Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Omjay mencoba bertahan. Omjay memilih diam ketika diremehkan. Omjay tetap tersenyum meski sering dianggap gagal hanya karena jalannya berbeda dari orang lain. Namun semakin hari, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang justru berubah menjadi tempat di mana saya paling sering menyembunyikan air mata.
Omjay tidak pernah membenci keluarganya. Saya sangat menyayangi mereka. Justru karena rasa sayang itu, Omjay terus mencoba mengerti keadaan. Ayahnya bekerja keras demi keluarga, sementara ibunya selalu berusaha memastikan semua kebutuhan rumah terpenuhi meski hidup serba terbatas.
Namun tekanan ekonomi sering membuat suasana rumah menjadi penuh emosi. Perdebatan kecil bisa berubah menjadi pertengkaran panjang. Omjay yang saat itu masih muda sering menjadi pelampiasan kemarahan keadaan.
Ketika nilai hidup diukur hanya dari uang dan keberhasilan materi, passion menulis yang dimiliki Omjay dianggap tidak penting. Omjay mulai merasa keberadaannya tidak benar-benar dihargai.
Berkali-kali saya mendengar ucapan yang menusuk hati, membuat saya mempertanyakan harga dirinya sendiri. Setiap malam Omjay menulis di blog bukan hanya karena hobi, melainkan karena hanya di sanalah saya bisa merasa didengar. Tulisan menjadi tempat pelariannya dari kesepian yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun.
Sampai akhirnya malam itu tiba, malam yang mengubah hidup Omjay selamanya. Setelah pertengkaran panjang yang kembali membuat suasana rumah penuh tangisan dan bentakan, Omjay masuk ke kamar dengan langkah lemas.
Dadanya sesak, pikirannya penuh, dan air mata yang selama ini saya tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah. Omjay duduk lama dalam gelap sambil memikirkan hidupnya.
Berkali-kali saya bertanya kepada diri sendiri apakah keputusan pergi dari rumah adalah tindakan egois. Namun di sisi lain, saya juga sadar bahwa jika terus bertahan dalam keadaan seperti itu, perlahan tapi pasti saya akan kehilangan diri sendiri.
Dengan tangan gemetar, Omjay memasukkan beberapa barang ke dalam tas. Omjay memandangi kamar itu untuk terakhir kalinya. Kamar sederhana yang menjadi saksi begitu banyak mimpi dan tangisan.
Sebelum keluar, saya mencium tangan ibu yang tertidur di ruang tengah tanpa membangunkannya. Dadanya terasa hancur saat melihat wajah wanita yang telah melahirkannya itu.
Dalam hati Omjay berkata, "Maafkan aku Bu, aku pergi bukan karena tidak sayang."