Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Isi percakapan yang tersebar menunjukkan bagaimana perempuan---baik mahasiswa maupun dosen---dijadikan objek seksual tanpa rasa bersalah.
Sebagai seorang pendidik, saya merasa ini adalah alarm keras bagi dunia pendidikan kita. Pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga harus menanamkan empati, adab, dan akhlak. Apa gunanya pintar hukum jika hati tidak punya rasa kemanusiaan?
Lebih memprihatinkan lagi, beberapa pelaku disebut-sebut memiliki posisi dalam organisasi mahasiswa. Mereka merasa memiliki "power" dan bahkan percaya bahwa mereka akan aman karena memiliki koneksi tertentu. Ini bukan hanya persoalan pelecehan seksual, tetapi juga krisis integritas.
Dalam pandangan saya, ini adalah bentuk kegagalan pendidikan karakter. Kita terlalu sering bangga dengan prestasi akademik, tetapi lupa menilai kualitas moral. Padahal, bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga orang benar.
Pihak kampus kini tengah berkoordinasi dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual. Berdasarkan aturan yang berlaku, pelaku dapat dikenai sanksi berat, termasuk drop out (DO).
Tuntutan ini juga disuarakan oleh Ketua BEM FH UI, Anandaku Dimas Rumi, yang mendesak agar proses hukum dan etik dilakukan secara transparan dan adil.
Sebagai seorang guru, Omjay ingin mengajak kita semua untuk merenung. Kasus ini bukan hanya tentang UI, bukan hanya tentang Fakultas Hukum, tetapi tentang wajah pendidikan Indonesia. Jika di kampus terbaik saja bisa terjadi hal seperti ini, bagaimana dengan tempat lain?
Kita perlu memperkuat pendidikan karakter sejak dini. Guru, orang tua, dan masyarakat harus bersinergi. Jangan sampai anak-anak kita tumbuh menjadi manusia yang cerdas tetapi kehilangan nurani.
Saya juga ingin menyampaikan pesan kepada para korban: Anda tidak sendiri. Suara Anda penting. Keberanian Anda untuk bersuara adalah langkah besar menuju perubahan.
Dan kepada para pelaku---jika masih ada sedikit nurani---ini saatnya introspeksi. Hukum bukan hanya untuk dipelajari, tetapi untuk dijunjung tinggi. Keadilan bukan hanya untuk dibela di ruang sidang, tetapi harus dimulai dari sikap sehari-hari.