Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Belajar Menulis Sambil Ngakak! Bersama Budiman Hakim Pakar Menulis Kreatif

14 April 2026   07:53 Diperbarui: 14 April 2026   07:53 158 5 3


Kisah Omjay kali ini tentang Belajar Menulis Sambil Tertawa Bersama The Writers Asuhan Budiman Hakim. Kami biasanya rutin belajar online lewat aplikasi zoom setiap Jumat malam Sabru.

"Belajar Menulis Sambil Ngakak! Rahasia Seru The Writers Asuhan Budiman Hakim yang Bikin Ketagihan"

Menulis sering kali dianggap sebagai aktivitas serius, penuh aturan, dan kadang membuat dahi berkerut. Namun, anggapan itu langsung runtuh ketika kita belajar menulis bersama komunitas The Writers asuhan Budiman Hakim. Di sini, menulis bukan hanya soal merangkai kata, tetapi juga tentang menikmati proses, tertawa bersama, dan menemukan suara diri dengan cara yang menyenangkan.

biarkan tulisanmu menemukan takdirnya/Budiman Hakim
biarkan tulisanmu menemukan takdirnya/Budiman Hakim

Saya merasakan sendiri bagaimana suasana belajar yang biasanya kaku berubah menjadi hangat dan penuh canda. Budiman Hakim bukan sekadar pengajar menulis. Ia adalah "pelawak literasi" yang mampu menyelipkan humor di setiap penjelasannya. Ketika peserta mulai tegang karena takut tulisannya jelek, beliau justru berkata, "Tulisan jelek itu bukan dosa, yang dosa itu tidak menulis sama sekali." Kalimat sederhana itu langsung mencairkan suasana.

Bisa dibaca di website https://thewriters.id/

Menulis Itu Tidak Harus Sempurna

Salah satu pelajaran penting yang saya dapatkan dari The Writers adalah: jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis. Banyak orang gagal menulis bukan karena tidak bisa, tetapi karena terlalu ingin sempurna sejak awal.

Di kelas ini, kami justru didorong untuk "berani jelek dulu." Bahkan, sering kali kami diminta menulis cepat tanpa banyak berpikir. Hasilnya? Lucu, aneh, bahkan kadang tidak masuk akal. Tapi justru dari situlah ide-ide segar muncul.

Budiman Hakim sering mengatakan bahwa tulisan yang hidup adalah tulisan yang jujur, bukan yang terlalu dipoles. Maka, kami diajak untuk menulis dengan hati, bukan sekadar mengikuti teori.

Humor: Bumbu Rahasia dalam Menulis

Yang membuat belajar di The Writers berbeda adalah penggunaan humor sebagai metode pembelajaran. Setiap materi selalu disampaikan dengan gaya santai dan penuh canda. Bahkan contoh tulisan yang dibahas pun sering kali mengundang tawa.

Misalnya, ketika membahas deskripsi, kami diminta menggambarkan "teman yang paling nyebelin." Hasilnya? Ada yang menulis seperti tokoh antagonis sinetron, ada juga yang menggambarkan temannya seperti notifikasi pinjaman online yang tidak pernah berhenti.

Dari situ kami belajar bahwa menulis tidak harus kaku. Justru dengan humor, tulisan menjadi lebih hidup dan mudah diingat pembaca.

Komunitas yang Saling Menguatkan

Belajar menulis tidak bisa dilakukan sendirian. Kita butuh ruang untuk berbagi, mendapatkan masukan, dan tentu saja, dukungan. Di The Writers, setiap peserta diperlakukan sebagai teman, bukan murid yang harus selalu benar.

Ketika ada yang tulisannya masih berantakan, tidak ada yang mencemooh. Justru kami saling menyemangati. Bahkan kritik pun disampaikan dengan cara yang santai dan tidak menyakitkan.

"Ini tulisan bagus, cuma pembacanya mungkin butuh vitamin biar kuat membacanya sampai selesai," kata Budiman Hakim suatu hari. Semua tertawa, termasuk penulisnya. Tapi di balik itu, ada pesan penting: tulisan perlu diperbaiki agar lebih enak dibaca.

Menemukan Gaya Menulis Sendiri

Salah satu hal paling berharga dari belajar bersama The Writers adalah menemukan gaya menulis sendiri. Kami tidak dipaksa meniru siapa pun. Justru kami didorong untuk menjadi diri sendiri dalam tulisan.

Ada yang suka menulis serius, ada yang puitis, ada juga yang humoris. Semua diterima. Karena pada akhirnya, setiap penulis memiliki warna yang unik.

Budiman Hakim selalu mengingatkan, "Kalau semua orang menulis dengan gaya yang sama, dunia ini akan membosankan." Kalimat itu membuat kami berani bereksperimen dan tidak takut berbeda.

Menulis Jadi Kebiasaan Menyenangkan

Yang awalnya terasa berat, lama-lama menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Kami mulai terbiasa menulis setiap hari, meskipun hanya beberapa paragraf. Tidak ada tekanan, yang penting konsisten.

Menulis bukan lagi tugas, tetapi kebutuhan. Seperti berbicara, seperti bercerita kepada teman. Bahkan banyak dari kami yang akhirnya mulai mempublikasikan tulisan di blog atau platform seperti Kompasiana.

Dan yang paling penting, kami menulis dengan hati yang ringan.

Penutup: Menulis, Tertawa, dan Bertumbuh

Belajar menulis bersama The Writers asuhan Budiman Hakim adalah pengalaman yang tidak hanya menambah keterampilan, tetapi juga memperkaya jiwa. Kami belajar bahwa menulis tidak harus serius, tidak harus sempurna, dan tidak harus menakutkan.

Menulis bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan, penuh tawa, dan sarat makna.

Dari komunitas ini, saya menyadari satu hal sederhana:
menulis bukan tentang menjadi hebat di awal, tetapi tentang berani memulai dan terus belajar.

Dan jika proses itu bisa dilakukan sambil tertawa, mengapa harus dibuat sulit? Karena pada akhirnya, tulisan terbaik bukanlah yang paling sempurna, tetapi yang paling jujur dan mampu menyentuh hati pembacanya.

Berikut ini tulisan Om Budiman Hakin yang Omjay Copas dari facebook beliau di sini.

SEBUAH KARYA MEMPUNYAI TAKDIRNYA SENDIRI

Saya mau bercerita pengalaman saya sebagai penulis. Saat itu saya punya rencana untuk menulis novel dengan tema romance. Akan tetapi dalam perjalanannya, novel itu berubah. Bukan jadi romance tapi bergenre komedi.

Pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa menulis adalah pengalaman spiritual. Kita yang merencanakan, kita yang membuat outlinenya, kita yang menentukan arahnya. Artinya, kita merasa bahwa kendali sepenuhnya ada di genggaman kita.

Kenyataannya tidak seperti itu. Dalam proses penulisannya, bahkan sejak masih draft, karya itu sudah mulai “melawan”. Ia berbelok dan menolak rencana yang sudah kita susun rapi. Sumpah saya bingung. Sebenernya siapa yang memegang kendali?

Sebuah karya mempunyai takdirnya sendiri. Dan orang mengira takdir itu dimulai setelah dipublikasikan. Apakah ia laku, apakah ia viral, apakah ia dikenal. Semua itu dianggap sebagai ukuran utama.

Kenyataannya tidak seperti itu. takdirnya sudah dimulai saat proses pembuatannya. Ketika kita mulai mengetik di laptop, sekonyong-konyong ide itu berlari begitu saja. Seakan ketakutan dipenjara dalam sebuah outline. Kita bingung sendiri. Ide itu hidup seperti anak nakal yang bangornya gak ketulungan.

Ada momen-momen kecil yang terlihat sepele, tapi menentukan. Pilihan kata yang tidak direncanakan. Perubahan arah yang terjadi begitu saja. Keputusan-keputusan yang bahkan kita sendiri tidak sadar saat mengambilnya.

Kalau dilihat dari dekat, semua itu seperti satu proses yang sedang berjalan dengan sendirinya. Seolah-olah karya itu sedang membentuk dirinya sendiri, dan kita hanya menjadi tempat lewatnya.

Kita jadi curiga bahwa peran kita bukanlah seorang penulis. Kita merasa tulisan itu mempunyai keinginan sendiri mau jadi apa dan mau pergi ke mana. Kita seperti kehilangan kendali. Fungsi kita bukan sebagai pencipta tapi cuma medium yang ikut mengalir di dalam proses itu.

Sekarang pikiran saya semakin terbuka bahwa sebuah karya memang mempunyai takdirnya sendiri. Dan Ini juga menjelaskan kenapa ada karya yang seperti “menunggu waktunya”.

Ada penulis yang selama hidupnya bernasib malang. Hidupnya miskin. Karyanya gak laku. Teman-temannya membully, mengatakan karyanya jelek. Dan dia mati dalam keadaan sengsara.

Tapi setelah almarhum, karyanya yang dulu terabaikan, tiba-tiba lalu dan dibaca banyak orang. Nama yang dulu tidak dikenal, tiba-tiba disebut di mana-mana.

Salah satu penulis yang mengalami hal itu adalah Franz Kafka.
Semasa hidupnya, ia tidak pernah benar-benar terkenal. Bahkan ia sempat meminta agar karyanya dimusnahkan setelah ia meninggal. Tapi setelah itu, tulisannya menjadi salah satu fondasi sastra modern.

Dalam dunia seni rupa ada Vincent van Gogh. Dia hampir tidak dikenal dan hidup dalam kemiskinan. Selama hidupnya ia hanya berhasil menjual satu lukisan. Tapi setelah ia meninggal, karyanya justru menjadi salah satu yang paling berpengaruh di dunia.

Bukan karena karyanya berubah. Karyanya tetap sama. Yang berubah adalah waktu. Dunia yang akhirnya siap menerima itu. Dan di situ kita melihat sesuatu yang sulit dibantah. Bahwa karya memang punya jalannya sendiri.

Ia tidak selalu berjalan bersama penulisnya. Ia tidak selalu sampai pada waktunya. Tapi ketika waktunya datang, ia akan menemukan pembacanya. Dengan atau tanpa penulisnya.

Dan mungkin di situlah bukti paling sederhana. Bahwa takdir sebuah karya tidak dimulai saat ia dikenal. Tapi saat ia tidak bisa lagi ditahan untuk ditulis… dan terus berjalan, bahkan setelah penulisnya berhenti

Salam Blogger Persahabatan

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Persahabatan

Blog https://wijayalabs.com

Omjay guru blogger Indonesia/dokpri
Omjay guru blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4