Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
https://www.youtube.com/watch?v=M7EcPULlsl0
Susahnya Tagih Hutang Ke Teman Sendiri. Inilah kisah Omjay di kompasiana tercinta dalam rangka memeriahkan topik pilihan kompasiana yang seru dan bikin ngiler Omjay untuk ikut menuliskannya di kompasiana.

Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan pertemanan sering kali dibangun atas dasar rasa percaya. Ketika seorang teman datang meminjam uang, hati kita biasanya mudah luluh.
Apalagi jika dia datang dengan wajah sedih, suara memelas, dan janji akan segera mengembalikan dalam waktu dekat. Kita menjadi tak tega melihat keadaannya.
Sebagai manusia yang memiliki rasa empati, kita tentu ingin membantu. Namun, tidak sedikit kisah persahabatan yang justru retak karena urusan hutang piutang.
Kisah tentang susahnya menagih hutang kepada teman sendiri pernah disampaikan oleh "Wijaya Kusumah", alias "Omjay Guru Blogger Indonesia" atau yang akrab dikenal sebagai Omjay Guru Blogger Indonesia di kompasiana.
Kisah ini begitu dekat dengan kehidupan banyak orang. Tidak sedikit guru, pegawai, bahkan pedagang kecil yang mengalami hal serupa. Niat hati ingin membantu teman yang kesusahan, tetapi pada akhirnya justru diri sendiri yang dibuat bingung dan kecewa.
Omjay pernah bercerita di kompasiana beberapa waktu lalu bahwa ada seorang teman yang datang kepadanya dengan alasan kebutuhan mendesak. Sebagai sahabat, Omjay merasa tidak tega menolak.
Omjay berpikir bahwa membantu teman adalah bagian dari ibadah dan bentuk kepedulian sosial. Tanpa banyak pertimbangan, Omjay meminjamkan sejumlah uang dengan harapan uang itu akan kembali sesuai janji.
Awalnya semua terlihat baik-baik saja. Teman tersebut berulang kali mengucapkan terima kasih dan berjanji akan segera melunasi hutangnya. Namun, setelah waktu yang dijanjikan tiba, tidak ada kabar sama sekali. Ketika dihubungi, jawabannya selalu sama, "Sebentar lagi ya," atau "Saya masih ada keperluan mendadak."
Hari demi hari berlalu. Omjay mulai merasa tidak nyaman. Di satu sisi ia membutuhkan uang itu kembali karena ada kebutuhan keluarga dan aktivitas pendidikan yang harus dipenuhi. Namun di sisi lain, ia juga tidak ingin merusak hubungan pertemanan hanya karena urusan hutang.
Inilah dilema terbesar ketika meminjamkan uang kepada teman sendiri. Kita serba salah. Kalau ditagih terlalu sering, takut dianggap tidak percaya atau pelit. Kalau didiamkan, justru membuat hati kesal dan pikiran tidak tenang. Omjasy mulai belajar cara menagih hutang pada orang yang susah ditagih melalui youtube.
https://www.youtube.com/shorts/I6hH5q657yM?feature=share
Fenomena ini sebenarnya sangat umum terjadi di masyarakat Indonesia. Banyak orang lebih berani berhutang daripada bertanggung jawab untuk membayar. Bahkan ada yang setelah meminjam uang justru menghindar, sulit dihubungi, dan pura-pura lupa. Ironisnya, pihak yang meminjamkan uang sering merasa sungkan untuk menagih.
Dalam budaya timur yang menjunjung tinggi rasa tidak enakan, menagih hutang kepada teman sering dianggap tindakan yang kurang sopan. Akibatnya, orang yang memberi pinjaman justru memendam rasa kecewa sendirian. Tidak sedikit pula persahabatan bertahun-tahun berakhir hanya karena hutang yang tidak dibayar.
Omjay mengambil banyak pelajaran dari pengalaman tersebut. Omjay menyadari bahwa membantu teman memang baik, tetapi harus tetap menggunakan pertimbangan yang bijaksana. Menolong orang lain jangan sampai membuat diri sendiri kesulitan. Kita perlu memahami batas kemampuan diri.
Seorang kawan guru pernah mengatakan bahwa sebelum meminjamkan uang, sebaiknya kita siap dengan kemungkinan terburuk, yaitu uang tersebut tidak kembali. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Jika sejak awal kita sudah siap kehilangan, maka rasa kecewa tidak akan terlalu besar.
Selain itu, penting juga membuat kesepakatan yang jelas. Banyak orang merasa tidak enak membuat catatan hutang kepada teman sendiri. Padahal, catatan sederhana justru bisa menjadi pengingat agar kedua belah pihak sama-sama bertanggung jawab. Kesepakatan tentang waktu pembayaran dan jumlah hutang akan membantu menghindari kesalahpahaman.
Kisah Omjay juga mengajarkan bahwa karakter seseorang bisa terlihat ketika berurusan dengan hutang. Orang yang bertanggung jawab akan berusaha menepati janji meskipun harus mencicil sedikit demi sedikit. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki rasa tanggung jawab sering kali menghilang tanpa kabar.
Sebagai seorang guru dan blogger, Omjay tidak hanya membagikan pengalaman hidup, tetapi juga hikmah di balik setiap peristiwa. Ia memilih menyikapi masalah tersebut dengan bijak. Walaupun merasa kecewa, ia tidak membalas dengan kemarahan. Omjay percaya bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di akhirat.
Dari kisah tersebut, kita belajar bahwa uang memang bisa menguji hubungan pertemanan. Banyak sahabat akrab berubah menjadi asing karena persoalan hutang. Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati ketika memutuskan memberi pinjaman kepada siapa pun, termasuk kepada teman dekat.
Kadang-kadang, menolak meminjamkan uang justru lebih baik daripada kehilangan persahabatan. Jika memang ingin membantu, kita bisa memberikan sesuai kemampuan yang ikhlas tanpa berharap kembali. Dengan begitu, hati menjadi lebih tenang.
Di sisi lain, bagi orang yang berhutang, penting untuk menjaga amanah. Jangan sampai kepercayaan orang lain hilang hanya karena tidak menepati janji. Hutang bukan sekadar urusan materi, tetapi juga menyangkut harga diri dan tanggung jawab moral.
Rasulullah SAW sendiri mengingatkan pentingnya menyelesaikan hutang. Dalam ajaran agama, hutang adalah kewajiban yang harus dibayar. Menunda pembayaran padahal mampu termasuk perbuatan yang tidak baik.
Pengalaman Omjay Guru Blogger Indonesia menjadi cermin bagi kita semua. Dalam kehidupan sosial, rasa empati memang penting, tetapi kebijaksanaan juga harus diutamakan. Membantu teman jangan sampai membuat hubungan menjadi renggang.
Kini saya memahami bahwa meminjamkan uang kepada teman memerlukan kehati-hatian. Tidak cukup hanya modal rasa kasihan. Kita juga perlu melihat karakter, tanggung jawab, dan kemampuan orang tersebut untuk mengembalikan.
Susahnya menagih hutang kepada teman sendiri bukan hanya soal uang yang belum kembali, tetapi juga soal menjaga perasaan dan hubungan baik. Ada rasa kecewa yang sulit diungkapkan ketika kepercayaan yang diberikan ternyata tidak dijaga.
Semoga kisah inspiratif dari Omjay ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa dalam urusan hutang piutang, kejujuran dan tanggung jawab adalah hal utama. Jangan sampai uang menjadi penyebab putusnya persahabatan yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Karena pada akhirnya, persahabatan sejati bukan diukur dari seberapa sering meminjam uang, melainkan dari seberapa besar kemampuan menjaga kepercayaan dan saling menghargai satu sama lain.
Demikianlah kisah Omjay tentang Susahnya Tagih Hutang Ke Teman Sendiri dalam rangka ikut memeriahkan topik pilihan kompasiana tercinta. Semoga pengalaman Omjay ini bermanfaat buat pembaca kompasiana.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
