Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Kisah Omjay di Masjid Qing Zhen Si China Tahun 2019

25 Juli 2026   21:06 Diperbarui: 25 Juli 2026   21:06 91 3 2

omjay dkk di masjid china/dokpri
omjay dkk di masjid china/dokpri

Kisah Omjay di Masjid Qing Zhen Si China Tahun 2019. Ketika Langkah Membawaku ke Masjid Qing Zhen Si: Kenangan Indah Omjay dan tak terlupakan di Negeri Tirai Bambu Tahun 2019. 

Kisah Omjay atau Wijaya Kusumah yang berangkat kuliah singkat atau short course di China University Of Mining Technology (CUMT) tahun 2019. Kisah perjalanan lengkap ada di Blog https://wijayalabs.com/about.

Perjalanan bukan sekadar berpindah tempat. Perjalanan adalah cara Tuhan mengajarkan manusia melihat dunia dengan hati yang lebih luas. Inilah kisah Omjay yang menjalani kuliah singkat di china selama 21 hari di CUMT.

https://youtu.be/JzP8FN5B5tE

Tahun 2019 menjadi salah satu lembaran paling berharga dalam perjalanan hidup Omjay. Kesempatan mengikuti kegiatan akademik di China bukan hanya membuka wawasan tentang pendidikan dan teknologi, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual yang tak pernah terlupakan. 

Salah satu momen yang paling membekas adalah ketika langkah kaki mengantarkan Omjay menuju sebuah masjid yang berdiri megah di tengah hiruk-pikuk kota, Qing Zhen Si.

Dalam bahasa Mandarin, Qing Zhen Si berarti masjid atau tempat ibadah umat Islam. Istilah ini secara harfiah bermakna "Kuil Kemurnian dan Kebenaran" dan telah lama digunakan di China untuk menyebut masjid. 

Foto yang tersimpan hingga kini menjadi saksi bisu sebuah perjumpaan lintas budaya. Di depan bangunan masjid tampak puluhan orang dari berbagai negara berkumpul. 

Ada mahasiswa, pekerja, wisatawan, hingga rombongan dari Indonesia yang datang dengan tujuan yang sama, yaitu menunaikan ibadah sekaligus merasakan hangatnya persaudaraan sesama muslim di negeri yang jauh dari kampung halaman.

https://youtu.be/Yz-LNbt46jg

Saat itu udara China terasa cukup dingin. Jaket tebal menjadi sahabat setia. Namun dinginnya cuaca sama sekali tidak mampu mengurangi kehangatan senyum orang-orang yang saling menyapa.

Omjay masih mengingat dengan jelas bagaimana rasa haru menyelimuti hati kami ketika melihat papan bertuliskan QING ZHEN SI lengkap dengan kaligrafi Arab di bagian atasnya. 

Seakan-akan ada pesan yang ingin disampaikan. Di mana pun seorang muslim berada, rumah Allah selalu menjadi tempat pulang.Di depan masjid itu, berbagai bahasa terdengar bersahutan. 

Ada yang berbicara dalam bahasa Arab, Inggris, Urdu, Mandarin, hingga bahasa Indonesia. Warna kulit berbeda. Negara asal berbeda. Profesi berbeda. Namun ketika azan berkumandang, semua perbedaan itu seakan lenyap. Yang tersisa hanyalah persaudaraan.

Omjay kemudian teringat firman Allah bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Hari itu ayat tersebut terasa hidup di depan mata.

Masjid itu dipenuhi jamaah dari berbagai penjuru dunia. Ada mahasiswa asal Pakistan, pedagang dari Timur Tengah, pekerja dari Afrika, warga Muslim Hui di China, hingga rombongan dosen Indonesia yang sedang mengikuti kegiatan akademik.

Tak ada yang saling mengenal sebelumnya. Namun semua saling tersenyum. Saling memberi jalan. Saling mengucapkan salam. Begitulah indahnya ukhuwah Islamiyah.

Di pelataran masjid, Omjay sempat berbincang dengan beberapa mahasiswa asing. Mereka bercerita tentang perjuangan menuntut ilmu di negeri orang. Ada yang sudah bertahun-tahun meninggalkan keluarga. 

Ada pula yang baru beberapa bulan menyesuaikan diri dengan budaya China. Obrolan sederhana itu mengajarkan satu hal. Di mana pun berada, manusia membutuhkan tempat untuk menguatkan hati. Dan masjid selalu menjadi tempat terbaik untuk itu.

Perjalanan ke China sebenarnya bertujuan mempelajari perkembangan teknologi pendidikan dan STEAM di salah satu universitas ternama. Namun justru pengalaman sederhana di sebuah masjid menjadi pelajaran kehidupan yang paling berharga.

Omjay menyadari bahwa ilmu pengetahuan memang mampu membawa manusia menjelajah dunia. Tetapi imanlah yang membuat manusia tidak kehilangan arah.

Sesudah melaksanakan salat berjamaah, rombongan melanjutkan perjalanan mencari makanan halal di sekitar kawasan masjid. Aroma mi hangat yang mengepul dari warung sederhana langsung menggoda selera. 

Penjualnya sangat ramah. Beberapa di antaranya bahkan sudah terbiasa melayani mahasiswa internasional. Semangkuk cup mi halal di negeri orang ternyata menghadirkan rasa yang berbeda.

Bukan semata-mata karena bumbunya. Melainkan karena dimakan setelah hati dipenuhi rasa syukur.

Omjay masih mengingat bagaimana obrolan santai bersama rekan-rekan dari Indonesia berlangsung penuh tawa. Mereka saling berbagi cerita tentang keluarga, sekolah, murid-murid, hingga mimpi membawa pulang pengalaman terbaik untuk memajukan pendidikan di tanah air.

Kini, tujuh tahun telah berlalu. Foto itu kembali membuka pintu kenangan. Sebagian wajah dalam foto mungkin sudah kembali ke negaranya masing-masing. 

Ada yang telah menjadi dosen, peneliti, kepala sekolah, bahkan mungkin ada yang sedang mengabdi di tempat yang jauh berbeda. Namun kenangan tidak pernah benar-benar pergi. Kenangan itu selalu tinggal di dalam hati.

Melihat foto tersebut membuat Omjay semakin yakin bahwa perjalanan memiliki makna jauh lebih besar daripada sekadar wisata. Perjalanan adalah sekolah kehidupan. Setiap langkah mengajarkan kerendahan hati. Setiap pertemuan memperluas persaudaraan. Setiap pengalaman menambah rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Kini, ketika kembali mengajar di Indonesia, setiap kali menceritakan pengalaman belajar di luar negeri kepada para siswa, Omjay selalu menyisipkan satu pesan sederhana.

"Pergilah mencari ilmu setinggi mungkin. Jelajahilah dunia seluas mungkin. Namun jangan pernah lupa membawa iman ke mana pun kaki melangkah. Sebab ilmu akan membuatmu dihormati manusia, sedangkan iman akan membuatmu dicintai Allah."

Foto di depan Masjid Qing Zhen Si bukan sekadar dokumentasi perjalanan tahun 2019. Foto itu adalah pengingat bahwa persaudaraan tidak mengenal batas negara, bahasa, maupun warna kulit. Ketika hati dipersatukan oleh keimanan dan semangat mencari ilmu, dunia terasa menjadi rumah yang lebih hangat.

Semoga Allah memberikan kesempatan kepada Omjay untuk kembali menginjakkan kaki di negeri Tirai Bambu, bersujud lagi di masjid yang penuh kenangan itu, bertemu kembali dengan sahabat-sahabat dari berbagai bangsa, dan terus menebarkan manfaat melalui pendidikan serta tulisan.

Karena setiap perjalanan akan berakhir. Namun kisah yang ditulis dengan hati akan tetap hidup, menginspirasi, dan dikenang sepanjang masa.


Salam Blogger Persahabatan

Wijaya Kusumah - omjay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Omjay guru blogger indonesia/dokpri
Omjay guru blogger indonesia/dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4