Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah Omjay Melawan Lapar Mata dan Budaya Konsumtif yang Diam-Diam Menggerogoti Makna Puasa

25 Februari 2026   05:13 Diperbarui: 25 Februari 2026   05:13 198 7 4

kisah Omjay melawan lapar/chatgpt
kisah Omjay melawan lapar/chatgpt

Belajar Konsumsi Bijak dan Cukup di Bulan Ramadan: Kisah Omjay Menemukan Makna "Secukupnya". 

Ramadan Bukan Ajang Balas Dendam Saat Berbuka. 

Inilah Kisah Omjay Melawan Lapar Mata dan Budaya Konsumtif yang Diam-Diam Menggerogoti Makna Puasa. 

Ramadan sering berubah menjadi pesta konsumsi yang tak terasa. Lapar mata mengalahkan makna puasa, meja makan penuh, tetapi hati justru kosong. 

Melalui kisah Omjay, kita diajak belajar arti "cukup" yang sesungguhnya.

Kisah Omjay ini menjelaskan bahwa menahan diri bukan hanya soal tidak makan dan minum, melainkan juga mengendalikan keinginan. Dari daftar belanja yang sederhana hingga kebiasaan berbuka yang lebih bijak.

Ramadan menjadi sekolah kehidupan tentang syukur, keberkahan, dan kepedulian. Karena sejatinya, puasa bukan ajang balas dendam saat magrib tiba, melainkan latihan menjadi pribadi yang lebih sadar, hemat, dan bermakna.

Setiap Ramadan tiba, kita menahan lapar seharian. Namun anehnya, justru saat berbuka kita sering "membalas dendam" pada meja makan, seolah puasa adalah kompetisi mengalahkan rasa sabar dengan piring yang penuh sesak.

Ramadan selalu datang dengan dua wajah. Wajah pertama adalah wajah spiritual: masjid yang ramai, tilawah yang menggema, doa yang mengalir deras. 

Wajah kedua adalah wajah konsumtif: pusat perbelanjaan penuh, promo bertebaran, meja makan melimpah ruah. Di antara dua wajah itu, ada satu pelajaran penting yang sering terlupa: belajar konsumsi bijak dan cukup.

Kisah ini bermula dari pengalaman Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., yang akrab disapa Omjay. Beliau Guru Blogger Indonesia yang dikenal produktif menulis dan menginspirasi banyak guru di tanah air. 

Sebagai seorang pendidik, Omjay selalu percaya bahwa Ramadan bukan hanya bulan ibadah ritual, tetapi juga bulan pendidikan karakter, termasuk karakter dalam mengelola keinginan.

Suatu sore di bulan Ramadan, Omjay duduk di teras rumahnya setelah pulang mengajar. Di tangannya ada daftar belanja yang dibuat bersama keluarga. Omjay tersenyum kecil membaca isinya. 

Ada kolak pisang, es buah, gorengan, ayam bakar, rendang, puding, hingga aneka camilan kekinian yang viral di media sosial.

"Apakah kita benar-benar membutuhkan semua ini?" tanya Omjay lembut kepada keluarganya.

Pertanyaan itu sederhana, tetapi mengandung makna mendalam.

Sebagai guru Informatika, Omjay sering mengajarkan kepada murid-muridnya tentang literasi digital dan dampak sosial media. Ia tahu betul bagaimana algoritma bekerja. 

Saat Ramadan, lini masa media sosial penuh dengan konten makanan menggoda. Tanpa sadar, keinginan kita ikut meningkat. Padahal, rasa lapar sering kali memperdaya logika.

Omjay lalu mengajak keluarganya berdiskusi. Omjay mengingatkan bahwa hakikat puasa bukanlah "balas dendam" saat berbuka, melainkan melatih pengendalian diri. 

Omjay teringat sabda Rasulullah tentang makan sebelum kenyang dan berhenti sebelum terlalu kenyang. Filosofi itu sederhana, tetapi sulit dipraktikkan di tengah budaya konsumtif.

Malam itu, Omjay menulis di blog pribadinya. Omjay menuliskan refleksi tentang bagaimana Ramadan sering berubah menjadi festival konsumsi.

Omjay mengisahkan pengalamannya berbuka di Masjid Baitul Ilmi Labschool Jakarta beberapa tahun lalu. 

Menu yang disajikan sangat sederhana. Ada kurma, air putih, dan nasi kotak seadanya. Namun suasananya hangat, penuh syukur, dan jauh dari kesan berlebihan.

Dari pengalaman itu, Omjay belajar bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh banyaknya hidangan, tetapi oleh keberkahan dan kebersamaan.

Omjay lalu membuat kesepakatan keluarga: selama Ramadan, mereka akan menerapkan prinsip "cukup". 

Cukup artinya tidak berlebihan, tidak mubazir, dan tidak mengikuti semua keinginan sesaat. 

Menu berbuka dibuat sederhana dan terencana. Jika ingin mencoba makanan baru, cukup satu jenis, bukan semua yang sedang tren.

Omjay juga mengajak anak-anaknya menghitung pengeluaran Ramadan tahun sebelumnya. Mereka terkejut melihat angka yang cukup besar untuk belanja makanan berbuka. 

Dari situlah, Omjay menjelaskan konsep literasi finansial sederhana: setiap rupiah yang kita belanjakan mencerminkan nilai yang kita anut.

"Kalau kita ingin Ramadan penuh berkah, maka belanja kita juga harus berkah," ujar Omjay.

Sebagai guru, Omjay tidak berhenti di rumah. Ia membawa tema konsumsi bijak ke dalam kelas. 

Dalam pembelajaran proyek berbasis masalah, Omjay meminta siswa menganalisis fenomena food waste saat Ramadan. 

Banyak siswa mengaku sering menyisakan makanan berbuka. Mereka tergoda membeli banyak hal karena lapar mata.

Omjay lalu menantang mereka membuat kampanye digital bertema "Berbuka Secukupnya, Berbagi Seluasnya". 

Hasilnya sungguh luar biasa. Siswa membuat poster, video pendek, dan tulisan reflektif yang diunggah ke media sosial sekolah. 


Pesannya sederhana: lebih baik membeli secukupnya dan menyisihkan untuk sedekah, daripada membeli berlebihan lalu terbuang.

Di rumah, perubahan kecil mulai terasa. Meja makan tidak lagi penuh sesak, tetapi tetap cukup dan lezat. Tidak ada makanan yang terbuang. 

Sisa anggaran belanja dialihkan untuk berbagi kepada tetangga yang membutuhkan. Omjay merasakan kebahagiaan yang berbeda. Omjay merasa lebih tenang dan lebih bermakna.

Ramadan tahun itu menjadi titik balik bagi Omjay. Omjay menyadari bahwa konsumsi bijak bukan hanya soal hemat uang, tetapi soal mendidik jiwa. 

Dalam dunia yang terus mendorong kita untuk membeli lebih banyak, Ramadan mengajarkan kita untuk mampu menahan diri.

Omjay menuliskan satu kalimat yang kemudian viral di kalangan pembacanya: "Puasa bukan tentang menahan lapar seharian, tetapi tentang mengendalikan keinginan sepanjang kehidupan."

Bagi Omjay, konsumsi bijak juga berarti bijak dalam menggunakan energi, waktu, dan perhatian. 

Omjay mulai mengurangi waktu scrolling media sosial yang penuh iklan makanan, dan menggantinya dengan membaca serta menulis. 

Produktivitasnya justru meningkat. Omjay menyelesaikan beberapa draft buku dan artikel selama Ramadan karena fokusnya tidak lagi terpecah oleh euforia konsumsi.

Omjay pun menyadari bahwa cukup adalah kata yang sederhana, tetapi revolusioner. Dalam kata "cukup", ada rasa syukur. Dalam rasa syukur, ada ketenangan. Dan dalam ketenangan, ada keberkahan.

Di akhir Ramadan, Omjay dan keluarganya melakukan refleksi bersama. Mereka merasa lebih sehat, lebih hemat, dan lebih dekat satu sama lain. 

Tidak ada penyesalan karena tidak mengikuti semua tren kuliner. Justru ada kebanggaan karena mampu mengendalikan diri.

Kisah Omjay mengajarkan bahwa Ramadan adalah sekolah kehidupan. Di dalamnya, kita belajar mengelola lapar, mengelola emosi, dan mengelola konsumsi. 

Kita belajar bahwa keberlimpahan bukan diukur dari banyaknya yang kita miliki, tetapi dari sedikitnya yang kita butuhkan.


Belajar konsumsi bijak dan cukup di bulan Ramadan bukan sekadar wacana. Ia adalah praktik harian yang dimulai dari daftar belanja sederhana dan niat yang lurus. 

Dari meja makan yang tidak berlebihan, lahir hati yang lebih peka. Dari pengeluaran yang terkontrol, tumbuh kepedulian sosial.

Ramadan akan selalu datang setiap tahun. Namun, apakah kita akan tetap menjadi konsumen yang lapar mata, atau berubah menjadi insan yang bijak dan cukup?

Omjay telah memilih jalannya: menjalani Ramadan dengan kesadaran, kesederhanaan, dan kebermaknaan. Kini, pilihan itu ada di tangan kita. 

Pada akhirnya, Ramadan bukan tentang seberapa banyak yang kita santap saat berbuka, tetapi seberapa kuat kita menaklukkan diri sendiri dan karena dari sikap "cukup", lahir syukur; dari syukur, tumbuh berkah; dan dari berkah, hidup menjadi lebih bermakna.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Buku Omjay terbaru/chatgpt
Buku Omjay terbaru/chatgpt

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6