-yang-praktis
Pada hari Sabtu (10/1/2026) dilangsungkan acara tradisi pengantin Jawa yang praktis. Prosesi upacara tradisi itu hanya memerlukan waktu sekitar dua puluh menit.
Alhamdulillah, saya berkesempatan merekam tahap demi tahap prosesi upacara yang dilaksanakan di lantai satu masjid Agung di kawasan Islamic Center Penajam Paser Utara.
Setelah prosesi melempar daun sirih, menginjak telur, mmebasuh telapak kaki, kedua mempelai dibawa oleh ayah Risya, menuju panggung atau tempat duduk untuk pengantin.
Ada selembar kain yang melingkupi punggung kedua mempelai. Pada bagian ujung kain berwarna merah dan putih itu, dipegang oleh Pak Syafii, ayah Risya.
Sementara itu empat kembar mayang mengiringi mempelai. Pembawa kembar mayang adalah dua remaja laki-laki dan dua remaja perempuan.
Ditengarai salah satu remaja perempuan yang membawa kembar mayang tersebut adalah teman sekolah Risya. Istri saya sempat berbincang-bincang dengan putri Hajah Yuli tersebut. Yuli adalah suami dari Haji Sodikin.
Dalam acara resepsi pernikahan putri pertama Pak Syafii itu, ada tamu terhormat, yaitu rektor ITK Balikpapan, atasan sang pengantin pria, Priyo Wibisono, S.T., M.T. Sang pengantin pria merupakan salah satu dosen di ITK Balikpapan.
Tentu saja sang rektor datang bersama dosen lain dan kemungkinan juga para mahasiswa ITK. Mengingat tamu undangan yang datang bersamaan cukup banyak, saya pribadi tidak leluasa untuk berjalan ke bagian depan atau dekat panggung.
Kehadiran pak rektor dan rombongan tidak sempat saya abadikan. Sementara itu, prosesi adat di atas panggung terus berjalan.
Pada saat prosesi upacara adat sedang berlangsung di atas panggung, saya justru melakukan aksi memotret teman-teman yang cukup saya kenal.
Hal itu saya lakukan karena kursi tempat duduk saya sudah ditempati tamu lain. Istri saya tidak mencegah tamu lain menduduki kursi yang saya tinggalkan. Saya meninggalkan kursi dalam rangka meliput atau merekam prosesi upacara adat yang cukup menarik itu.

Sekelompok teman kepala sekolah dan guru yang duduk melingkari sebuah meja bundar sempat saya abadikan. Mereka pasang aksi saat akan saya jepret. Hanya ada satu orang yang asyik menikmati hidangan. Lima kawan yang lain pasang wajah ceria.
Setelah memotret mereka, saya asegera menuju ke belakang. Saya ingin mengambil kudapan. Kue-kue basah disediakan di dekat makanan berat. Ada es krim yang saya ambil pula.
Setelah membawa kudapan di kedua tangan, saya bingung mencari tempat duduk. Kursi-kursi yang ada dipenuhi oleh para tamu. Kemudian, saya melihat ada kursi yang tidak diduduki orang. Kuris itu hanya dipakai untuk meletakkan minuman.
Dengan berbasa-basi, saya meminta kursi itu. Dengan kondisi memegang makanan kecil, mereka yang duduk di dekat kursi yang diisi minuman itu tentu akan maklum. Untuk makan perlu tempat duduk.
Segera saya pilih posisi yang nuyaman untum duduk. Satu per satu kue basah yang saya ambil segera saya nikmati, termasuk satu cup kecil es krim yang cukup dingin.

Pada saat menikmati kudapan itu, saya lihat ada Pak Marjani dan istrinya sedang mencari-cari tempat untuk duduk. Saya sempat mengabadikan keduanya dari belakang.
Pihak keluarga pengantin wanita, yaitu Maryumi (istri Pak Sutiman penjual susu kambing) mendekati keduanya dan mencarikan tempat untuk duduk mereka.

Saya melanjutkan menikmati kudapan yang belum habis. Sementara itu, semakin banyak tamu yang cukup saya kenal berdatangan. Mereka ada yang mendapatkan tempat duduk, dan ada yang masih berputar-putar mencari kuris yang ditinggalkan tamu sebelumnya.
Aula yang begitu luas ternyata tidak diisi meja dan kursi yang lebih banyak. Saya perhatikan masih banyak area yang dapat digunakan untuk menaruh meja dan kursi.
Harap dimaklumi, acara resepsi eprnikahan yang dilaksanakn itu adalah acara resepsi yang pertama bagi keluarga Pak Syafii dan Rida Dewi. Umumnya, acara pertama "mantu" memang demikian. Banyak tamu yang hadir dalam waktu bersamaan.

Pada saat duduk di belakang itu, saya sempat memotret aktivitas "petugas" kebersihan yang mengambil piring-piring kotor di meja para tamu yang sudah meninggalkan tempat resepsi.
Semengtara itu, prosesi di ats pangggung, di pelaminan masih berlangsung. Tradisi sungkeman dan sebagainya dilaksanakan di atas panggung tersebut. Kedua mempelai melakukan sungkem kepada kedua orang tua dan kedua mertuanya. Tradisi mohon doa restu tersebut merupakan salah satu prosesi yang sering mengharukan bagi pasangan pengantin.

Penajam Paser Utara, 11 Januari 2026