Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Para pedagang menyambut peziarah dengan senyum tulus. Saya melihat bahwa keberkahan ziarah bukan hanya dirasakan oleh para peziarah, tetapi juga menjadi sumber rezeki bagi masyarakat sekitar.
Mereka tidak meminta belas kasihan. Mereka bekerja dengan penuh semangat melayani tamu yang datang dari berbagai daerah. Saya membeli beberapa makanan ringan sebagai oleh-oleh.
Nilainya mungkin tidak seberapa, tetapi saya percaya setiap rupiah yang kita belanjakan di tempat seperti ini ikut menggerakkan roda ekonomi warga. Terkadang, membantu sesama tidak harus dalam jumlah besar. Membeli dagangan mereka pun sudah menjadi bentuk kepedulian.
Perjalanan menuju makam semakin menggetarkan hati. Saya membayangkan bagaimana dahulu Syekh Abdul Manaf datang ke kawasan yang masih berupa rawa di tepian Sungai Citarum.
Dengan penuh kesabaran beliau berdakwah, membangun perkampungan, dan menanamkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Dari perjuangan seorang ulama itulah lahir sebuah kampung adat yang hingga sekarang tetap mempertahankan identitasnya di tengah arus modernisasi.
Ketika berdiri di depan makam, saya tidak datang untuk meminta kepada penghuni kubur. Saya datang untuk mendoakan mereka sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW sekaligus mengambil pelajaran dari kehidupan orang-orang saleh yang telah lebih dahulu menghadap Allah SWT.
Ziarah kubur mengingatkan bahwa setiap manusia akan mengalami perjalanan yang sama. Cepat atau lambat, semua akan meninggalkan dunia ini. Di tengah keheningan itu saya teringat perjalanan hidup sendiri.
Sudah lebih dari tiga puluh tahun saya mengabdi sebagai guru. Banyak murid datang dan pergi. Banyak pengalaman manis dan pahit yang telah dilalui. Saya pernah sehat, pernah sakit, bahkan pernah diuji dengan stroke dan diabetes.
Semua itu membuat saya semakin sadar bahwa kesehatan, usia, dan kesempatan adalah nikmat yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh Allah SWT.Saat masih muda, kita sering merasa memiliki banyak waktu.
Kita menunda berbuat baik karena merasa besok masih ada. Namun berada di Makom Mahmud membuat saya kembali merenung. Berapa banyak orang yang dahulu berjalan di tempat ini, tetapi kini telah menjadi penghuni makam? Berapa banyak yang dahulu bercita-cita tinggi, tetapi akhirnya hanya membawa amalnya?
Saya teringat pesan para ulama bahwa manusia yang paling cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelahnya.
Bekal itu bukan rumah mewah, kendaraan mahal, atau tabungan melimpah. Bekal itu adalah iman, amal saleh, ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, anak saleh yang mendoakan orang tuanya, dan setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas.