Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

"Seorang Guru Bicara Jujur: Sekolah Online Bikin Anak Males dan 'Hilang Arah. Kita Mau Diam atau Bergerak?" Tatap Muka atau Online? Menjaga Akal Sehat Pendidikan di Tengah Kekhawatiran Guru. Inilah Kisah Omjay di kompasiana.
Di tengah riuhnya perubahan zaman dan derasnya arus teknologi, ada satu suara lirih namun penuh makna dari seorang guru: kegelisahan akan masa depan anak didiknya.
Hal ini bukan sekadar soal metode belajar, tetapi tentang harapan, karakter, dan masa depan generasi yang sedang kita titipkan di ruang-ruang kelas hari ini. Dari kegelisahan itulah, tulisan ini lahir sebagai ajakan untuk kembali menata arah pendidikan dengan hati dan kebijaksanaan.
Pesan yang disampaikan Ibu Nunuk Marsini seoramg guru sekolah negeri di WhatsApp Omjay terasa sangat jujur, apa adanya, dan mewakili kegelisahan banyak guru di Indonesia.
Kekhawatiran itu nyata: jangan sampai pembelajaran daring kembali membuat anak-anak kehilangan semangat belajar, malas membaca, bahkan menurunkan kualitas karakter dan adab mereka seperti yang sempat kita rasakan pada masa pandemi.
Omjay sangat memahami betul perasaan itu. Kita semua pernah melewati masa sulit saat pandemi COVID-19. Ketika sekolah dipaksa beralih ke pembelajaran jarak jauh, banyak anak kehilangan arah.
Tidak semua memiliki fasilitas memadai, tidak semua memiliki pendampingan orang tua, dan tidak semua guru siap dengan metode digital. Dampaknya terasa: learning loss, penurunan motivasi, bahkan krisis karakter.
Namun, apakah solusi terbaik adalah menolak sepenuhnya pembelajaran online? Di sinilah kita perlu bersikap bijaksana. Tatap Muka Tetap Utama, belum ada yang bisa menggantikannya. Omjay sangat sepakat.
Tidak bisa dipungkiri, pembelajaran tatap muka (offline) memiliki keunggulan yang sangat besar. Interaksi langsung antara guru dan siswa membangun kedekatan emosional. Guru dapat membaca ekspresi wajah siswa, memahami kesulitan mereka, dan menanamkan nilai-nilai karakter secara langsung.
Adab, disiplin, empati, dan kebiasaan baik lebih mudah ditanamkan ketika guru hadir secara fisik di depan siswa. Apa yang disampaikan Ibu Nunuk Marsini sangat tepat: ketika mental dan karakter anak sedang mulai dibangun kembali, jangan sampai momentum ini hilang.
Sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, tetapi tempat membentuk manusia. Online Bukan Musuh, Tapi Alat. Namun demikian, pembelajaran online bukanlah musuh. Ia hanyalah alat. Hal yang menjadi masalah bukan teknologinya, tetapi cara kita menggunakannya.
Jika digunakan secara berlebihan tanpa kontrol, tentu akan berdampak negatif. Anak bisa menjadi pasif, tergantung pada gadget, bahkan kehilangan interaksi sosial. Tetapi jika digunakan secara bijak, teknologi justru dapat memperkaya pembelajaran.
Bayangkan jika guru menggunakan platform digital untuk:
Maka pembelajaran akan menjadi lebih hidup. Kuncinya adalah keseimbangan. Omjay banyak belajar dari kawan-kawan guru di China ketika dikirimkan belajar STEAM ke China UNIVERSITY OF MINING TECHNOLOGY ATAU CUMT di tahun 2019.

Hybrid Learning: Jalan Tengah yang Bijak
Daripada memilih "semua offline" atau "semua online", pendekatan yang lebih relevan saat ini adalah dengan blended learning atau pembelajaran campuran.
Tatap muka tetap menjadi inti. Di sanalah karakter dibangun, interaksi terjadi, dan nilai-nilai ditanamkan. Sementara teknologi digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti. Apalagi menggantikan fungsi guru.
Dengan model ini:
Kekhawatiran Tentang Generasi "Bodoh"
Istilah "generasi bodoh" yang disampaikan dengan nada khawatir sebenarnya adalah bentuk kepedulian mendalam seorang guru. Namun kita perlu berhati-hati dalam menyimpulkan.
Anak-anak bukan menjadi bodoh karena online, tetapi karena:
Artinya, solusi bukan menolak teknologi, tetapi memperbaiki sistem dan cara kita mengajar. Guru tetap menjadi kunci utama.

Tentang Program MBG di pemerintahan Prabowo Gibran
Pandangan kritis terhadap program MBG (Makan Bergizi Gratis) juga menarik untuk disikapi. Kekhawatiran tentang pemborosan anggaran tentu wajar. Namun di sisi lain, kita juga perlu melihat dari perspektif lain.
Program seperti MBG bertujuan untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Kita tahu, banyak siswa datang ke sekolah dalam kondisi lapar. Bagaimana mereka bisa fokus belajar jika kebutuhan dasar belum terpenuhi?
Namun, tentu program ini harus dijalankan dengan:
Guru boleh kritis, tetapi juga perlu melihat secara utuh. Kita harus melihatnya dati berbagai sisi dan tentu harus diikuti dengan kajian ilmiah yang mendalam.
Peran Guru Tetap Tak Tergantikan
Dalam semua kondisi baik offline maupun online ada satu hal yang tidak berubah yaitu: peran guru sangat vital. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi:
Apa yang dikhawatirkan Ibu Nunuk Marsini tentang mental, adab, dan karakter anak adalah tanggung jawab kita bersama. Dan itu tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi.

Menutup dengan Harapan
Kita semua ingin yang terbaik untuk anak didik kita. Kekhawatiran adalah tanda cinta. Kritik adalah bentuk kepedulian. Namun mari kita jaga agar sikap kita tetap seimbang. Jangan menolak perubahan, tetapi juga jangan kehilangan jati diri pendidikan kita.
Tatap muka harus tetap kuat. Teknologi harus digunakan dengan bijak. Dan guru harus tetap menjadi pusat dari semua proses pembelajaran.
Terima kasih Ibu Nunuk Marsini teman baik Omjay atas pesan yang menggugah ini. Semoga menjadi refleksi bagi kita semua. Mohon maaf lahir dan batin, dunia wal akhirat. Mari kita jaga generasi ini bersama, dengan hati, dengan akal sehat, dan dengan penuh cinta.
Pada akhirnya, pendidikan bukan soal memilih antara online atau offline, tetapi tentang bagaimana kita menjaga hati anak-anak tetap hidup, pikirannya tetap tumbuh, dan akhlaknya tetap terjaga.
Selama guru masih mengajar dengan cinta, membimbing dengan keteladanan, dan hadir sepenuh jiwa, maka harapan itu tidak akan pernah padam.
Karena sejatinya, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh tangan-tangan tulus para guru yang tak pernah lelah menyalakan cahaya di setiap diri anak didiknya.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
