Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Cara Memasarkan Buku Cetak dan Buku Digital Agar Cepat Laku

2 Juli 2026   18:23 Diperbarui: 2 Juli 2026   18:52 79 3 1

https://youtube.com/shorts/XNZo5XQ0P7k?si=mREBaEOGy9I6xoC9

Kisah Omjay kali ini tentang Cara Memasarkan Buku Cetak dan Buku Digital agar Cepat Laku. Semoga bermanfaat buat pembaca Kompasiana tercinta.

Buku buku karya Omjay/dokpri
Buku buku karya Omjay/dokpri

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Kalimat sederhana itu sudah lama menjadi semangat hidup saya. Namun, setelah berhasil menulis puluhan buku, saya menyadari bahwa perjuangan seorang penulis ternyata tidak berhenti ketika naskah selesai dicetak atau diunggah menjadi ebook. Justru perjuangan berikutnya adalah bagaimana buku tersebut sampai ke tangan pembaca dan memberikan manfaat bagi mereka.

Saya pernah merasakan betapa bahagianya ketika sebuah buku akhirnya terbit. Aroma tinta dari buku yang baru keluar dari percetakan menghadirkan rasa bangga yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Akan tetapi, beberapa hari kemudian saya mulai bertanya kepada diri sendiri, "Bagaimana caranya agar buku ini dibaca banyak orang?"

Pertanyaan itu akhirnya membawa saya belajar banyak hal tentang pemasaran buku. Saya mengikuti berbagai pelatihan, berdiskusi dengan penerbit, belajar dari para penulis sukses, hingga mencoba berbagai cara melalui media sosial, blog, webinar, dan komunitas guru. Dari perjalanan panjang itulah saya menemukan bahwa menjual buku sebenarnya bukan sekadar menawarkan barang, tetapi membangun kepercayaan dan hubungan baik dengan calon pembaca.

Banyak penulis gagal bukan karena bukunya jelek, melainkan karena tidak ada yang mengetahui keberadaan buku tersebut. Buku yang disimpan di lemari tidak akan pernah mengubah kehidupan siapa pun. Buku harus diperkenalkan, diceritakan, dipromosikan, dan direkomendasikan agar orang tertarik membacanya.

Saya kemudian mulai memanfaatkan blog pribadi https://wijayalabs.com sebagai rumah utama karya-karya saya. Setiap kali sebuah buku terbit, saya tidak hanya mengunggah sampulnya, tetapi juga menulis artikel tentang proses pembuatannya, manfaat isi buku, pengalaman selama menulis, hingga testimoni dari para pembaca. Cara ini membuat calon pembeli merasa lebih dekat dengan penulis sekaligus memahami alasan mengapa mereka perlu memiliki buku tersebut.

Media sosial juga menjadi sahabat terbaik saya. Saya membagikan kutipan inspiratif dari isi buku, foto bersama buku, video singkat saat membuka paket buku baru, hingga cerita di balik setiap bab yang saya tulis. Saya belajar bahwa orang lebih menyukai sebuah cerita daripada sekadar melihat gambar sampul buku. Ketika pembaca mengetahui perjuangan penulis, mereka akan merasa memiliki hubungan emosional dengan buku tersebut.

Saya juga memanfaatkan grup WhatsApp yang berisi guru, dosen, mahasiswa, dan komunitas literasi. Namun saya tidak pernah sekadar menuliskan, "Silakan beli buku saya." Saya lebih dahulu memberikan manfaat berupa artikel, tips menulis, pengalaman mengajar, atau informasi pendidikan. Setelah itu barulah saya memperkenalkan buku yang relevan dengan topik yang sedang dibahas. Cara ini jauh lebih efektif karena promosi terasa alami dan tidak memaksa.

Webinar menjadi salah satu media pemasaran paling ampuh yang pernah saya rasakan. Dalam setiap pelatihan menulis, saya selalu menyampaikan materi dengan sungguh-sungguh. Di akhir sesi, saya memperlihatkan buku yang menjadi pendalaman dari materi webinar tersebut. Peserta yang merasa terbantu biasanya dengan senang hati membeli buku karena mereka percaya isi buku akan memberikan manfaat lebih banyak daripada materi yang disampaikan dalam waktu terbatas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3