Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Pepes Tahu Favorit Omjay: Sederhana, Sehat, dan Penuh Kenangan yang Menghangatkan Jiwa. Inilah kisah Omjay kali ini di kompasiana tercinta. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana.
Ada banyak makanan lezat di dunia ini, tetapi tidak semuanya mampu menyentuh hati. Bagi saya, Pepes Tahu bukan sekadar hidangan rumahan biasa. Ia adalah cerita. Ia adalah kenangan. Ia adalah rasa cinta yang tersimpan dalam setiap bungkus daun pisang yang sederhana.

Sebagai seorang guru yang telah puluhan tahun mengabdi, hidup saya tidak pernah jauh dari kesederhanaan. Dari ruang kelas hingga meja makan di rumah, semuanya mengajarkan satu hal: kebahagiaan tidak selalu datang dari sesuatu yang mahal. Justru dari hal-hal sederhana, seperti sepiring nasi hangat dengan pepes tahu, hati ini bisa terasa begitu penuh.
Saya masih ingat betul, sejak kecil sudah akrab dengan olahan tahu. Ibu saya sering memasak pepes tahu di dapur sederhana kami. Saat itu, aroma daun pisang yang terkena uap panas kukusan selalu menjadi penanda bahwa makan siang akan segera tiba. Saya kecil duduk menunggu dengan sabar, mencium harum yang perlahan memenuhi rumah. Tidak ada hidangan mewah, tapi rasanya... sungguh luar biasa.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, kenangan itu tetap hidup. Bahkan, saya mencoba membuat versi pepes tahu sendiri. Sederhana, seperti ajaran hidup yang selalu saya pegang.
Tahu putih saya haluskan dengan tangan. Ada kepuasan tersendiri saat meremas tahu itu, seolah saya sedang meracik kenangan masa lalu. Lalu saya tambahkan telur, bawang merah, bawang putih, sedikit cabai, garam, dan gula. Tidak perlu bumbu yang rumit---karena yang penting adalah rasa yang tulus.
Yang tidak pernah saya lewatkan adalah daun kemangi. Aromanya khas, segar, dan mengingatkan saya pada suasana kampung halaman. Ditambah irisan daun bawang, kadang juga wortel parut agar lebih berwarna. Semua bahan saya aduk hingga merata, lalu saya bungkus dengan daun pisang yang sudah dilayukan.
Proses membungkus ini bagi saya bukan sekadar teknik memasak. Ini adalah momen refleksi. Saat melipat daun pisang, saya sering merenung tentang perjalanan hidup. Tentang siswa-siswa yang pernah saya ajar. Tentang perjuangan menjadi guru di tengah berbagai tantangan. Dan tentang betapa pentingnya kesabaran dalam setiap proses---seperti membungkus pepes yang harus rapi agar hasilnya sempurna.
Setelah itu, pepes saya kukus sekitar 25 menit. Saat tutup kukusan dibuka, uap hangat dengan aroma harum langsung menyapa. Di momen itu, hati saya selalu bergetar. Ada rasa syukur yang sulit dijelaskan. Bahwa di tengah kesibukan dan tekanan hidup, saya masih bisa menikmati hal sederhana yang begitu berarti.

Pepes tahu buatan saya biasanya saya nikmati bersama nasi hangat. Tidak perlu lauk mewah. Kadang hanya ditambah sambal dan kerupuk. Tapi percayalah, rasanya sudah lebih dari cukup. Lembutnya tahu, gurihnya bumbu, dan aroma daun pisang yang meresap---semuanya berpadu menjadi harmoni yang menenangkan jiwa.
Sebagai seorang guru, saya sering merasa lelah. Bukan hanya fisik, tetapi juga batin. Kebijakan yang berubah-ubah, tuntutan administrasi, hingga harapan besar dari masyarakat seringkali menjadi beban tersendiri. Namun, di rumah, sepiring pepes tahu mampu menjadi "obat" sederhana.
Ia mengingatkan saya untuk kembali pada esensi. Bahwa hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa dalam kita mensyukuri apa yang ada.
Pepes tahu juga mengajarkan saya tentang kesehatan. Tidak digoreng, tidak penuh minyak, tetapi tetap lezat. Ini seperti pesan kehidupan: kita tidak harus berlebihan untuk bisa bahagia. Kesederhanaan justru seringkali membawa ketenangan.
Yang paling saya sukai, pepes tahu ini fleksibel. Kadang saya tambahkan jamur, kadang teri, bahkan sesekali ayam suwir. Seperti hidup, kita boleh berkreasi, beradaptasi, tetapi tetap menjaga nilai dasar yang kita pegang.
Di momen-momen tertentu, seperti bulan Ramadan atau menjelang Lebaran, pepes tahu selalu hadir di meja makan saya. Saat berbuka puasa, rasa hangatnya seperti memeluk hati yang seharian menahan lapar dan dahaga. Di situlah saya merasa... hidup ini indah, meski sederhana.
Bagi saya, pepes tahu bukan hanya makanan. Ia adalah saksi perjalanan hidup. Ia adalah pengingat akan cinta seorang ibu. Ia adalah teman setia di saat lelah melanda. Dan yang terpenting, ia adalah simbol bahwa kebahagiaan sejati tidak pernah jauh---ia ada di dapur kita sendiri.
Sebagai penutup, izinkan saya berbagi satu pesan sederhana. Jika hari ini terasa berat, jika hidup terasa melelahkan, cobalah pulang. Masuklah ke dapur. Buatlah sesuatu yang sederhana, seperti pepes tahu. Rasakan prosesnya. Nikmati aromanya. Dan saat Anda menyantapnya, mungkin Anda akan menemukan kembali sesuatu yang selama ini hilang: rasa syukur.
Sepiring Pepes Tahu mengajarkan kita satu hal sederhana: kebahagiaan tidak harus mahal, cukup hadir dari rasa syukur, kehangatan, dan cinta yang dimasak dari hati. Dan mungkin, di setiap suapan yang lembut itu, kita tidak hanya merasakan lezatnya makanan—tetapi juga menemukan kembali arti pulang yang sesungguhnya.
Karena pada akhirnya, hidup ini---seperti pepes tahu---tidak perlu mewah untuk bisa membahagiakan. Yang penting, dimasak dengan hati, disajikan dengan cinta, dan dinikmati dengan penuh rasa syukur.
