Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Diabetes Mengajari Saya Cara Bertahan Hidup dengan Lebih Sadar. Inilah kisah Omjay kali ini di kompasiana. Semoga kisah nyata ini bermanfaat buat pembaca kompasiana yang ingin sehat dan sembuh dari penyakit diabetes.
Saya tidak langsung percaya ketika dokter menyebut satu kata itu: diabetes. Bukan karena saya merasa sehat, tetapi karena saya merasa masih sanggup menjalani hidup seperti biasa. Padahal tubuh saya sudah lama memberi sinyal---lelah tanpa sebab, haus berlebihan, dan berat badan yang turun diam-diam. Saya hanya terlalu sibuk untuk mendengarkannya.
Bagi banyak orang, diabetes adalah penyakit. Bagi saya, ia datang sebagai peringatan keras. Ia menghentikan langkah saya sejenak, memaksa saya berhenti, lalu bertanya: selama ini, seberapa jujur saya pada tubuh sendiri? Sebagai guru, saya terbiasa menasihati orang lain. Namun kali ini, hidup menuntut saya belajar dari diri sendiri.
Tulisan ini bukan tentang keluhan, apalagi mencari simpati. Ini adalah catatan seorang manusia biasa yang pernah abai, lalu dipaksa sadar. Tentang bagaimana sebuah diagnosis yang menakutkan justru mengubah cara saya memandang hidup, dan bagaimana disiplin sederhana selama 90 hari perlahan membawa saya ke fase yang disebut dokter sebagai remisi. Orang menyebutnya remisi diabetes.
Ada satu hari ketika tubuh saya terasa asing.
Lelah, meski tidak melakukan apa-apa.
Haus, meski baru saja minum.
Dan anehnya, berat badan turun tanpa pernah saya rencanakan.
Saya tidak sedang menua terlalu cepat.
Saya sedang diberi tanda oleh tubuh sendiri.
Diagnosis dokter sederhana tapi menghentak: diabetes tipe 2.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya istilah medis.
Bagi saya, ini adalah alarm keras---bahkan mungkin teguran paling jujur yang pernah saya terima dalam hidup.
Saya Takut, Tapi Tidak Ingin Menyerah
Saya guru.
Saya terbiasa berdiri di depan kelas, memberi semangat, menguatkan murid-murid agar tidak takut menghadapi masa depan.
Namun hari itu, saya justru harus belajar menguatkan diri sendiri.
Takut? Tentu.
Bayangan komplikasi, obat seumur hidup, hingga cerita-cerita menakutkan tentang diabetes sempat singgah di kepala.
Tapi saya memilih satu keputusan penting: saya tidak boleh kalah oleh rasa takut.
Diabetes Membongkar Kebiasaan Saya Sendiri
Penyakit ini tidak datang tiba-tiba.
Ia tumbuh pelan-pelan, dari kebiasaan yang dulu saya anggap biasa:
makan terburu-buru,
kurang bergerak,
merasa sibuk tapi lupa menjaga diri.
Diabetes memaksa saya bercermin.
Dan jujur saja, yang saya lihat bukan penyakit---melainkan gaya hidup yang perlu diperbaiki.
Saya Tidak Mencari Keajaiban
Saya tidak mencari obat ajaib.
Saya tidak mengejar kesembuhan instan.
Yang saya lakukan justru sangat sederhana---bahkan mungkin terdengar membosankan:
mengurangi porsi makan,
berhenti berdamai dengan gula,
berjalan kaki setiap hari, walau hanya sebentar.
Tidak ekstrem.
Tidak heroik.
Tapi disiplin.
Dan dari situlah saya belajar satu hal penting: perubahan kecil yang dilakukan setiap hari jauh lebih kuat daripada niat besar yang hanya sesekali.
Tubuh Ini Ternyata Mau Diajak Berdamai
Hari demi hari berlalu.
Tubuh yang dulu terasa berat mulai lebih bersahabat.
Saya tidak lagi mudah lelah.
Pikiran terasa lebih jernih.
Bukan karena saya hebat,
tetapi karena saya akhirnya mau mendengarkan tubuh sendiri.
Setelah 90 hari menjalani pola hidup baru, hasil pemeriksaan menunjukkan sesuatu yang membuat saya terdiam cukup lama:
Bukan sembuh total.
Tapi cukup untuk mengatakan: usaha ini tidak sia-sia.
Diabetes Mengubah Cara Saya Memandang Hidup
Penyakit ini tidak hanya mengubah pola makan saya.
Ia mengubah cara saya memandang waktu, kesehatan, dan kesadaran hidup.
Saya belajar bahwa:
hidup bukan soal seberapa sibuk kita,
tapi seberapa peduli kita pada diri sendiri.
Saya belajar bahwa tubuh bukan mesin.
Ia bisa lelah, bisa marah, dan bisa rusak---jika terus diabaikan.
Untuk Anda yang Sedang Berjuang
Jika Anda membaca tulisan ini sambil menahan cemas karena diagnosis dokter, izinkan saya berkata dengan jujur:
Diabetes bukan akhir cerita.
Ia bisa menjadi awal hidup yang lebih sadar, lebih disiplin, dan lebih bermakna---jika kita mau berubah.
Catatan Kecil dari Seorang Guru
Sebagai guru, saya terbiasa mengingatkan murid agar menjaga masa depan mereka.
Hari ini, saya ingin mengingatkan sesama pembaca:
Jangan tunggu tubuh berteriak untuk mulai peduli.
Dengarkan ia sejak berbisik.
Jika tulisan ini sampai ke hati Anda, semoga bukan hanya dibaca---tetapi juga menggerakkan langkah kecil hari ini.
Karena hidup yang sehat tidak dibangun dalam satu hari, tetapi dipertahankan setiap hari.
Hari ini saya bisa menulis dengan tubuh yang lebih terkendali. Tapi saya sering bertanya dalam diam: mengapa saya baru belajar mendengarkan tubuh sendiri setelah ia hampir menyerah?
Barangkali karena kita, manusia, sering terlalu sibuk mengejar hidup, sampai lupa merawat kehidupan itu sendiri. Jika tulisan ini terasa menyesakkan di dada Anda, semoga bukan karena sedih ya melainkan karena tubuh Anda sedang berbisik, meminta untuk akhirnya didengarkan.
Buat anda yang mau buku digital 90 hari remisi diabetes dapat mengirimkan email ke wijayalabs@gmail.com dengan subyek remisi diabetes.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
