Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini tentang "Viral! 16 Mahasiswa Hukum Diduga Lecehkan 27 Korban di Kampus Elite. Kata Omjay: Ini Bukan Sekadar Skandal, Ini Krisis Moral!" Sebuah "Skandal Memalukan di Kampus Hukum UI: Ketika Calon Penegak Keadilan Justru Melecehkan Martabat Manusia". Skandal Memalukan di Kampus Hukum UI Salah Siapa?
Kabar yang datang dari Universitas Indonesia benar-benar membuat hati miris. Sebagai salah satu kampus terbaik di negeri ini, tempat lahirnya para intelektual dan calon penegak hukum, justru tercoreng oleh perilaku tidak bermartabat dari segelintir mahasiswanya.
Lebih menyedihkan lagi, peristiwa ini terjadi di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Sebuah tempat yang seharusnya menjunjung tinggi nilai keadilan, etika, dan kemanusiaan.
Berita tersebut juga viral di kompas.id di sini.
Sebanyak 20 mahasiswa dan 7 dosen dilaporkan menjadi korban pelecehan seksual dalam bentuk verbal dan digital. Mereka dijadikan bahan pembicaraan tidak pantas dalam grup percakapan privat yang dibuat oleh 16 mahasiswa.
Grup tersebut bukan sekadar tempat bercanda, melainkan ruang yang dipenuhi kata-kata yang merendahkan, menghina, bahkan mengobjektifikasi korban.
Saya, Omjay guru blogger Indonesia dan seorang guru yang setiap hari berjuang menanamkan nilai karakter kepada siswa, tentu tidak bisa diam membaca berita ini. Hati saya bertanya: ke mana hilangnya nilai moral yang seharusnya tertanam kuat dalam diri mahasiswa, apalagi mereka yang belajar hukum?
Kasus ini terungkap setelah kuasa hukum korban, Timotius Rajagukguk, memeriksa isi percakapan dalam grup tersebut. Fakta yang ditemukan sungguh mencengangkan. Percakapan mereka tidak hanya melecehkan secara verbal, tetapi juga merendahkan martabat manusia secara terang-terangan.
Yang lebih ironis, para pelaku diketahui tinggal dalam satu indekos yang sama dan dengan sengaja membentuk grup tersebut sebagai "ruang aman" untuk melampiaskan perilaku menyimpang mereka. Mereka merasa bebas, bahkan seolah kebal hukum.
Menurut Fathimah Azzahra dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia, kasus ini pertama kali mencuat dari unggahan di media sosial X melalui akun anonim.
Isi percakapan yang tersebar menunjukkan bagaimana perempuan---baik mahasiswa maupun dosen---dijadikan objek seksual tanpa rasa bersalah.
Sebagai seorang pendidik, saya merasa ini adalah alarm keras bagi dunia pendidikan kita. Pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga harus menanamkan empati, adab, dan akhlak. Apa gunanya pintar hukum jika hati tidak punya rasa kemanusiaan?
Lebih memprihatinkan lagi, beberapa pelaku disebut-sebut memiliki posisi dalam organisasi mahasiswa. Mereka merasa memiliki "power" dan bahkan percaya bahwa mereka akan aman karena memiliki koneksi tertentu. Ini bukan hanya persoalan pelecehan seksual, tetapi juga krisis integritas.
Dalam pandangan saya, ini adalah bentuk kegagalan pendidikan karakter. Kita terlalu sering bangga dengan prestasi akademik, tetapi lupa menilai kualitas moral. Padahal, bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga orang benar.
Pihak kampus kini tengah berkoordinasi dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual. Berdasarkan aturan yang berlaku, pelaku dapat dikenai sanksi berat, termasuk drop out (DO).
Tuntutan ini juga disuarakan oleh Ketua BEM FH UI, Anandaku Dimas Rumi, yang mendesak agar proses hukum dan etik dilakukan secara transparan dan adil.
Sebagai seorang guru, Omjay ingin mengajak kita semua untuk merenung. Kasus ini bukan hanya tentang UI, bukan hanya tentang Fakultas Hukum, tetapi tentang wajah pendidikan Indonesia. Jika di kampus terbaik saja bisa terjadi hal seperti ini, bagaimana dengan tempat lain?
Kita perlu memperkuat pendidikan karakter sejak dini. Guru, orang tua, dan masyarakat harus bersinergi. Jangan sampai anak-anak kita tumbuh menjadi manusia yang cerdas tetapi kehilangan nurani.
Saya juga ingin menyampaikan pesan kepada para korban: Anda tidak sendiri. Suara Anda penting. Keberanian Anda untuk bersuara adalah langkah besar menuju perubahan.
Dan kepada para pelaku---jika masih ada sedikit nurani---ini saatnya introspeksi. Hukum bukan hanya untuk dipelajari, tetapi untuk dijunjung tinggi. Keadilan bukan hanya untuk dibela di ruang sidang, tetapi harus dimulai dari sikap sehari-hari.
Kasus ini harus menjadi titik balik. Kampus harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bermartabat bagi semua. Tidak boleh ada ruang bagi pelecehan, sekecil apa pun bentuknya.
Sebagai penutup, saya teringat satu kalimat sederhana: "Ilmu tanpa akhlak adalah kehancuran."
Mari kita jaga dunia pendidikan kita, bukan hanya dengan kecerdasan, tetapi dengan hati yang penuh kemanusiaan.
"Sidang Panas di FH UI: 16 Terduga Pelaku Dipaksa Hadir, Kampus Elite Diguncang Skandal Memalukan!"
Sidang internal di Fakultas Hukum Universitas Indonesia berubah menjadi momen penuh ketegangan dan emosi. Forum yang digelar di auditorium kampus Universitas Indonesia, Depok, pada Senin malam hingga Selasa dini hari (14/4/2026), menjadi saksi bagaimana kemarahan mahasiswa memuncak terhadap dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa.
Awalnya, hanya dua terduga pelaku yang berani hadir di forum tersebut. Sementara 14 lainnya tidak muncul dengan alasan dilarang oleh orang tua. Namun, kondisi ini justru memicu reaksi keras dari peserta forum yang hadir. Suasana memanas, tekanan dari massa semakin kuat, hingga akhirnya seluruh terduga pelaku dipaksa untuk hadir dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan publik kampus.
https://www.youtube.com/shorts/ei-SLwKUr0o
Detik-detik kedatangan mereka pun terekam dan viral di media sosial. Dalam video yang beredar, terlihat suasana nyaris ricuh. Massa melontarkan sumpah serapah, menunjukkan betapa dalamnya kekecewaan dan kemarahan terhadap tindakan yang dinilai mencoreng nama baik kampus.
Kasus ini mencuat setelah beredarnya tangkapan layar percakapan grup mahasiswa yang berisi konten vulgar dan dugaan pelecehan seksual. Isi percakapan tersebut tidak hanya melanggar norma kesopanan, tetapi juga diduga kuat merendahkan martabat perempuan, baik mahasiswa maupun dosen.
Pihak fakultas tidak tinggal diam. Dalam pernyataan resminya, mereka menegaskan bahwa proses penelusuran dan verifikasi sedang dilakukan secara serius, cermat, dan menyeluruh. Prinsip kehati-hatian dan keadilan tetap dijunjung tinggi agar tidak ada pihak yang dirugikan dalam proses ini.
Lebih jauh, pihak kampus juga membuka kemungkinan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum apabila ditemukan unsur pidana. Langkah ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan tidak boleh menjadi tempat yang kebal terhadap hukum, apalagi dalam kasus yang menyangkut pelecehan seksual.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Kampus yang seharusnya menjadi tempat lahirnya intelektual dan penjaga nilai moral, justru dihadapkan pada krisis integritas.
Kini, publik menanti langkah tegas dari pihak kampus. Bukan hanya sekadar sanksi administratif, tetapi juga komitmen nyata dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk pelecehan.
Kasus ini bukan hanya tentang 16 orang. Ini tentang wajah pendidikan kita hari ini, dan masa depan yang sedang dipertaruhkan.
Pada akhirnya, kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga tempat membentuk nurani. Jika akal terus diasah tetapi hati dibiarkan tumpul, maka lahirlah generasi yang cerdas namun kehilangan kemanusiaan. Saatnya kita memilih: menjadi pintar saja, atau menjadi manusia seutuhnya.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia

Berikut 6 tag SEO yang kuat dan berpotensi viral: