Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kuputuskan Pergi dari Rumah: Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia
Malam itu, langit Jakarta tampak muram seperti ikut memahami apa yang sedang dirasakan hati Omjay. Hujan turun perlahan membasahi jalanan ibu kota, sementara suara petir terdengar samar dari kejauhan.
Di sebuah kamar kecil yang selama bertahun-tahun menjadi tempat Omjay bertumbuh, belajar, dan menyimpan mimpi-mimpinya, pria yang kelak dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia itu duduk termenung memandangi tas lusuh di sudut ruangan.
Tidak banyak isi tas itu, hanya beberapa potong pakaian, buku catatan harian yang penuh tulisan tangan, beberapa lembar naskah artikel, dan sebuah foto keluarga yang diam-diam disimpan karena bagaimanapun juga, keluarga tetap menjadi bagian paling dalam dari hidupnya.
Malam itu menjadi malam paling berat dalam hidup Omjay, sebab untuk pertama kalinya Omjay memutuskan pergi dari rumah, meninggalkan tempat yang selama ini memberinya perlindungan sekaligus luka yang diam-diam terus menggerogoti batinnya setiap hari.
Sejak kecil, Omjay dikenal sebagai anak yang pendiam namun memiliki impian besar. Omjay percaya pendidikan bisa mengubah hidup seseorang, bahkan mengangkat derajat keluarga. Namun hidup tidak selalu berjalan seindah harapan.
Di dalam rumahnya sendiri, Omjay sering merasa tidak benar-benar dimengerti. Ketika saya mulai menyukai dunia menulis, banyak orang menganggap kegemarannya hanya membuang waktu.
Saat saya menghabiskan malam untuk mengetik artikel dan menuangkan isi hati di blog pribadi, ada suara-suara yang justru membuat semangat Omjay runtuh perlahan.
"Menulis itu tidak bikin kaya," kalimat itu masih sangat jelas terngiang di telinga Omjay hingga hari ini. Tidak hanya sekali saya mendengar cibiran, bahkan terkadang orang-orang terdekatnya sendiri mempertanyakan masa depan yang ingin saya perjuangkan.
Omjay mencoba bertahan. Omjay memilih diam ketika diremehkan. Omjay tetap tersenyum meski sering dianggap gagal hanya karena jalannya berbeda dari orang lain. Namun semakin hari, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang justru berubah menjadi tempat di mana saya paling sering menyembunyikan air mata.
Omjay tidak pernah membenci keluarganya. Saya sangat menyayangi mereka. Justru karena rasa sayang itu, Omjay terus mencoba mengerti keadaan. Ayahnya bekerja keras demi keluarga, sementara ibunya selalu berusaha memastikan semua kebutuhan rumah terpenuhi meski hidup serba terbatas.
Namun tekanan ekonomi sering membuat suasana rumah menjadi penuh emosi. Perdebatan kecil bisa berubah menjadi pertengkaran panjang. Omjay yang saat itu masih muda sering menjadi pelampiasan kemarahan keadaan.
Ketika nilai hidup diukur hanya dari uang dan keberhasilan materi, passion menulis yang dimiliki Omjay dianggap tidak penting. Omjay mulai merasa keberadaannya tidak benar-benar dihargai.
Berkali-kali saya mendengar ucapan yang menusuk hati, membuat saya mempertanyakan harga dirinya sendiri. Setiap malam Omjay menulis di blog bukan hanya karena hobi, melainkan karena hanya di sanalah saya bisa merasa didengar. Tulisan menjadi tempat pelariannya dari kesepian yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun.
Sampai akhirnya malam itu tiba, malam yang mengubah hidup Omjay selamanya. Setelah pertengkaran panjang yang kembali membuat suasana rumah penuh tangisan dan bentakan, Omjay masuk ke kamar dengan langkah lemas.
Dadanya sesak, pikirannya penuh, dan air mata yang selama ini saya tahan akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah. Omjay duduk lama dalam gelap sambil memikirkan hidupnya.
Berkali-kali saya bertanya kepada diri sendiri apakah keputusan pergi dari rumah adalah tindakan egois. Namun di sisi lain, saya juga sadar bahwa jika terus bertahan dalam keadaan seperti itu, perlahan tapi pasti saya akan kehilangan diri sendiri.
Dengan tangan gemetar, Omjay memasukkan beberapa barang ke dalam tas. Omjay memandangi kamar itu untuk terakhir kalinya. Kamar sederhana yang menjadi saksi begitu banyak mimpi dan tangisan.
Sebelum keluar, saya mencium tangan ibu yang tertidur di ruang tengah tanpa membangunkannya. Dadanya terasa hancur saat melihat wajah wanita yang telah melahirkannya itu.
Dalam hati Omjay berkata, "Maafkan aku Bu, aku pergi bukan karena tidak sayang."
Jalanan malam terasa begitu sunyi ketika Omjay melangkah meninggalkan rumah. Lampu-lampu jalan memantulkan bayangan tubuhnya yang tampak kecil di tengah dinginnya malam Jakarta.
Tidak ada tujuan pasti. Tidak ada kepastian hidup setelah itu. Yang ada hanya keberanian kecil untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari luka yang semakin dalam.
Di perjalanan, Omjay menangis diam-diam. Saya teringat masa kecil bersama keluarga, teringat suara tawa yang dulu pernah memenuhi rumah itu sebelum semuanya berubah menjadi dingin dan penuh tekanan.
Omjay sadar bahwa meninggalkan rumah bukan berarti menghapus rasa cinta kepada keluarga. Justru keputusan itu diambil karena hatinya sudah terlalu lelah untuk terus bertahan sambil berpura-pura baik-baik saja.
Hari-hari setelah pergi dari rumah bukanlah kisah indah seperti dalam film. Omjay harus berjuang sendirian. Omjay pernah tidur di tempat sempit, hidup dengan uang pas-pasan, bahkan menahan lapar demi tetap bisa membeli kuota internet untuk menulis di blognya.
Namun dari semua kesulitan itu, ada satu hal yang tidak pernah Omjay tinggalkan, yaitu menulis. Dalam kesepian, Omjay terus menulis. Dalam air mata, saya tetap menulis.
Blog yang awalnya hanya tempat curhat perlahan mulai dikenal banyak orang. Tulisan-tulisan Omjay tentang pendidikan, kehidupan, dan perjuangan menyentuh hati pembaca dari berbagai daerah di Indonesia.
Tanpa disadari, luka yang pernah hampir menghancurkannya justru menjadi sumber kekuatan yang membuatnya terus berkarya.
Tahun demi tahun berlalu, nama Omjay mulai dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia. Saya diundang berbicara di banyak tempat, menginspirasi guru dan pelajar untuk gemar menulis.
Banyak orang melihatnya sebagai sosok sukses yang penuh semangat. Namun tidak banyak yang tahu bahwa di balik semua pencapaiannya, ada kisah seorang anak yang pernah pergi dari rumah sambil menangis di tengah hujan malam.
Ada luka yang pernah begitu dalam hingga membuatnya merasa sendirian di dunia ini. Dan ada kerinduan yang diam-diam terus hidup terhadap keluarga yang pernah saya tinggalkan.
Sampai suatu hari, ketika Omjay sudah mulai menata hidupnya dengan lebih baik, saya memberanikan diri pulang ke rumah. Langkahnya terasa berat. Jantungnya berdebar ketika berdiri di depan pintu rumah yang dulu saya tinggalkan.
Namun ketika pintu terbuka dan ibunya memeluknya sambil menangis, semua rasa sakit yang selama ini membeku perlahan mencair. Tidak ada lagi kemarahan. Tidak ada lagi ego.
Hal yang ada hanya pelukan panjang antara anak dan ibu yang sama-sama saling merindukan. Saat itulah Omjay memahami bahwa rumah memang tidak selalu sempurna, tetapi rumah tetap menjadi tempat di mana cinta tidak pernah benar-benar hilang meski pernah dipenuhi luka dan air mata.
Kisah nyata Omjay dapat dibaca di link di bawah ini!
https://edukasi.kompas.com/read/2012/11/18/16364351/wijaya-kusumah-pak-guru-paling-nge-blog
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
