Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Kisah Omjay kali ini ini tentang mantra Ajaib Omjay yang dibagikan kepada semua muridnya. Kalimat Sakti Omjay yang Mengubah Takdir Hammam Silmi, mantan murid Omjay (12 tahun lalu) yang telah sukses meraih cita-citanya, dan menjadi PNS atau ASN kementrian keuangan. Semoga bermanfaat buat pembaca kompasiana tercinta.
Ada guru yang mengajarkan ilmu, ada guru yang memberi nilai, dan ada pula guru yang diam-diam menanamkan api kehidupan di hati muridnya. Api itu mungkin kecil saat pertama dinyalakan, tetapi kelak mampu menerangi jalan panjang seorang anak manusia.
Kisah nyata itulah yang hidup dalam perjalanan Hammam Silmi, mantan murid SMP Labschool Jakarta, yang hari ini mengenang sosok gurunya dengan penuh haru:
Dua belas tahun lalu, Hammam hanyalah seorang bocah SMP yang bandel. Dia mengakui dirinya sering merasa paling hebat, petantang-petenteng di sekolah, dan lebih sibuk mencari perhatian dibanding memikirkan masa depan. Ruang kelas saat itu hanyalah tempat singgah sebelum kembali bercanda bersama teman-temannya.
Di tengah masa remaja yang penuh gejolak itu, Omjay hadir sebagai guru TIK yang sederhana, tetapi memiliki cara berpikir yang berbeda. Beliau tidak sekadar mengajarkan komputer atau teknologi. Ia menyelipkan nilai kehidupan di sela-sela pelajaran. Banyak materi mungkin terlupakan, tetapi ada satu kalimat yang ternyata menancap kuat di hati Hammam hingga hari ini.
"Menulislah kamu setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi."
Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana. Namun, siapa sangka, dari kalimat itulah takdir seorang murid perlahan berubah.
Awalnya Hammam tidak langsung memahami makna pesan tersebut. Ia hanya mulai mencoba menulis hal-hal kecil. Tugas sekolah. Catatan harian. Potongan pengalaman sederhana. Tidak ada ambisi besar saat itu. Tidak ada bayangan akan menjadi penulis, kreator konten, atau pencerita kehidupan.
Namun, menulis ternyata bekerja diam-diam. Kata demi kata yang ia tulis perlahan membentuk cara berpikirnya. Menulis membuatnya belajar mengamati hidup. Menulis membuatnya mengenali dirinya sendiri. Dari seorang anak yang dulu sulit diarahkan, Hammam mulai menemukan tujuan. Perjalanan hidup kemudian membawanya lulus di Politeknik Keuangan Negara STAN, sekolah kedinasan bergengsi yang menjadi impian banyak anak muda Indonesia. Setelah itu, ia diangkat menjadi ASN di Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Bagi sebagian orang, mungkin perjalanan itu sudah cukup membanggakan. Namun, kehidupan ternyata masih menyiapkan babak yang lebih luar biasa. Takdir membawanya ke ujung timur Indonesia, ke tanah Papua Barat. Di sanalah Hammam menjalani pengabdian selama lima tahun. Jauh dari hiruk-pikuk Jakarta. Jauh dari kenyamanan kota besar. Jauh dari ruang kelas SMP Labschool yang dulu menjadi saksi kenakalannya.
Papua Barat mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Di tanah yang kaya akan keindahan alam itu, Hammam menyaksikan langsung hutan yang masih perawan, laut yang menyimpan raksasa samudra, budaya yang begitu luhur, dan kehidupan masyarakat pedalaman yang penuh makna. Setiap perjalanan menghadirkan pengalaman emosional yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Namun justru di sanalah pesan Omjay kembali hidup. Saat Hammam bingung bagaimana mengabadikan semua pengalaman luar biasa itu, ia kembali teringat pesan gurunya: "Menulislah setiap hari."
Akhirnya, ia mulai menuangkan semua kisah lapangannya ke dalam tulisan. Cerita tentang Papua, tentang manusia-manusia hebat di pelosok negeri, tentang alam yang memukau, tentang perjuangan, kesepian, harapan, dan rasa syukur. Semua ia tulis dengan jujur dari hati.
Tulisan-tulisan itu kemudian berkembang menjadi konten media sosial yang menarik perhatian banyak orang. Perlahan, karya-karyanya tumbuh. Apa yang dahulu hanya berupa catatan sederhana kini berubah menjadi jendela yang memperlihatkan keindahan Papua kepada dunia.
Siapa sangka, bocah bandel yang dulu hanya duduk di bangku SMP kini menjadi seorang petualang sekaligus pendokumentasi kehidupan di tanah timur Indonesia. Dan semua itu berawal dari satu kalimat guru.
Inilah kekuatan seorang pendidik sejati. Guru bukan hanya pengajar di depan kelas. Guru adalah penanam nilai. Kadang satu nasihat yang diucapkan tulus mampu hidup puluhan tahun dalam hati muridnya.
Bahkan ketika sang murid telah pergi jauh, bekerja di tempat yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, pesan itu tetap menjadi kompas kehidupan.
Kisah Hammam Silmi adalah bukti nyata bahwa pendidikan bukan sekadar angka rapor. Pendidikan adalah tentang sentuhan hati yang mampu mengubah arah hidup seseorang.
Banyak guru mungkin tidak pernah tahu seberapa besar pengaruh mereka terhadap murid-muridnya. Sungguh Omjay dahulu tidak pernah membayangkan bahwa kalimat sederhana tentang menulis akan menjadi titik balik kehidupan seorang anak yang merasa dirinya "bukan siapa-siapa".
Namun hari ini, Hammam membuktikannya. Dari ribuan kilometer jauhnya dari ruang kelas SMP dulu, ia menyampaikan rasa terima kasih yang begitu tulus kepada gurunya. Sebuah ucapan sederhana, tetapi sarat makna dan air mata.
Terima kasih, Omjay. Terima kasih karena telah percaya bahwa setiap anak memiliki masa depan, bahkan ketika anak itu sendiri belum percaya pada dirinya. Terima kasih karena telah menanamkan kebiasaan menulis yang akhirnya membuka jalan kehidupan. Terima kasih karena telah menjadi guru yang bukan hanya mengajar teknologi, tetapi juga menyalakan harapan.
Di zaman hari ini, ketika banyak orang sibuk mencari cara instan untuk sukses, kisah Hammam mengingatkan kita bahwa perubahan besar sering kali lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Menulis setiap hari. Sebuah pesan sederhana. Namun bagi Hammam Silmi, pesan itu telah mengubah hidupnya sepenuhnya.
Semoga kisah nyata ini menjadi pengingat bagi para guru untuk tidak pernah lelah menanam kebaikan kepada murid-muridnya. Sebab kita tidak pernah tahu, satu kalimat yang keluar dari mulut seorang guru bisa menjadi cahaya yang menerangi masa depan anak bangsa. Dan bagi para murid, jangan pernah meremehkan nasihat guru yang tulus. Bisa jadi, di antara ribuan kata yang pernah kita dengar di sekolah, ada satu kalimat yang diam-diam sedang menuntun takdir hidup kita menuju jalan terbaik.
Kesimpulan dan kalimat penutup
Kisah Hammam Silmi membuktikan bahwa satu kalimat sederhana dari seorang guru mampu mengubah arah hidup muridnya. Pesan Omjay untuk “menulis setiap hari” bukan hanya menjadi motivasi, tetapi juga jalan yang membuka masa depan, membentuk karakter, dan menghadirkan keberanian untuk berkarya.
Dari bocah bandel di bangku SMP, Hammam Silmi tumbuh menjadi ASN Kementerian Keuangan sekaligus penulis dan pendokumentasi keindahan Papua Barat. Semua berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan tekun setiap hari: menulis.
Guru sejati tidak hanya mengajar di kelas, tetapi menanamkan nilai yang hidup sepanjang masa. Terima kasih Omjay, karena melalui tulisan, seorang murid menemukan jalan hidupnya, merawat mimpi-mimpinya, dan membuktikan bahwa kata-kata dapat mengubah takdir manusia.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
