Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Adab, disiplin, empati, dan kebiasaan baik lebih mudah ditanamkan ketika guru hadir secara fisik di depan siswa. Apa yang disampaikan Ibu Nunuk Marsini sangat tepat: ketika mental dan karakter anak sedang mulai dibangun kembali, jangan sampai momentum ini hilang.
Sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, tetapi tempat membentuk manusia. Online Bukan Musuh, Tapi Alat. Namun demikian, pembelajaran online bukanlah musuh. Ia hanyalah alat. Hal yang menjadi masalah bukan teknologinya, tetapi cara kita menggunakannya.
Jika digunakan secara berlebihan tanpa kontrol, tentu akan berdampak negatif. Anak bisa menjadi pasif, tergantung pada gadget, bahkan kehilangan interaksi sosial. Tetapi jika digunakan secara bijak, teknologi justru dapat memperkaya pembelajaran.
Bayangkan jika guru menggunakan platform digital untuk:
Maka pembelajaran akan menjadi lebih hidup. Kuncinya adalah keseimbangan. Omjay banyak belajar dari kawan-kawan guru di China ketika dikirimkan belajar STEAM ke China UNIVERSITY OF MINING TECHNOLOGY ATAU CUMT di tahun 2019.

Hybrid Learning: Jalan Tengah yang Bijak
Daripada memilih "semua offline" atau "semua online", pendekatan yang lebih relevan saat ini adalah dengan blended learning atau pembelajaran campuran.
Tatap muka tetap menjadi inti. Di sanalah karakter dibangun, interaksi terjadi, dan nilai-nilai ditanamkan. Sementara teknologi digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti. Apalagi menggantikan fungsi guru.
Dengan model ini:
Kekhawatiran Tentang Generasi "Bodoh"