Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Diksi: Ketika Kata Menjadi Cinta yang Tak Pernah Selesai
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Pernahkah kita jatuh cinta... hanya karena sebuah kalimat? Bukan karena wajah. Bukan karena suara. Tetapi karena kata-kata yang diam-diam menyentuh relung jiwa. Di situlah diksi bekerja.
Diksi bukan sekadar pilihan kata. Ia adalah rasa yang dipilih dengan hati. Ia adalah seni merangkai makna agar yang biasa terasa luar biasa. Para pujangga besar telah lama memahami rahasia ini. Kata yang sederhana, jika dipilih dengan tepat, mampu mengguncang perasaan yang paling dalam.
https://www.youtube.com/watch?v=s8QqiHTybpQ
Saya Omjay teringat ketika mengikuti Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI semalam. Pada sebuah pertemuan bertema "Diksi dan Seni Bahasa", narasumber ibu Maederly mengajak kami merenung:
"Mengapa ada tulisan yang dibaca lalu dilupakan, dan ada tulisan yang dibaca lalu menetap di hati?"
Jawabannya sederhana, tetapi dalam: diksi.
Diksi, Sang Perias Makna
Diksi adalah perias.
Ia tidak mengubah wajah makna,
tetapi memperindahnya agar lebih bermakna.
Bayangkan kata "sedih".
Ia biasa saja.
Namun ketika seorang penulis berkata:
"Sedih itu seperti hujan yang jatuh diam-diam di dalam dada," maka seketika, rasa itu menjadi hidup.
Itulah kekuatan diksi.
Saya belajar bahwa menulis bukan sekadar menuangkan pikiran, tetapi menyampaikan perasaan. Dan perasaan hanya bisa sampai jika kata yang digunakan tepat.
Seorang pujangga pernah mengajarkan, bahwa kata harus dipilih seperti memilih bunga---tidak semua indah jika disusun sembarangan.
Kisah Omjay: Menulis dengan Hati
Sebagai seorang guru, saya (Omjay) tidak langsung mahir menulis. Dulu, tulisan saya kaku. Penuh teori, tetapi miskin rasa. Hingga suatu hari, saya menulis pengalaman sederhana tentang kelas saya.
Tidak ada istilah hebat. Tidak ada bahasa tinggi. Hanya cerita jujur tentang siswa, tentang perjuangan, tentang harapan. Namun, di luar dugaan... tulisan itu menyentuh banyak orang.
Mengapa? Karena saat itu saya tidak menulis dengan pikiran. Saya menulis dengan hati. Sejak saat itu, saya sadar: diksi terbaik lahir dari kejujuran rasa.
Ketika Kata Menjadi Kehidupan
Diksi yang baik bukan hanya indah, tetapi hidup. Diksi akan mampu:
Coba rasakan perbedaan ini:
Kalimat biasa:
"Aku merindukanmu."
Dengan diksi:
"Aku merindukanmu seperti langit merindukan hujan, diam-diam tapi tak pernah berhenti."
Mana yang lebih terasa? Inilah yang membuat pembaca jatuh cinta.
Rahasia Diksi yang Memikat
Dari perjalanan menulis saya, ada beberapa rahasia sederhana:

1. Gunakan kata yang jujur
Kata yang jujur selalu sampai ke hati.
2. Hindari berlebihan
Diksi bukan tentang sulit, tetapi tentang tepat.
3. Libatkan perasaan
Tulisan tanpa rasa seperti tubuh tanpa jiwa.
4. Bayangkan pembaca
Tulis seolah kita sedang berbicara dengan seseorang yang kita sayangi.
Diksi dan Keabadian
Kata-kata bisa lebih abadi daripada usia manusia.
Tubuh akan menua.
Waktu akan berlalu.
Namun kata yang bermakna... akan terus hidup.
Seperti hujan yang selalu kembali, seperti rindu yang tak pernah benar-benar pergi.
Diksi yang kuat akan menemukan jalannya sendiri dari tulisan, ke hati, lalu menjadi kenangan.
"Cahaya yang menyalakan kata"
kaulah penggagas yang menabur aksara
hadirmu bagai cahaya di lorong gelap kata
Dari sunyi yang ragu, kau bangunkan pena
mengajak tangan-tangan kaku mulai bercerita
Suaramu tak lantang,namun menembus jiwa
seperti bisikan lembut yang tak henti menyapa
"menulislah ... hari demi hari,
biarkan kata tumbuh menjadi arti
Engkau menyalakan nyala di dada-dada
yang dulu redup kini berpendar cahaya
lebih dari seribu jiwa kau tuntun perlahan
menjadi penulis yang berani mengabadikan
Dari huruf yang sederhana,lahir semesta
dari tekat yang kau tanam, tumbuh makna
dan di setiap kalimat yang mereka cipta
terdapat jejak langkahmu yang tak pernah sirna. Dan terima kasih OmJay.
Penutup: Menulislah dengan Cinta
Pada akhirnya, menulis bukan tentang siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling tulus. Diksi bukan sekadar teknik. Ia adalah jiwa dalam tulisan. Jika kita ingin tulisan kita hidup, maka jangan hanya menulis dengan tangan saja, tapi menulislah dengan hati. Karena kata yang lahir dari hati, akan selalu menemukan rumahnya, di hati yang lain. Itulah yang Omjay temukan dalam diksi.
Inspirasi Pagi dari pak Umedi
Kamis, 7 Mei 2026
Ada 3 sifat rizki yang harus anda tahu:
1. Sudah dijamin Allah → tugas kita ikhtiar + tawakal. QS. At-Thalaq: 3
2. Gak akan ketuker → rizkimu gak akan nyasar ke orang lain, rizki orang gak akan nyasar ke kamu
3. Sudah ditakar → ada yang dilapangkan, ada yang disempitkan. Dua-duanya ujian. QS. Ar-Ra’d: 26
Kunci biar rizki berkah & nambah:
1. Takwa→ QS. At-Thalaq: 2-3:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tak disangka-sangka”
2. Istighfar→ QS. Nuh: 10-12: istighfar bikin hujan, harta, anak turun
3. Silaturahmi → HR. Bukhari: meluaskan rizki & panjang umur
4. Sedekah → bukan ngurangin, malah nambah. QS. Saba: 39
5. Syukur → QS. Ibrahim: 7: “Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah nikmatmu”
Tetap Semangat
-------------------
Barakallah fiikum
Salam Blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
