Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Mimpi adalah kunci Jendela Jiwa yang Mengajarkan Harapan. Inilah Kisah Omjay Menyelami Makna Mimpi dalam Kehidupan. Sebuah kisah nyata yang dituliskan Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia) untuk kompasiana tercinta.
https://youtube.com/shorts/GweN0kmcEpM?si=NnydHwIvsVa3RVPk
Pagi itu saya terbangun lebih awal dari biasanya. Jam dinding baru menunjukkan pukul empat dini hari.
Di luar rumah suasana masih sunyi. Hanya terdengar suara ayam yang mulai berkokok dan angin pagi yang berembus pelan.
Saya duduk di tepi tempat tidur sambil mengingat sebuah mimpi yang terasa begitu nyata.

Dalam mimpi itu saya bertemu kembali dengan ayah dan ibu yang telah lama tiada. Kami berbincang hangat seperti dahulu.
Mereka tersenyum, memberi nasihat, lalu perlahan menghilang. Ketika saya terbangun, hati terasa damai sekaligus rindu.
Saya pun bertanya dalam hati, "Apa sebenarnya mimpi itu? Mengapa manusia harus bermimpi? Mengapa ada mimpi yang terasa begitu nyata, sementara ada pula yang sama sekali tidak masuk akal?"
Pertanyaan itu rupanya juga sering diajukan oleh banyak orang. Sejak zaman dahulu, mimpi selalu menjadi misteri yang menarik perhatian manusia.
Ada yang menganggap mimpi hanyalah bunga tidur. Ada yang percaya mimpi merupakan pesan dari Allah. Ada pula yang memandang mimpi sebagai hasil kerja otak saat kita beristirahat.
Sebagai seorang guru, saya merasa setiap pertanyaan adalah pintu menuju ilmu. Karena itu saya mulai membaca berbagai buku, jurnal, dan juga mengingat kembali ajaran agama yang saya pelajari sejak kecil. Dari sanalah saya memahami bahwa mimpi ternyata memiliki banyak sisi yang menarik.
Secara ilmiah, mimpi merupakan pengalaman yang dialami seseorang ketika sedang tidur, terutama pada fase REM (Rapid Eye Movement). Pada fase ini otak justru bekerja sangat aktif meskipun tubuh sedang beristirahat. Otak menyusun kembali berbagai pengalaman, emosi, kenangan, bahkan harapan yang tersimpan di dalam pikiran. Itulah sebabnya seseorang dapat bermimpi tentang pekerjaan, keluarga, masa kecil, bahkan tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa mimpi membantu otak mengolah informasi, memperkuat ingatan, serta menyeimbangkan emosi. Ketika seseorang mengalami tekanan hidup, mimpi sering menjadi cara alami otak untuk melepaskan beban tersebut. Oleh karena itu, hampir setiap manusia pasti bermimpi, walaupun tidak semua orang mampu mengingat mimpinya setelah bangun tidur.
Namun sebagai seorang muslim, saya juga percaya bahwa mimpi tidak hanya bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Dalam ajaran Islam, mimpi dibagi menjadi tiga macam.
Pertama adalah mimpi yang baik atau kabar gembira dari Allah. Mimpi seperti ini biasanya menenangkan hati dan memberi semangat.
Kedua adalah mimpi yang berasal dari bisikan setan, yang bertujuan menakut-nakuti manusia.
Ketiga adalah mimpi yang muncul karena pikiran dan aktivitas sehari-hari. Misalnya seseorang yang seharian memikirkan pekerjaan, maka malam harinya ia bermimpi tentang pekerjaannya.
Saya teringat ketika masih menjadi mahasiswa di IKIP Jakarta. Menjelang ujian akhir, hampir setiap malam saya bermimpi terlambat datang ke ruang ujian atau lupa membawa kartu peserta.
Setelah bangun, saya tersenyum sendiri karena ternyata semua itu hanyalah kecemasan yang terbawa ke alam mimpi. Ketika ujian benar-benar berlangsung, semuanya berjalan lancar.
Pengalaman itu mengajarkan bahwa mimpi sering kali menjadi cermin dari apa yang sedang memenuhi pikiran kita.
Dalam perjalanan hidup sebagai guru selama puluhan tahun, saya juga sering mendengar kisah para murid yang menceritakan mimpi mereka.
Ada yang bermimpi menjadi dokter, guru, polisi, penulis, bahkan astronot. Saya selalu mengatakan kepada mereka bahwa jangan hanya bermimpi ketika tidur, tetapi bermimpilah ketika terjaga. Mimpi ketika tidur memang tidak bisa kita kendalikan, tetapi mimpi tentang cita-cita harus diwujudkan dengan kerja keras.
Saya sendiri pernah memiliki mimpi sederhana, yaitu ingin menjadi guru yang mampu menginspirasi banyak orang melalui tulisan.
Saat pertama kali belajar menulis, saya tidak pernah membayangkan akan menulis ribuan artikel, menerbitkan buku, menjadi narasumber di berbagai daerah, bahkan dikenal sebagai Omjay Guru Blogger Indonesia. Semua itu berawal dari sebuah mimpi yang terus dipelihara dengan doa, belajar, dan kerja keras.
Oleh karena itulah saya percaya bahwa mimpi memiliki dua makna.
Yang pertama adalah mimpi ketika kita tidur. Yang kedua adalah impian yang kita bangun ketika sadar.
Keduanya sama-sama penting. Mimpi saat tidur dapat menjadi bahan renungan, sedangkan impian saat terjaga menjadi kompas yang mengarahkan kehidupan kita.
Ada pula orang yang bertanya, mengapa ada mimpi yang terasa sangat nyata? Jawabannya karena otak kita mampu menciptakan pengalaman yang begitu hidup.
Saat bermimpi, bagian otak yang mengatur emosi bekerja sangat aktif sehingga rasa bahagia, sedih, takut, bahkan haru terasa seperti benar-benar terjadi. Tidak heran jika ada orang yang menangis ketika bangun tidur atau tertawa sendiri karena mimpi yang lucu.
Sebaliknya, ada pula mimpi yang aneh dan sulit dipahami. Kita bisa bermimpi berada di dua tempat sekaligus atau bertemu orang yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu.
Hal itu terjadi karena otak sedang menggabungkan berbagai kenangan menjadi cerita baru tanpa mengikuti aturan logika seperti ketika kita sadar.
Saya sering merenungkan bahwa kehidupan ini sendiri kadang terasa seperti mimpi. Waktu berjalan begitu cepat.
Rasanya baru kemarin saya menjadi mahasiswa, lalu menjadi guru muda, membimbing ribuan siswa, mengajar para guru di berbagai daerah, hingga kini dipercaya menjadi narasumber dan penulis. Semua berlalu begitu cepat. Jika tidak diisi dengan amal baik, waktu akan habis begitu saja.
Mimpi juga mengajarkan kita tentang harapan. Ketika seseorang kehilangan harapan, hidupnya akan terasa kosong. Sebaliknya, orang yang memiliki impian akan bangun setiap pagi dengan semangat baru. Itulah sebabnya saya selalu mengajak para guru untuk terus belajar, menulis, dan berbagi pengalaman. Jangan pernah berhenti bermimpi hanya karena usia bertambah. Selama napas masih berembus, kesempatan untuk berkarya tetap terbuka.
Saya juga belajar bahwa tidak semua mimpi harus ditafsirkan secara berlebihan. Ada orang yang setiap bangun tidur langsung mencari arti mimpinya. Padahal tidak semua mimpi memiliki makna khusus. Yang lebih penting adalah mengambil hikmah dari mimpi yang membuat hati menjadi lebih baik. Jika bermimpi baik, bersyukurlah kepada Allah. Jika bermimpi buruk, berlindunglah kepada Allah dan jangan biarkan rasa takut menguasai diri.
Sebagai guru, saya selalu ingin menyampaikan kepada para siswa bahwa ilmu pengetahuan dan keimanan tidak perlu dipertentangkan. Penjelasan ilmiah tentang mimpi membantu kita memahami cara kerja otak. Sementara ajaran agama membimbing kita agar menyikapi mimpi dengan bijaksana. Keduanya saling melengkapi sehingga manusia memperoleh pemahaman yang utuh.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa mimpi adalah salah satu tanda kebesaran Allah. Melalui mimpi, manusia belajar mengenal dirinya sendiri. Kita belajar tentang rasa takut, harapan, kerinduan, dan cita-cita. Mimpi mengingatkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang terlihat oleh mata, tetapi juga tentang apa yang hidup di dalam hati.
Ketika matahari mulai terbit pagi itu, saya menutup buku catatan dan bersiap menjalani aktivitas sebagai guru. Saya tersenyum mengingat mimpi semalam. Mungkin mimpi itu hanyalah bunga tidur. Mungkin juga menjadi pengingat agar saya selalu mendoakan kedua orang tua yang telah mendahului. Apa pun maknanya, saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk bangun, bernapas, berkarya, dan menulis.
Maka saya ingin menutup kisah ini dengan pesan sederhana. Jangan takut bermimpi. Jangan malu memiliki cita-cita yang tinggi. Mimpi adalah awal dari setiap perjalanan besar. Namun ingatlah, mimpi tidak akan berubah menjadi kenyataan hanya dengan tidur. Ia akan menjadi kenyataan ketika kita bangun, berdoa, belajar, bekerja keras, dan terus melangkah tanpa menyerah.
Sebab kehidupan yang indah bukanlah kehidupan yang hanya dipenuhi mimpi, melainkan kehidupan yang mampu mengubah mimpi menjadi kenyataan, lalu menjadikannya manfaat bagi sesama. Itulah pelajaran terbesar yang saya rasakan selama menjadi guru, penulis, dan pembelajar sepanjang hayat. Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Dari sebuah mimpi kecil, Allah dapat membuka jalan menuju karya-karya besar yang menginspirasi banyak orang.
Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru blogger indonesia