Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Dari Sampah Menjadi Berkah: Kisah Omjay menyambut Hari Idul Fitri. Inilah kisah Omjay kali ini di kompasiana tercinta.
Kemarin kami baru saja melaksanakan buka puasa bersama keluarga besar tercinta. Alhamdulillah kami bisa berbuka puasa bersama di rumah makan Laksana Soreang Bandung.
Videonya dapat ditonton di link youtube https://youtube.com/shorts/pR7xSOKK2bA?si=Q164syJnfk5oOFcC.
Hari ini kami melaksanakan puasa terakhir. Besok kami akan melaksanakan hari Raya Idul Fitri. Hari kemenangan akhirnya tiba. Takbir menggema di seluruh penjuru kampung, menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya.
Bagi sebagian orang, Idul Fitri adalah tentang baju baru, hidangan lezat, dan berkumpul bersama keluarga.
Namun, bagi Omjay—Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd—hari suci ini memiliki makna yang jauh lebih dalam: tentang keberkahan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
Tahun lalu, setelah menunaikan salat Id, Omjay tidak langsung duduk santai menikmati opor ayam dan ketupat. Omjay justru berjalan menyusuri lingkungan sekitar rumahnya.
Wajahnya tampak serius, matanya memperhatikan sesuatu yang sering diabaikan orang lain: tumpukan sampah sisa perayaan malam takbiran.
Plastik makanan, botol minuman, kertas pembungkus, hingga sisa-sisa daun pisang berserakan di berbagai sudut. Pemandangan ini seolah menjadi “tradisi lain” yang selalu hadir setiap Idul Fitri—tradisi yang jarang disadari dampaknya.
“Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” gumam Omjay dalam hati.
Kesadaran yang Berawal dari Hal Sederhana
Omjay teringat pesan sederhana yang sering ia sampaikan kepada murid-muridnya: menjadi manusia bermanfaat tidak harus menunggu besar, cukup mulai dari hal kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Dengan mengenakan sarung dan peci, Omjay mengambil karung bekas dan mulai memunguti sampah di sekitar rumah. Awalnya, beberapa tetangga hanya memandang heran.
“Lho, Omjay kok malah pungut sampah di hari Lebaran?” tanya salah satu warga.
Omjay tersenyum. “Justru ini bagian dari Lebaran. Kita kembali suci, termasuk lingkungan kita.”
Perlahan, satu per satu anak-anak mulai mendekat. Mereka penasaran. Omjay pun mengajak mereka ikut membantu. Tanpa disadari, kegiatan kecil itu berubah menjadi gerakan bersama.
Mengubah Cara Pandang: Sampah Bukan Musibah
Setelah sampah terkumpul, Omjay tidak langsung membuangnya. Ia mengajak anak-anak dan beberapa warga untuk memilah.
“Ini bukan sekadar sampah,” jelas Omjay. “Ini adalah peluang.”
Ia kemudian menjelaskan bagaimana sampah plastik bisa dijual ke bank sampah, botol bisa didaur ulang, dan sampah organik bisa dijadikan kompos. Bahkan, beberapa barang bekas bisa disulap menjadi kerajinan tangan.
Anak-anak yang tadinya hanya ikut-ikutan mulai antusias. Mereka merasa seperti sedang bermain, padahal sedang belajar sesuatu yang sangat penting.
Dari Sampah Menjadi Sedekah
Beberapa hari setelah Idul Fitri, hasil pengumpulan sampah tersebut mulai terlihat nilainya. Plastik dan botol yang terkumpul dijual ke pengepul. Uang yang didapat mungkin tidak besar, tetapi cukup untuk sesuatu yang bermakna.
Omjay mengajak anak-anak bermusyawarah.
“Kita mau gunakan uang ini untuk apa?” tanyanya.
Seorang anak menjawab polos, “Buat jajan, Om!”
Omjay tersenyum. “Boleh. Tapi bagaimana kalau kita jadikan sedekah untuk yang membutuhkan?”
Suasana hening sejenak. Lalu satu per satu anak mengangguk.
Akhirnya, uang hasil sampah itu dibelikan sembako sederhana untuk dibagikan kepada warga yang membutuhkan—terutama mereka yang mungkin tidak bisa merasakan kemewahan Lebaran seperti yang lain.
Di situlah makna “berkah” benar-benar terasa.
Lebaran yang Lebih Bermakna
Bagi Omjay, keberkahan Idul Fitri bukan hanya soal menerima, tetapi juga memberi. Bukan hanya tentang kebersihan diri, tetapi juga kebersihan lingkungan. Bukan hanya tentang kebahagiaan pribadi, tetapi juga kebahagiaan bersama.
Kegiatan sederhana itu meninggalkan jejak yang dalam di hati warga. Tahun berikutnya, tanpa diminta, anak-anak sudah lebih dulu bergerak mengumpulkan sampah setelah malam takbiran.
Bahkan, beberapa ibu rumah tangga mulai memilah sampah dari rumah. Lingkungan menjadi lebih bersih, lebih sehat, dan lebih peduli.
Pesan Omjay: Menjadi Agen Perubahan
Di akhir kegiatan, Omjay berkata kepada anak-anak:
“Kalau kalian ingin mengubah dunia, jangan mulai dari hal besar. Mulailah dari sampah di depan rumah kalian.”
Pesan itu sederhana, tetapi penuh makna. Karena sejatinya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan hati.
Penutup yang Menyentuh
Hari itu, Omjay tidak hanya merayakan Idul Fitri. Ia menghidupkan maknanya.
Dari sampah yang sering dianggap kotor dan tak berguna, lahirlah kebaikan, kebersamaan, dan kepedulian. Dari tangan-tangan kecil anak-anak, tumbuh harapan besar untuk masa depan yang lebih bersih dan lebih manusiawi.
Dan di sanalah, Omjay menemukan kebahagiaan sejatinya—
bukan saat menerima ucapan “Selamat Lebaran”,
tetapi saat melihat senyum tulus dari mereka yang terbantu oleh “sampah yang menjadi berkah.”
Penutup
Demikianlah kisah Omjay tentang Cara Omjay Mengelola Sampah Menjadi Berkah di hari raya idul fitri. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana tercinta.
Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru blogger Indonesia
