Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah Omjay: Kejadian Ajaib Setelah Qurban dan Jangan Takut Miskin Karena Sedekah

22 Mei 2026   14:22 Diperbarui: 22 Mei 2026   14:22 203 5 3

omjay bicara di PGRI/dokpri
omjay bicara di PGRI/dokpri

Kejadian Ajaib Setelah Sedekah Kurban. Sebuah Pengalaman Hidup yang Tak Pernah Saya Lupakan. Inilah kisah Omjay atau Wijaya Kusumah di kompasiana dalam rangka ikut memeriahkan topik pilihan kompasiana tercinta. Tak terasa sudah dari tahun 2008 Omjay menulis di blog keroyokan papan atas ini.

Hari Raya Idul Adha selalu menghadirkan kenangan mendalam dalam hidup saya. Bagi sebagian orang, kurban hanyalah rutinitas tahunan. Ada yang melakukannya karena tradisi keluarga, ada pula karena kewajiban agama semata. Namun bagi saya, kurban adalah perjalanan spiritual yang mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, dan keyakinan kepada pertolongan Allah SWT.

Saya masih mengingat jelas sebuah kejadian yang sulit dilupakan. Peristiwa itu terjadi beberapa tahun lalu ketika kondisi keuangan keluarga sedang tidak baik-baik saja. 

Sebagai seorang guru, penghasilan yang saya terima harus dibagi untuk kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, transportasi, dan berbagai keperluan lainnya. Bahkan saat itu saya sempat berpikir untuk tidak berkurban terlebih dahulu.

Peluncuran Buku "Kisah Omjay 50 Tahun menjadi Manusia" 

Namun hati kecil terus berbisik. "Kalau bukan sekarang, kapan lagi belajar ikhlas?" begitu suara yang terus hadir dalam pikiran saya. Saat itu saya memiliki sedikit tabungan yang sebenarnya disiapkan untuk kebutuhan lain. 

Jumlahnya pas-pasan. Bahkan setelah dihitung berkali-kali, uang tersebut terasa berat untuk dikeluarkan membeli kambing kurban. Apalagi ada kebutuhan sekolah anak yang juga mendesak.

Malam sebelum membeli hewan kurban, saya sulit tidur. Pikiran terus dipenuhi pertimbangan antara logika dan keyakinan. Logika mengatakan uang itu harus disimpan. Namun keyakinan dalam hati mengatakan bahwa sedekah tidak pernah membuat seseorang miskin.

Akhirnya, setelah shalat tahajud, saya mengambil keputusan besar. Saya berkata kepada istri, "Kita belajar percaya kepada Allah. Insya Allah ada jalan." Istri saya tersenyum pelan dan mengangguk. Dukungan sederhana itu membuat hati saya semakin mantap.

Keesokan harinya, saya membeli seekor kambing kurban sederhana. Tidak besar, tidak mahal, tetapi dibeli dengan niat tulus. Saat menyerahkan uang pembayaran, ada rasa haru bercampur cemas di dalam dada. Tabungan hampir habis. Namun saya mencoba menenangkan diri.

Hari penyembelihan kurban tiba. Saya ikut membantu panitia membagikan daging kepada warga sekitar. Saya melihat wajah-wajah bahagia para penerima daging kurban. Ada tukang ojek, pedagang kecil, buruh harian, hingga janda lansia yang hidup sederhana.

Seorang bapak tua memegang tangan saya sambil berkata,

"Terima kasih ya Pak Guru. Sudah lama saya tidak makan daging."

Kalimat sederhana itu membuat mata saya berkaca-kaca. Saya baru menyadari bahwa kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih rasa cinta berlebihan kepada harta. 

Kejadian ajaib mulai terjadi beberapa hari kemudian.

Suatu sore, saya mendapat telepon dari seorang sahabat lama yang sudah bertahun-tahun tidak berkomunikasi. Sahabat tersebut menawarkan kesempatan menjadi narasumber pelatihan literasi digital untuk guru-guru di beberapa daerah. Honor yang ditawarkan jauh lebih besar dari perkiraan saya.

Awalnya saya mengira semua itu hanya kebetulan biasa. Namun ternyata bukan hanya itu. Beberapa hari setelahnya, tulisan saya di media online kembali viral dan banyak dibaca orang. 

Dari tulisan tersebut, saya mendapatkan beberapa undangan seminar dan pelatihan. Rezeki datang bertubi-tubi dari arah yang tidak disangka-sangka. Yang lebih mengejutkan lagi, ada seseorang yang tiba-tiba melunasi utang lama kepada saya. Padahal saya sendiri sudah hampir lupa bahwa orang tersebut pernah meminjam uang bertahun-tahun sebelumnya.

Saya hanya bisa terdiam. Dalam hati saya berkata, "Ya Allah, ternyata benar janji-Mu. Sedekah tidak mengurangi harta."

Sejak saat itu, saya semakin yakin bahwa keajaiban sedekah memang nyata. Bukan berarti setiap sedekah langsung dibalas dengan uang berlimpah. Kadang balasannya berupa kesehatan, ketenangan hati, keluarga yang harmonis, dipertemukan dengan orang-orang baik, atau dimudahkan urusan hidup.

Saya juga pernah mengalami kejadian lain yang tidak kalah mengharukan. Suatu ketika, ada seorang siswa yang hampir putus sekolah karena masalah biaya. Anak tersebut dikenal rajin dan memiliki semangat belajar tinggi. 

Melihat kondisi itu, saya bersama beberapa guru berinisiatif membantu secara diam-diam. Kami mengumpulkan dana seadanya agar siswa tersebut tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Beberapa tahun kemudian, siswa tersebut berhasil lulus kuliah dan menjadi orang sukses. Pada suatu acara reuni, siswa itu datang menemui saya sambil menangis.

"Pak, kalau dulu Bapak dan guru-guru tidak membantu saya, mungkin hidup saya sudah berbeda."

Saat mendengar ucapan itu, hati saya kembali bergetar. Ternyata sedekah bukan hanya soal materi, tetapi juga tentang menanam kebaikan yang kelak tumbuh menjadi kebahagiaan.

Di zaman sekarang, banyak orang takut bersedekah karena merasa kekurangan. Padahal justru dalam keadaan sempitlah nilai keikhlasan diuji. Orang kaya mungkin mudah memberi saat hartanya berlimpah. Namun orang yang tetap mau berbagi di tengah keterbatasan memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT.

Saya percaya bahwa sedekah dan kurban adalah investasi akhirat yang hasilnya sering kali juga dirasakan di dunia. Tidak selalu dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk pertolongan Allah yang datang pada waktu yang tepat.

Ada kalanya manusia merasa hidupnya berat. Rezeki terasa sempit. Masalah datang bertubi-tubi. Namun bisa jadi solusi dari semua itu bukan hanya bekerja lebih keras, melainkan juga memperbanyak berbagi kepada sesama. Karena tangan yang memberi sesungguhnya sedang membuka pintu rezeki untuk dirinya sendiri.

Kini setiap hari raya Idul Adha tiba, saya selalu mengingat pengalaman tersebut. Saya berusaha mengajak keluarga, sahabat, dan murid-murid untuk belajar ikhlas berbagi. Sebab kebahagiaan sejati bukan terletak pada seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.

Saya sering menuliskan pesan di blog pribadi yang ada di https://wijayalabs.com :

"Jangan takut miskin karena sedekah. Justru hati yang pelitlah yang sebenarnya miskin."

Dari pengalaman hidup yang saya alami sendiri, saya belajar bahwa kadang keajaiban datang setelah seseorang belajar melepaskan apa yang paling dicintainya demi membantu orang lain.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri
Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4