Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah Omjay: Ziarah Ke Makom Mahmud Bandung

8 Juli 2026   15:17 Diperbarui: 8 Juli 2026   15:34 176 3 0

Tiket Masuk Pengunjung/dokpri
Tiket Masuk Pengunjung/dokpri

Kisah Omjay kali ini tentang Ziarah ke Makom Mahmud di Bandung. Ketika Langkah Kaki Mengingatkan Kita Bahwa Hidup di Dunia Hanya Sementara. Lipuatan kegiatan yang dituliskan Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia) untuk kompasiana tercinta.

"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." Kalimat yang sering kita dengar itu terasa begitu dekat ketika saya melangkahkan kaki menuju Makom Mahmud di Kampung Adat Mahmud, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. 

Tempat ini bukan sekadar kompleks pemakaman para ulama, tetapi juga ruang perenungan yang mengajak setiap pengunjung mengingat hakikat kehidupan. 


Kampung Adat Mahmud sendiri dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di wilayah Bandung yang didirikan oleh Syekh Abdul Manaf atau yang dikenal masyarakat sebagai Eyang Dalem Mahmud. 

Hingga kini, masyarakatnya masih menjaga tradisi, adat, dan nilai-nilai keislaman yang diwariskan para leluhur. Omjay datang berziarah bersama keluarga tercinta.

ziarah ke makom Mahmud bandung

Begitu memasuki kawasan Makom Mahmud, suasana hati saya berubah. Hiruk-pikuk kota Bandung seakan tertinggal jauh di belakang. Udara terasa lebih tenang. Langkah kaki melambat. 

Hati yang sebelumnya dipenuhi berbagai kesibukan mendadak diajak berdialog dengan diri sendiri. Di tempat seperti inilah manusia diingatkan bahwa jabatan, kekayaan, popularitas, bahkan segala kebanggaan dunia tidak akan ikut dibawa ke liang lahat.

Di sepanjang jalan menuju makam, saya melihat banyak warung kecil yang menjual oleh-oleh. Salah satunya adalah warung yang saya abadikan dalam foto. Aneka kerupuk, rengginang, opak, makanan ringan, hingga bawang merah dijajakan dengan rapi. 

Para pedagang menyambut peziarah dengan senyum tulus. Saya melihat bahwa keberkahan ziarah bukan hanya dirasakan oleh para peziarah, tetapi juga menjadi sumber rezeki bagi masyarakat sekitar. 

Mereka tidak meminta belas kasihan. Mereka bekerja dengan penuh semangat melayani tamu yang datang dari berbagai daerah. Saya membeli beberapa makanan ringan sebagai oleh-oleh. 

Nilainya mungkin tidak seberapa, tetapi saya percaya setiap rupiah yang kita belanjakan di tempat seperti ini ikut menggerakkan roda ekonomi warga. Terkadang, membantu sesama tidak harus dalam jumlah besar. Membeli dagangan mereka pun sudah menjadi bentuk kepedulian.

Perjalanan menuju makam semakin menggetarkan hati. Saya membayangkan bagaimana dahulu Syekh Abdul Manaf datang ke kawasan yang masih berupa rawa di tepian Sungai Citarum. 

Dengan penuh kesabaran beliau berdakwah, membangun perkampungan, dan menanamkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Dari perjuangan seorang ulama itulah lahir sebuah kampung adat yang hingga sekarang tetap mempertahankan identitasnya di tengah arus modernisasi.

Ketika berdiri di depan makam, saya tidak datang untuk meminta kepada penghuni kubur. Saya datang untuk mendoakan mereka sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW sekaligus mengambil pelajaran dari kehidupan orang-orang saleh yang telah lebih dahulu menghadap Allah SWT. 

Ziarah kubur mengingatkan bahwa setiap manusia akan mengalami perjalanan yang sama. Cepat atau lambat, semua akan meninggalkan dunia ini. Di tengah keheningan itu saya teringat perjalanan hidup sendiri. 

Sudah lebih dari tiga puluh tahun saya mengabdi sebagai guru. Banyak murid datang dan pergi. Banyak pengalaman manis dan pahit yang telah dilalui. Saya pernah sehat, pernah sakit, bahkan pernah diuji dengan stroke dan diabetes. 

Semua itu membuat saya semakin sadar bahwa kesehatan, usia, dan kesempatan adalah nikmat yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh Allah SWT.Saat masih muda, kita sering merasa memiliki banyak waktu. 

Kita menunda berbuat baik karena merasa besok masih ada. Namun berada di Makom Mahmud membuat saya kembali merenung. Berapa banyak orang yang dahulu berjalan di tempat ini, tetapi kini telah menjadi penghuni makam? Berapa banyak yang dahulu bercita-cita tinggi, tetapi akhirnya hanya membawa amalnya?

Saya teringat pesan para ulama bahwa manusia yang paling cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelahnya. 

Bekal itu bukan rumah mewah, kendaraan mahal, atau tabungan melimpah. Bekal itu adalah iman, amal saleh, ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, anak saleh yang mendoakan orang tuanya, dan setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas.

Sebagai seorang guru, saya merasa profesi ini adalah ladang amal yang sangat luas. Setiap ilmu yang diajarkan dengan ikhlas akan terus mengalir pahalanya ketika murid mengamalkan ilmu tersebut. 

Itulah sebabnya saya selalu berusaha menulis setiap hari. Saya ingin meninggalkan jejak kebaikan melalui tulisan. Siapa tahu, setelah saya tiada, masih ada orang yang membaca tulisan saya, mengambil manfaat darinya, lalu mendoakan penulisnya.

Di Makom Mahmud saya belajar bahwa warisan terbaik bukanlah harta, melainkan keteladanan. Syekh Abdul Manaf tidak dikenang karena kekayaannya. Beliau dikenang karena ilmu, dakwah, akhlak, dan pengabdiannya kepada masyarakat. 

Berabad-abad setelah wafatnya, orang masih datang mendoakan beliau. Itulah bukti bahwa hidup yang penuh manfaat akan terus dikenang sepanjang masa. Saya juga melihat banyak keluarga yang datang bersama anak-anak mereka. 

Pemandangan itu sangat menyentuh hati. Orang tua mengajarkan kepada anak-anaknya tentang sejarah, tentang perjuangan ulama, sekaligus mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. 

Pendidikan seperti inilah yang sering kali tidak ditemukan di ruang kelas, tetapi justru sangat membekas di hati. Perjalanan pulang terasa berbeda. Saya membawa oleh-oleh dalam tas, tetapi oleh-oleh yang paling berharga sesungguhnya ada di dalam hati. 

Saya membawa kesadaran bahwa hidup harus lebih bermanfaat. Saya membawa tekad untuk lebih banyak bersyukur. Saya membawa semangat untuk terus berkarya selama Allah masih memberikan kesempatan.

Saya pun berdoa, "Ya Allah, jadikanlah sisa umurku lebih baik daripada masa laluku. Ampunilah dosa-dosaku, kedua orang tuaku, para guru-guruku, dan seluruh kaum muslimin yang telah mendahului kami. Wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah."

Bagi siapa pun yang berkesempatan berkunjung ke Bandung, sempatkanlah singgah ke Makom Mahmud. Jangan hanya datang untuk melihat makam. Datanglah untuk melihat diri sendiri. 

Datanglah untuk bercermin kepada kehidupan. Sebab makam bukanlah tempat yang menakutkan bagi orang beriman, melainkan pengingat bahwa setiap perjalanan di dunia pasti memiliki akhir.

Semoga setiap langkah yang kita ayunkan menuju tempat-tempat penuh keberkahan menjadi langkah yang semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Semoga pula kita semua diberi kekuatan untuk mengisi sisa usia dengan amal terbaik, menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, dan kelak dipanggil pulang dalam keadaan membawa bekal yang diridhoi-Nya.

"Karena pada akhirnya, bukan seberapa lama kita hidup yang akan ditanya, melainkan seberapa banyak kebaikan yang telah kita tinggalkan."


Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri
Omjay Guru Blogger Indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4