Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.
Saat itu udara China terasa cukup dingin. Jaket tebal menjadi sahabat setia. Namun dinginnya cuaca sama sekali tidak mampu mengurangi kehangatan senyum orang-orang yang saling menyapa.
Omjay masih mengingat dengan jelas bagaimana rasa haru menyelimuti hati kami ketika melihat papan bertuliskan QING ZHEN SI lengkap dengan kaligrafi Arab di bagian atasnya.
Seakan-akan ada pesan yang ingin disampaikan. Di mana pun seorang muslim berada, rumah Allah selalu menjadi tempat pulang.Di depan masjid itu, berbagai bahasa terdengar bersahutan.
Ada yang berbicara dalam bahasa Arab, Inggris, Urdu, Mandarin, hingga bahasa Indonesia. Warna kulit berbeda. Negara asal berbeda. Profesi berbeda. Namun ketika azan berkumandang, semua perbedaan itu seakan lenyap. Yang tersisa hanyalah persaudaraan.
Omjay kemudian teringat firman Allah bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Hari itu ayat tersebut terasa hidup di depan mata.
Masjid itu dipenuhi jamaah dari berbagai penjuru dunia. Ada mahasiswa asal Pakistan, pedagang dari Timur Tengah, pekerja dari Afrika, warga Muslim Hui di China, hingga rombongan dosen Indonesia yang sedang mengikuti kegiatan akademik.
Tak ada yang saling mengenal sebelumnya. Namun semua saling tersenyum. Saling memberi jalan. Saling mengucapkan salam. Begitulah indahnya ukhuwah Islamiyah.
Di pelataran masjid, Omjay sempat berbincang dengan beberapa mahasiswa asing. Mereka bercerita tentang perjuangan menuntut ilmu di negeri orang. Ada yang sudah bertahun-tahun meninggalkan keluarga.
Ada pula yang baru beberapa bulan menyesuaikan diri dengan budaya China. Obrolan sederhana itu mengajarkan satu hal. Di mana pun berada, manusia membutuhkan tempat untuk menguatkan hati. Dan masjid selalu menjadi tempat terbaik untuk itu.
Perjalanan ke China sebenarnya bertujuan mempelajari perkembangan teknologi pendidikan dan STEAM di salah satu universitas ternama. Namun justru pengalaman sederhana di sebuah masjid menjadi pelajaran kehidupan yang paling berharga.
Omjay menyadari bahwa ilmu pengetahuan memang mampu membawa manusia menjelajah dunia. Tetapi imanlah yang membuat manusia tidak kehilangan arah.