Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Pepes Tahu Favorit Omjay

17 Maret 2026   19:08 Diperbarui: 17 Maret 2026   21:37 129 2 2

Omjay Makan Pepes Tahu/dokpri
Omjay Makan Pepes Tahu/dokpri

Pepes tahu buatan saya biasanya saya nikmati bersama nasi hangat. Tidak perlu lauk mewah. Kadang hanya ditambah sambal dan kerupuk. Tapi percayalah, rasanya sudah lebih dari cukup. Lembutnya tahu, gurihnya bumbu, dan aroma daun pisang yang meresap---semuanya berpadu menjadi harmoni yang menenangkan jiwa.

Sebagai seorang guru, saya sering merasa lelah. Bukan hanya fisik, tetapi juga batin. Kebijakan yang berubah-ubah, tuntutan administrasi, hingga harapan besar dari masyarakat seringkali menjadi beban tersendiri. Namun, di rumah, sepiring pepes tahu mampu menjadi "obat" sederhana.

Ia mengingatkan saya untuk kembali pada esensi. Bahwa hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa dalam kita mensyukuri apa yang ada.

Pepes tahu juga mengajarkan saya tentang kesehatan. Tidak digoreng, tidak penuh minyak, tetapi tetap lezat. Ini seperti pesan kehidupan: kita tidak harus berlebihan untuk bisa bahagia. Kesederhanaan justru seringkali membawa ketenangan.

Yang paling saya sukai, pepes tahu ini fleksibel. Kadang saya tambahkan jamur, kadang teri, bahkan sesekali ayam suwir. Seperti hidup, kita boleh berkreasi, beradaptasi, tetapi tetap menjaga nilai dasar yang kita pegang.

Di momen-momen tertentu, seperti bulan Ramadan atau menjelang Lebaran, pepes tahu selalu hadir di meja makan saya. Saat berbuka puasa, rasa hangatnya seperti memeluk hati yang seharian menahan lapar dan dahaga. Di situlah saya merasa... hidup ini indah, meski sederhana.

Bagi saya, pepes tahu bukan hanya makanan. Ia adalah saksi perjalanan hidup. Ia adalah pengingat akan cinta seorang ibu. Ia adalah teman setia di saat lelah melanda. Dan yang terpenting, ia adalah simbol bahwa kebahagiaan sejati tidak pernah jauh---ia ada di dapur kita sendiri.

Sebagai penutup, izinkan saya berbagi satu pesan sederhana. Jika hari ini terasa berat, jika hidup terasa melelahkan, cobalah pulang. Masuklah ke dapur. Buatlah sesuatu yang sederhana, seperti pepes tahu. Rasakan prosesnya. Nikmati aromanya. Dan saat Anda menyantapnya, mungkin Anda akan menemukan kembali sesuatu yang selama ini hilang: rasa syukur.

Sepiring Pepes Tahu mengajarkan kita satu hal sederhana: kebahagiaan tidak harus mahal, cukup hadir dari rasa syukur, kehangatan, dan cinta yang dimasak dari hati. Dan mungkin, di setiap suapan yang lembut itu, kita tidak hanya merasakan lezatnya makanan—tetapi juga menemukan kembali arti pulang yang sesungguhnya.

Karena pada akhirnya, hidup ini---seperti pepes tahu---tidak perlu mewah untuk bisa membahagiakan. Yang penting, dimasak dengan hati, disajikan dengan cinta, dan dinikmati dengan penuh rasa syukur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3