Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Sustainability Pilihan

Omjay Minta Reset Pendidikan Sekarang! Mengapa?

23 Februari 2026   09:52 Diperbarui: 23 Februari 2026   13:01 169 6 2

Namun reset tidak cukup hanya melalui jalur hukum.

Reset juga harus terjadi dalam cara berpikir kita sebagai bangsa. Kita terlalu mudah terpukau pada angka triliunan dan peresmian seremonial. Kita jarang bertanya: apakah anak di pelosok sudah benar-benar bisa belajar dengan tenang?

Mengawasi RUU Sisdiknas

RUU Sisdiknas yang sedang digodok adalah momentum penting. Jika UU Guru dan Dosen masuk dalam kodifikasi, maka nasib guru akan sangat ditentukan di sana. Kita tidak boleh pasif.

Guru, dosen, orangtua, mahasiswa, dan masyarakat sipil harus terlibat. Jangan sampai regulasi besar lahir tanpa partisipasi bermakna dari mereka yang hidup di dalam sistem itu.

Saya Omjay percaya, pendidikan tidak boleh diserahkan sepenuhnya pada logika birokrasi. Pendidikan harus dijaga oleh nurani kolektif bangsa.

Buku terbaru Omjay/dokpri
Buku terbaru Omjay/dokpri

Perlawanan yang Mendidik

Iman menulis tentang "mendidik negara dengan perlawanan." Saya memaknainya bukan sebagai ajakan konfrontasi, melainkan sebagai ajakan untuk bersikap kritis, berani, dan berintegritas.

Sebagai guru blogger, saya Omjay percaya pada kekuatan tulisan. Media sosial bukan hanya tempat keluhan, tetapi ruang advokasi. Suara guru tidak boleh dibungkam oleh rasa takut atau rasa lelah.

Peran intelektual adalah menyuarakan kebenaran di hadapan kekuasaan. Itu bukan tindakan subversif. Itu adalah tanggung jawab moral. Pemerintah tidak membutuhkan pujian berlebihan. Pemerintah membutuhkan masukan jujur. Laporan yang terlalu manis justru menyesatkan pengambil kebijakan.

Antara Toilet Mewah dan Pulpen

Kalimat paling menyentak dalam tulisan itu adalah tentang "pesta kemewahan toilet guru di SMA Garuda" yang kontras dengan kegagalan menyediakan pulpen untuk anak SD di NTT.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4