Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Saya juga belajar membuat konten video pendek. Saat ini banyak orang lebih senang menonton video satu hingga tiga menit dibandingkan membaca promosi yang panjang. Saya merekam proses membuka kardus berisi buku baru, menunjukkan isi halaman, kualitas cetakan, daftar isi, hingga beberapa kutipan menarik. Video sederhana seperti itu ternyata mampu meningkatkan minat pembaca karena mereka dapat melihat langsung kualitas buku yang ditawarkan.
Untuk ebook, strategi yang saya gunakan sedikit berbeda. Saya menekankan keunggulan ebook yang dapat dibaca kapan saja melalui ponsel, tablet, atau komputer. Harganya lebih terjangkau, tidak perlu ongkos kirim, dan bisa langsung diunduh setelah pembayaran selesai. Banyak guru yang akhirnya memilih ebook karena lebih praktis dibawa ke mana-mana.
Saya juga selalu membuat desain sampul yang menarik. Saya percaya bahwa sampul adalah pintu pertama yang dilihat calon pembaca. Sampul yang cerah, rapi, profesional, dan sesuai dengan isi buku akan meningkatkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, saya tidak pernah menganggap remeh desain cover. Bahkan saya rela melakukan beberapa kali revisi agar hasilnya benar-benar memikat.
Selain sampul, judul juga sangat menentukan. Judul yang jelas, mudah dipahami, dan menggugah rasa ingin tahu akan lebih mudah diingat. Saya berusaha memilih judul yang mampu menjelaskan manfaat utama buku dalam beberapa kata saja. Ketika seseorang membaca judulnya, ia langsung mengetahui nilai yang akan diperoleh setelah membaca buku tersebut.
Testimoni pembaca menjadi senjata pemasaran berikutnya. Saya selalu meminta izin kepada pembaca yang memberikan komentar positif untuk membagikan testimoni mereka. Ketika calon pembeli melihat banyak orang merasa puas setelah membaca buku tersebut, tingkat kepercayaan mereka akan meningkat secara signifikan.
Saya juga menyadari pentingnya konsistensi. Banyak penulis hanya semangat mempromosikan buku selama satu minggu setelah terbit, kemudian berhenti. Padahal pemasaran buku adalah pekerjaan jangka panjang. Saya masih mempromosikan buku yang terbit bertahun-tahun lalu karena setiap hari selalu ada calon pembaca baru yang belum mengenalnya.
Diskon pada momen tertentu juga cukup efektif. Misalnya saat Hari Pendidikan Nasional, Hari Guru Nasional, ulang tahun penulis, atau peluncuran buku baru. Pembeli merasa mendapatkan kesempatan istimewa sehingga lebih terdorong untuk segera melakukan pemesanan.
Saya pun berusaha hadir di berbagai komunitas literasi. Ketika menjadi narasumber seminar, workshop, atau pelatihan, saya membawa beberapa eksemplar buku. Banyak peserta yang akhirnya membeli karena dapat melihat langsung kualitas buku dan berbincang dengan penulisnya. Pertemuan tatap muka membangun kedekatan yang sulit digantikan oleh promosi digital.
Kerja sama dengan sekolah, perpustakaan, komunitas guru, dan perguruan tinggi juga membuka peluang besar. Buku yang relevan dengan kebutuhan pendidikan sering kali dibeli dalam jumlah lebih banyak jika ditawarkan kepada institusi yang tepat.
Dari seluruh pengalaman tersebut, saya menyimpulkan bahwa pemasaran buku memiliki beberapa prinsip sederhana. Pertama, bangun kepercayaan sebelum menawarkan produk. Kedua, hadir secara konsisten di berbagai media. Ketiga, berikan manfaat terlebih dahulu melalui tulisan, video, atau webinar. Keempat, dengarkan kebutuhan pembaca. Kelima, jangan pernah malu memperkenalkan karya sendiri karena jika penulis saja tidak bangga terhadap bukunya, bagaimana mungkin orang lain akan tertarik membelinya?
Bagi para penulis pemula, jangan berkecil hati jika penjualan belum sesuai harapan. Setiap buku memiliki pembacanya sendiri. Teruslah belajar memperbaiki kualitas tulisan, memperluas jaringan, dan memanfaatkan teknologi digital. Saat ini peluang menjual buku jauh lebih besar dibandingkan masa lalu karena internet memungkinkan kita menjangkau pembaca dari Sabang sampai Merauke, bahkan hingga mancanegara.