Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Ngabuburit Bukan Cuma Nunggu Adzan Maghrib

28 Februari 2026   05:10 Diperbarui: 28 Februari 2026   05:10 125 7 2

instagram kompasiana/kompasiana
instagram kompasiana/kompasiana

Ngabuburit yang Mengubah Makna: Dari Menunggu Adzan Menjadi Menunggu Inspirasi. 

"Ngabuburit Bukan Cuma Nunggu Adzan! Cara Omjay Ubah Sore Ramadan Jadi Ladang Karya dan Pahala"

Ramadan selalu punya cerita. Di setiap sudut kota, menjelang azan Magrib, orang-orang bergegas mencari takjil, memadati jalan, atau berkumpul bersama keluarga. Tradisi itu kita kenal dengan istilah ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa.

Namun, sesungguhnya ngabuburit bukan sekadar aktivitas menunggu. Ia adalah jeda. Dan dalam jeda itulah, sering lahir refleksi, makna, bahkan karya. Disitulah kreativitas kita diuji dengan berbagai kegiatan.


Banyak orang memanfaatkan ngabuburit dengan cara yang sederhana: duduk santai, berbincang, atau sekadar berselancar di media sosial. Tidak salah. Tetapi ada juga yang menjadikan waktu tersebut sebagai ruang produktif. Ruang untuk berpikir, menulis, dan berbagi inspirasi.

Salah satu sosok yang memaknai ngabuburit secara berbeda adalah Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, yang akrab disapa Omjay. Guru yang dikenal luas sebagai Guru Blogger Indonesia ini menjadikan sore Ramadan sebagai momentum menyalakan kembali semangat literasi.

Di tengah kesibukannya sebagai pendidik, Omjay tidak membiarkan waktu berlalu tanpa makna. Saat sebagian orang berburu takjil, Omjay membuka laptopnya. Ia menulis. Kadang tentang perjuangan guru, kadang tentang keresahan dunia pendidikan, kadang pula tentang kisah-kisah kecil yang menyentuh hati.

Bagi Omjay, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual. Menulis adalah ibadah. Menulis adalah bentuk syukur. Menulis adalah cara berbagi cahaya.

Ramadan menghadirkan suasana yang berbeda. Hati terasa lebih lembut. Pikiran lebih jernih. Emosi lebih terkendali. Dalam kondisi seperti itu, kata-kata sering mengalir lebih jujur. Itulah yang dirasakan Omjay ketika menulis di waktu ngabuburit.

Beberapa tulisannya bahkan lahir dari perenungan menjelang berbuka. Ada yang bermula dari pengalaman mengajar hari itu, ada yang terinspirasi dari percakapan dengan murid, ada pula yang muncul dari kegelisahan melihat nasib guru yang sering kurang dihargai.


Omjay pernah mengatakan bahwa tulisan yang lahir dari hati akan sampai ke hati. Dan memang benar, banyak pembacanya merasa terhubung secara emosional dengan tulisan-tulisannya. Bukan karena bahasanya rumit, tetapi karena kejujurannya terasa.

Ngabuburit bagi Omjay bukan sekadar mengisi waktu kosong. Ia menjadikannya sebagai ruang refleksi. Ia bertanya pada dirinya sendiri: "Apa yang sudah saya lakukan hari ini? Sudahkah saya memberi manfaat?" Pertanyaan itu sederhana, tetapi sangat mendalam.

Dalam dunia yang serba cepat ini, kita sering lupa berhenti sejenak untuk mengevaluasi diri. Ramadan memberikan kesempatan itu. Ngabuburit memberikan ruangnya.

Bagi para peserta lomba menulis Kompasiana, momen ngabuburit sesungguhnya bisa menjadi ladang ide yang luar biasa. Tidak perlu mencari cerita yang terlalu besar atau dramatis. Justru kisah-kisah kecil yang autentik sering kali lebih menyentuh.

Tuliskan kenangan masa kecil saat menunggu azan bersama keluarga. Ceritakan perjuangan orang tua menyiapkan hidangan sederhana namun penuh cinta. Bagikan pengalaman berbagi takjil di jalanan. Atau tuliskan inspirasi dari sosok guru yang tak pernah lelah mengabdi.

Inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk dari sosok seperti Omjay yang konsisten menulis di sela-sela kesibukannya. Ia membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukan alasan untuk berhenti berkarya.

Bayangkan jika setiap sore Ramadan kita meluangkan waktu 30 menit untuk menulis. Dalam 30 hari, kita bisa menghasilkan puluhan halaman. Dari puluhan halaman itu, mungkin lahir satu tulisan yang menggerakkan banyak hati.

Menulis saat ngabuburit juga melatih kedisiplinan. Kita belajar mengatur waktu. Kita belajar menahan diri dari distraksi. Kita belajar fokus pada makna.

Lebih dari itu, menulis adalah cara mengabadikan momen. Ramadan tahun ini tidak akan pernah kembali. Jika tidak ditulis, ia akan menjadi kenangan yang perlahan memudar. Tetapi jika dirangkai dalam kata-kata, ia akan hidup lebih lama.

Omjay sering mengingatkan bahwa literasi adalah fondasi peradaban. Jika guru rajin menulis, maka siswa akan terinspirasi membaca. Jika orang tua gemar berbagi cerita, maka anak-anak akan tumbuh dengan imajinasi yang kaya.

Ngabuburit bisa menjadi titik awal gerakan kecil itu. Gerakan menulis dari hati.

Tentu, tidak semua orang langsung merasa percaya diri untuk menulis. Banyak yang merasa tulisannya biasa saja. Tetapi sesungguhnya, setiap orang punya cerita unik. Setiap orang punya sudut pandang yang berbeda. Dan dunia membutuhkan keberagaman suara itu.

Jangan tunggu sempurna untuk mulai menulis. Mulailah, dan biarkan proses yang menyempurnakan.

Ramadan adalah bulan perubahan. Ia mengajarkan kita menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Mengganti waktu yang biasanya dihabiskan untuk hal remeh dengan aktivitas bermakna adalah bentuk perubahan yang nyata.

Jika hari ini Anda masih bingung mengisi waktu ngabuburit, cobalah duduk tenang. Ambil secarik kertas atau buka layar laptop. Tulis satu paragraf tentang apa yang Anda rasakan. Tulis tentang rasa syukur. Tulis tentang harapan. Tulis tentang kegelisahan.

Siapa tahu, dari satu paragraf itu lahir sebuah artikel yang memenangkan lomba. Siapa tahu, dari satu artikel itu lahir inspirasi bagi banyak orang.

Ngabuburit bukan sekadar menunggu azan Magrib. Ngabuburit adalah menunggu diri kita menjadi lebih baik. Menunggu hati kita lebih jernih. Menunggu karya kita memberi makna.

Seperti yang ditunjukkan Omjay, waktu yang singkat bisa menjadi sangat berarti jika diisi dengan niat yang tulus. Dari sore yang sederhana, bisa lahir tulisan yang luar biasa.

Maka, mari kita ubah cara pandang kita. Jangan hanya menunggu berbuka. Tunggu juga momen ketika inspirasi datang dan kita siap menyambutnya dengan pena.

Selamat menulis.
Selamat ngabuburit yang penuh makna.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri
Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4