Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

MBG Bermanfaat Atau Tidak?

5 Mei 2026   09:30 Diperbarui: 5 Mei 2026   13:08 324 11 10

12Go.asia - Book Trains, Buses, Ferries, Transfers & Flights 

Di Depan Massa Buruh, Prabowo Bertanya: "MBG Bermanfaat atau Tidak?" Inilah kisah Omjay kali ini di kompasiana tercinta. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana.

Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, menghadirkan suasana yang berbeda. Ribuan buruh berkumpul di Monas, membawa harapan, tuntutan, dan juga rasa ingin didengar oleh pemimpin negeri. 

Di tengah gelombang massa itu, Presiden Prabowo Subianto hadir dan menyampaikan pidato yang bukan sekadar seremonial, tetapi juga sarat pesan politik, ekonomi, dan sosial.

Namun, ada satu momen yang paling menyita perhatian publik. Di tengah pidatonya, Prabowo tiba-tiba melontarkan pertanyaan langsung kepada para buruh:

"MBG bermanfaat atau tidak?"

Pertanyaan itu sederhana, tetapi sarat makna. Pertanyaan tersebut bukan hanya retorika, melainkan ajakan dialog langsung antara pemimpin dan rakyatnya.

Seharusnya pertanyaan itu juga disampaikan Prabowo kepada semua guru dan murid di saat hari pendidikan nasional. Sayangnya pertanyaan tersebut tidak muncul di saat hardiknas.

peringatan hari buruh/kompasTV
peringatan hari buruh/kompasTV

Pidato yang Membumi dan Interaktif

Pidato Prabowo pada May Day tahun ini terasa berbeda karena tidak hanya berisi janji atau laporan program pemerintah. Beliau nampak mencoba membangun komunikasi dua arah dengan massa buruh.

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya berkomitmen memberikan perlindungan sosial besar bagi masyarakat, termasuk buruh dan kelompok berpenghasilan rendah. Presiden menyebut bahwa anggaran perlindungan sosial mencapai ratusan triliun rupiah.

Namun, yang menarik adalah bagaimana Prabowo mengaitkan kebijakan tersebut dengan program unggulannya, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Sayangnya banyak buruh di depannya masih bujangan dan belum berkeluarga. Tentu jawabannya tidak.

Alih-alih tidak hanya menjelaskan, Prabowo memilih bertanya langsung kepada buruh. Ini menjadi simbol bahwa kebijakan publik tidak hanya milik pemerintah, tetapi harus diuji oleh rakyat. Kita pasti sudah menonton videonya.

MBG: Antara Gizi dan Ekonomi

Program MBG bukan sekadar soal makanan gratis. Dalam pidatonya, Prabowo menekankan bahwa program ini menyasar persoalan mendasar bangsa: kualitas sumber daya manusia sejak dini. 

Beliau menyoroti masih banyak anak Indonesia yang mengalami kekurangan gizi, yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan otak.

Dengan MBG, pemerintah berharap:

  • Anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup
  • Kasus stunting bisa ditekan
  • Generasi masa depan menjadi lebih sehat dan produktif

Namun, Prabowo tidak berhenti di situ. Beliau juga mengaitkan MBG dengan perputaran ekonomi nasional. Menurutnya, program ini akan meningkatkan permintaan bahan pangan seperti telur, daging, sayur, susu, dan ikan. Artinya, petani, peternak, dan pelaku usaha kecil ikut merasakan dampaknya.

"Ekonomi kita hidup di mana-mana," tegasnya.

Dengan kata lain, MBG diposisikan sebagai program ganda: program kesehatan sekaligus program ekonomi rakyat. Katanya sih begitu.

Dukungan Buruh: Modal Politik dan Moral

Dalam pidatonya, Prabowo juga mengungkapkan bahwa dirinya merasa menjadi presiden berkat dukungan kaum buruh. Ia menyampaikan rasa terima kasih sekaligus janji untuk terus memperjuangkan kesejahteraan mereka.

Pernyataan ini penting karena menunjukkan hubungan emosional antara pemerintah dan buruh. Bagi Prabowo, buruh bukan sekadar objek kebijakan, tetapi juga mitra perjuangan. Prabowo bahkan menegaskan sumpahnya untuk membela rakyat, terutama mereka yang hidup dalam kesulitan. Pesan ini menjadi pengingat bahwa politik seharusnya kembali pada esensinya: mengabdi kepada rakyat kecil.

Simbolisme dan Gestur yang Mengena

Pidato Prabowo tidak hanya kuat dalam kata-kata, tetapi juga dalam gestur. Setelah menyampaikan pidato sekitar 35 menit, ia menutupnya dengan pekikan:

"Hidup buruh!"

Pekikan itu disambut riuh oleh massa. Bahkan, dalam momen spontan, Prabowo melepas baju safarinya dan melemparkannya ke arah buruh sebagai simbol kedekatan.

Tindakan ini mungkin sederhana, tetapi memiliki nilai simbolik yang kuat: seorang presiden yang ingin terlihat dekat dengan rakyatnya.

Antara Harapan dan Tantangan

Meski mendapat sambutan meriah, program MBG tetap menyisakan pertanyaan kritis.

Beberapa pihak mempertanyakan:

  • Apakah program ini bisa berjalan secara merata di seluruh Indonesia?
  • Bagaimana pengawasan kualitas makanan?
  • Apakah anggaran besar yang digelontorkan akan efektif?

Pertanyaan-pertanyaan ini wajar, mengingat MBG adalah program besar dengan dampak luas. Namun, justru di sinilah pentingnya pertanyaan Prabowo kepada buruh. Dengan bertanya "bermanfaat atau tidak", beliau sudah membuka ruang evaluasi publik.

Makna Mendalam di Balik Pertanyaan Sederhana

Pertanyaan Prabowo sebenarnya lebih dari sekadar meminta jawaban "ya" atau "tidak".

Pertanyaan itu mengandung beberapa makna:

1. Uji legitimasi kebijakan

Pemerintah ingin memastikan bahwa programnya benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat.

2. Partisipasi publik

Buruh diajak menjadi bagian dari proses evaluasi, bukan hanya penerima kebijakan.

3. Komunikasi politik

Pertanyaan ini memperkuat citra pemimpin yang dekat dan mendengar.

Refleksi Hari Buruh 1 Mei 2026

Hari Buruh bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah momentum refleksi: sejauh mana negara hadir untuk melindungi pekerja. Pidato Prabowo tahun ini menunjukkan upaya untuk:

  • Menguatkan perlindungan sosial
  • Meningkatkan kualitas generasi melalui gizi
  • Menggerakkan ekonomi berbasis rakyat

Namun, seperti semua kebijakan publik, keberhasilan tidak ditentukan oleh niat, tetapi oleh implementasi.

Penutup

Pidato Prabowo di Hari Buruh 2026 menghadirkan sesuatu yang berbeda: dialog, bukan monolog. 

Ketika seorang presiden bertanya kepada rakyatnya, itu berarti ada kesadaran bahwa kekuasaan bukan segalanya bahwa legitimasi sejati datang dari manfaat yang dirasakan.

Pertanyaan "MBG bermanfaat atau tidak?" akan terus menggema, bukan hanya di Monas, tetapi juga di hati rakyat Indonesia. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kebijakan sederhana saja: apakah rakyat merasakan manfaatnya, atau tidak.

Salam blogger persahabatan

Wijaya Kusumah - omjay-Kakek Jay

Guru blogger indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri
Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5