Widodo Antonius
Widodo Antonius Guru

Hobi membaca menulis dan bermain musik

Selanjutnya

Tutup

Video

Banjir Minta Perhatian

3 Februari 2026   09:15 Diperbarui: 3 Februari 2026   06:38 115 9 1


Video: Banjir Minta Perhatian

Oleh: Widodo, S.Pd

Seperti anak berkebutuhan khusus yang datang bukan untuk dimarahi, tetapi untuk dipahami, begitulah banjir. Ia hadir seolah minta perhatian. Bukan sekali dua kali, tetapi berulang, dengan cara yang semakin "keras".

Dalam sebuah video singkat yang saya abadikan, banjir tampak merayap di jalan raya. Angkot berhenti mendadak. Motor mogok satu per satu. Mobil besar pun tak berdaya. Mogok tuh...

Suara mesin mati bercampur keluhan pengendara menjadi paduan bunyi yang menyadarkan kita: ada yang salah, dan ini bukan sekadar hujan.

Banjir Minta Perhatian

Banjir bukan sekadar air yang meluap. Ia adalah pesan.

Pesan dari sungai yang tersumbat.

Pesan dari selokan yang penuh sampah.

Pesan dari lingkungan yang kurang kita rawat.

Seperti anak yang tak didengar lalu menangis lebih keras, banjir pun "berteriak" melalui genangan, kemacetan, dan kerugian. Ia memaksa kita berhenti sejenak, memperhatikan, dan bertanya: apa yang telah kita abaikan?

Perhatian Khusus untuk Banjir

Perhatian tidak cukup dengan keluhan di media sosial.

Perhatian berarti tindakan nyata:

* Mengelola sampah dengan disiplin

* Menjaga saluran air tetap bersih

* Mengurangi kebiasaan membuang apa pun ke sungai

* Mengedukasi anak-anak sejak dini tentang cinta lingkungan

Di sekolah, banjir dapat menjadi ruang pembelajaran kontekstual. Murid belajar bahwa alam tidak pernah marah tanpa sebab. Alam hanya merespons perlakuan manusia.

Banjir dan Pembelajaran Hidup

Video banjir ini sederhana, tetapi pesannya dalam.

Ketika kendaraan mogok, kita belajar tentang batas kekuatan teknologi.

Ketika air menguasai jalan, kita belajar tentang pentingnya keseimbangan.

Dan ketika banjir datang berulang, kita diajak untuk lebih peka dan bertanggung jawab.

Banjir memang minta perhatian.

Pertanyaannya, apakah kita mau belajar dan berubah,

atau menunggu sampai ia datang lagi dengan "teriakan" yang lebih keras?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3