
Video: Menghaturkan Hormat dan Memohon Berkat
di Gereja Santa Teresa dari Kalkuta Cikarang
Oleh: Widodo
Sebuah video ilustrasi yang menampilkan momen cium tangan kepada Bapa Uskup Bandung di Gereja Santa Teresa dari Kalkuta Cikarang menyuguhkan lebih dari sekadar dokumentasi peristiwa. Video tersebut menjadi rekaman simbolik tentang iman, penghormatan, dan kerinduan umat akan berkat Allah yang disalurkan melalui gembala Gereja. Di tengah suasana gereja yang megah dan penuh makna sejarah, gestur sederhana itu berbicara dengan bahasa iman yang mendalam.
Mengenal Gereja Santa Teresa Cikarang
Gereja Santa Teresa di Cikarang secara resmi bernama Gereja Ibu Teresa, Paroki Cikarang. Gereja ini diresmikan pada 27 Agustus 2025, menandai berakhirnya penantian panjang umat Katolik Cikarang selama kurang lebih 20 tahun untuk memiliki rumah ibadah yang permanen. Sebelumnya, umat beribadah secara berpindah-pindah di berbagai lokasi sementara seperti Gedung Global dan Sekolah Trinitas.
Berlokasi di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (area Lippo Cikarang), gereja ini kini berstatus paroki definitif di bawah Keuskupan Agung Jakarta. Bangunan gereja dirancang menyerupai kemah Daud, melambangkan kehadiran Allah yang berdiam di tengah umat-Nya. Dengan kapasitas sekitar 1.800 hingga 2.328 kursi, gereja ini juga dilengkapi gedung karya pastoral dan pastoran.
Kehadiran Gereja Ibu Teresa Cikarang bukan hanya menjadi pusat peribadatan, tetapi juga simbol kerukunan dan toleransi di Kabupaten Bekasi. Gereja ini melayani lebih dari 12.000 jiwa umat Katolik, menjadi ruang perjumpaan iman, pendidikan, dan pelayanan sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Ignatius Kardinal Suharyo: Gembala Keuskupan Agung Jakarta dalam Semangat Persaudaraan
Bapa Keuskupan Agung Jakarta saat ini adalah Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo, seorang gembala Gereja Katolik yang dikenal dengan kesederhanaan, keteguhan iman, dan semangat persaudaraan lintas batas. Sejak diangkat menjadi Uskup Agung Jakarta pada tahun 2010, beliau memikul tanggung jawab menggembalakan umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Jakarta yang mencakup sebagian besar Jakarta, Bekasi, dan Tangerang.
Pada tahun 2019, Paus Fransiskus menganugerahkan kepercayaan besar kepada beliau dengan mengangkatnya sebagai Kardinal Gereja Katolik. Penunjukan ini tidak hanya menjadi kehormatan pribadi, tetapi juga peneguhan atas peran Gereja Katolik Indonesia di tengah Gereja universal. Dalam setiap karya pelayanannya, Kardinal Suharyo kerap menekankan pentingnya persaudaraan, kebangsaan, dan dialog, terutama di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dari Kardinal Julius Darmaatmadja, SJ, Kardinal Suharyo menghadirkan wajah Gereja yang terbuka, merangkul, dan berjalan bersama umat. Kehadirannya bukan sekadar sebagai pemimpin struktural, melainkan sebagai gembala yang menyertai, mengajak umat untuk menghidupi iman Katolik secara kontekstual, membumi, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Tradisi Cium Tangan: Tanda Hormat dan Iman
Tradisi cium tangan dalam Gereja Katolik bukanlah bentuk pengkultusan pribadi, melainkan ungkapan hormat kepada jabatan episkopal sebagai wakil Kristus Sang Gembala. Dalam video ilustrasi tersebut, momen cium tangan menjadi lambang kerendahan hati umat yang datang memohon berkat, sekaligus pengakuan iman akan karya Allah yang hadir melalui pelayanan Gereja.
Banyak umat melakukan cium tangan dengan intensi pribadi:
* Memohon berkat untuk karya dan kehidupan keluarga, agar rumah tangga tetap setia, rukun, dan berbuah dalam kasih.
* Memohon berkat untuk Ziarah Pengharapan, sebuah perjalanan iman yang menguatkan langkah di tengah tantangan hidup.
* Menghayati momen penutupan Porta Sancta, sebagai tanda berakhirnya suatu fase rohani dan kesiapan membuka lembaran baru dengan hati yang diperbarui.
Gestur sederhana itu menjadi doa tanpa kata, menyatukan harapan umat dengan berkat Allah yang dipercayai mengalir melalui tangan gembala Gereja.
Penutup
Video ilustrasi cium tangan dengan Bapa Uskup Keuskupan Agung Jakarta, di Gereja Santa Teresa dari Kalkuta Cikarang mengajak kita untuk kembali merenungkan makna iman yang diwujudkan dalam tindakan kecil namun sarat makna. Di gereja yang lahir dari perjuangan panjang umat, tradisi cium tangan menjadi simbol perjumpaan antara gembala dan kawanan, antara harapan manusia dan rahmat Allah.
Semoga melalui momen-momen iman seperti ini, Gereja terus menjadi rumah yang meneguhkan, menumbuhkan, dan mengutus umat untuk menghadirkan kasih Tuhan di tengah dunia.