Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Bagi sebagian orang, mungkin perjalanan itu sudah cukup membanggakan. Namun, kehidupan ternyata masih menyiapkan babak yang lebih luar biasa. Takdir membawanya ke ujung timur Indonesia, ke tanah Papua Barat. Di sanalah Hammam menjalani pengabdian selama lima tahun. Jauh dari hiruk-pikuk Jakarta. Jauh dari kenyamanan kota besar. Jauh dari ruang kelas SMP Labschool yang dulu menjadi saksi kenakalannya.
Papua Barat mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Di tanah yang kaya akan keindahan alam itu, Hammam menyaksikan langsung hutan yang masih perawan, laut yang menyimpan raksasa samudra, budaya yang begitu luhur, dan kehidupan masyarakat pedalaman yang penuh makna. Setiap perjalanan menghadirkan pengalaman emosional yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Namun justru di sanalah pesan Omjay kembali hidup. Saat Hammam bingung bagaimana mengabadikan semua pengalaman luar biasa itu, ia kembali teringat pesan gurunya: "Menulislah setiap hari."
Akhirnya, ia mulai menuangkan semua kisah lapangannya ke dalam tulisan. Cerita tentang Papua, tentang manusia-manusia hebat di pelosok negeri, tentang alam yang memukau, tentang perjuangan, kesepian, harapan, dan rasa syukur. Semua ia tulis dengan jujur dari hati.
Tulisan-tulisan itu kemudian berkembang menjadi konten media sosial yang menarik perhatian banyak orang. Perlahan, karya-karyanya tumbuh. Apa yang dahulu hanya berupa catatan sederhana kini berubah menjadi jendela yang memperlihatkan keindahan Papua kepada dunia.
Siapa sangka, bocah bandel yang dulu hanya duduk di bangku SMP kini menjadi seorang petualang sekaligus pendokumentasi kehidupan di tanah timur Indonesia. Dan semua itu berawal dari satu kalimat guru.
Inilah kekuatan seorang pendidik sejati. Guru bukan hanya pengajar di depan kelas. Guru adalah penanam nilai. Kadang satu nasihat yang diucapkan tulus mampu hidup puluhan tahun dalam hati muridnya.
Bahkan ketika sang murid telah pergi jauh, bekerja di tempat yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, pesan itu tetap menjadi kompas kehidupan.
Kisah Hammam Silmi adalah bukti nyata bahwa pendidikan bukan sekadar angka rapor. Pendidikan adalah tentang sentuhan hati yang mampu mengubah arah hidup seseorang.
Banyak guru mungkin tidak pernah tahu seberapa besar pengaruh mereka terhadap murid-muridnya. Sungguh Omjay dahulu tidak pernah membayangkan bahwa kalimat sederhana tentang menulis akan menjadi titik balik kehidupan seorang anak yang merasa dirinya "bukan siapa-siapa".