Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Sustainability Pilihan

Omjay Minta Reset Pendidikan Sekarang! Mengapa?

23 Februari 2026   09:52 Diperbarui: 23 Februari 2026   13:01 162 6 2

Omjay Guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay Guru blogger Indonesia/dokpri

RESET PENDIDIKAN SEKARANG! Anggaran Rp 769 Triliun, Tapi Anak SD Tak Punya Pulpen. Ada yang Salah dengan Arah Negeri Ini. Sudah waktunya melakukan RESET PENDIDIKAN: Saat Anggaran Fantastis Tak Menyentuh Hati yang Paling Membutuhkan. Omjay Minta Reset Pendidikan Sekarang! Mengapa?

Opini kisah Omjay untuk Kompasiana kali ini tentang tulisan Iman Zanatul Haeri di harian Kompas tentang "Reset Pendidikan" menampar kesadaran kita. Sebagai guru yang sudah puluhan tahun berada di ruang kelas, saya membaca tulisan itu bukan sekadar sebagai opini, tetapi sebagai cermin retak wajah pendidikan Indonesia hari ini. Anda bisa membacanya di sini.

reset pendidikan/kompas
reset pendidikan/kompas

Anggaran pendidikan tahun 2026 disebut-sebut tertinggi sepanjang sejarah: Rp 769,1 triliun. Angka yang fantastis. Angka yang seharusnya membawa harapan. Namun, seperti yang disampaikan Iman, ada satu hal yang luput dari gemerlap program dan pidato: kenyataan pahit pendidikan.

Saya Omjay terdiam ketika membaca kisah anak kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang bunuh diri karena tak mampu membeli pulpen dan buku tulis. Di saat yang sama, pemerintah meresmikan ratusan sekolah rakyat dan membagikan smartboard ke berbagai daerah. Di satu sisi, teknologi melesat. Di sisi lain, pulpen pun tak terbeli.

Di sinilah nurani kita diuji. Anggaran Besar, Arah yang Kabur di sebuah negeri.

Tidak ada guru yang menolak peningkatan anggaran pendidikan. Tidak ada pendidik yang alergi terhadap inovasi seperti smartboard atau sekolah afirmatif untuk anak miskin. Namun, ketika hampir sepertiga anggaran pendidikan dialihkan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), kita patut bertanya: apakah prioritas kita sudah tepat?

Pendidikan bukan sekadar soal memberi makan. Pendidikan adalah memastikan anak bisa belajar dengan layak. Pendidikan adalah memastikan guru mengajar dengan tenang. Pendidikan adalah memastikan buku, pulpen, dan ruang kelas tersedia sebelum layar sentuh dipasang di dinding.

Guru bisa kehilangan sertifikasi karena kekurangan jam mengajar. Guru honorer bisa kehilangan pekerjaan karena kontraknya tak diperpanjang. Namun, program besar bisa berjalan tanpa batasan jam dan tanpa evaluasi yang transparan.

Sebagai guru, hati saya pedih membaca kisah guru PPPK paruh waktu (PW) yang digaji Rp 300.000, Rp 500.000, bahkan hanya Rp 55.000 setelah dipotong BPJS. Bagaimana mungkin kita berbicara tentang transformasi pendidikan jika kesejahteraan guru justru mengalami degradasi?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4