Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Saya mencoba berpikir logis. Tapi suara itu terdengar jelas dan bukan suara kucing. Lebih berat, seperti langkah seseorang berjalan perlahan.
Tok... tok... tok...Jantung saya mulai berdetak lebih cepat.
Saya memberanikan diri untuk keluar dari ruang kerja. Lampu ruang tamu menyala, tetapi suasana terasa dingin, berbeda dari biasanya.
Saya melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Suasananya sepi dan sunyi.
Namun, ketika saya hendak kembali ke ruang kerja, tiba-tiba saya mendengar suara dari belakang.
"Omjay..."
Saya langsung membeku. Suara itu lirih, seperti bisikan, tetapi jelas terdengar. Saya perlahan menoleh. Tidak ada siapa pun. Saat itu, bulu kuduk saya berdiri. Ini bukan lagi sekadar perasaan. Ada sesuatu yang tidak beres.
Saya kembali ke ruang kerja dengan langkah cepat. Berusaha mengabaikan semuanya. Saya mencoba berpikir rasional. Bisa jadi ini mungkin hanya halusinasi karena lelah. Tetapi kejadian berikutnya benar-benar membuat saya tidak bisa berpikir logis lagi.
Laptop saya tiba-tiba mati. Padahal baterainya masih penuh. Ruangan menjadi gelap karena lampu juga ikut padam. Hanya cahaya redup dari luar jendela yang sedikit menerangi ruangan. Dalam kondisi seperti itu, saya mulai mendengar suara napas.
Bukan napas saya. Napas itu berat. Dekat. Sangat dekat. Saya merasa seperti ada seseorang berdiri tepat di belakang saya. Tubuh saya kaku. Saya tidak berani menoleh. Pikiran saya kacau. Antara ingin lari atau tetap diam.
Lalu perlahan, saya merasakan sesuatu. Seperti ada tangan dingin menyentuh bahu saya. Seketika saya refleks berdiri dan berbalik.