Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Menulis adalah Paspor Dunia: Skill yang Akan Dibawa Omjay Jika Harus Menjadi Warga Negara Asing. Jika Omjay Harus Menjadi Warga Negara Asing, Skill Apa yang Akan Dibawanya? Menulis adalah Paspor yang Tak Pernah Kedaluwarsa.
Pendahuluan
Omjay sedang melamun. Bayangkan jika suatu hari saya harus meninggalkan Indonesia. Entah karena tugas, kesempatan mengajar, atau bahkan keadaan yang mengharuskan saya menetap di luar negeri dan menjadi warga negara asing.
Pertanyaan yang muncul bukanlah negara mana yang akan saya pilih, melainkan bekal apa yang paling berharga untuk saya bawa? Apakah ijazah? Tentu penting. Apakah pengalaman mengajar selama puluhan tahun? Sangat berharga. Namun, semua itu belum tentu langsung dikenali oleh negara lain. Ada aturan, penyetaraan, bahkan proses administrasi yang panjang.
Lalu, apa yang benar-benar bisa dibawa ke mana pun tanpa perlu izin siapa pun? Jawabannya adalah skill.
Skill adalah aset yang melekat pada diri seseorang. Tidak bisa dicuri, tidak habis dipakai, dan nilainya justru meningkat ketika terus diasah. Dari sekian banyak kemampuan yang saya miliki, ada satu keterampilan yang saya yakini akan selalu menjadi "paspor internasional", yaitu kemampuan menulis dan berbagi ilmu.
Pepatah mengatakan, "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung." Namun, bagi seorang penulis, ada satu kalimat yang juga layak direnungkan: "Di mana pun berada, tulisan akan menemukan pembacanya."
Isi Tulisan Kisah Omjay
Selama lebih dari tiga dekade menjadi guru, saya menyadari bahwa profesi mengajar sesungguhnya tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Ketika teknologi berkembang, ruang kelas itu berubah menjadi blog, media sosial, webinar, podcast, hingga platform literasi digital seperti Kompasiana.
Saya pernah mengajar siswa secara langsung. Kini saya juga "mengajar" ribuan pembaca melalui tulisan. Bahkan, banyak orang yang belum pernah bertemu dengan saya, tetapi mengenal nama Omjay melalui artikel-artikel yang saya tulis.
Inilah kekuatan sebuah skill.
Jika suatu hari saya tinggal di Jepang, Australia, Kanada, Belanda, atau negara mana pun, kemampuan menulis tetap bisa saya gunakan. Saya bisa menulis pengalaman hidup sebagai guru Indonesia di luar negeri.
Saya bisa berbagi praktik baik pendidikan Indonesia kepada dunia. Saya bisa menjadi penghubung budaya melalui cerita dan pengalaman nyata.
Menulis tidak mengenal batas geografis.
Begitu pula kemampuan berbicara di depan umum. Selama ini saya sering menjadi narasumber pelatihan, webinar, seminar, dan berbagai kegiatan literasi. Kemampuan menyampaikan gagasan dengan jelas adalah keterampilan yang dibutuhkan di mana saja.

Kemampuan berikutnya adalah membangun komunitas belajar. Saya percaya bahwa guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi juga penggerak perubahan. Pengalaman mendampingi guru-guru di berbagai daerah telah mengajarkan bahwa ilmu akan berkembang ketika dibagikan.
Apabila berada di luar negeri, saya ingin membangun komunitas literasi bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di sana. Saya juga ingin memperkenalkan budaya membaca dan menulis kepada masyarakat internasional melalui pengalaman saya sebagai pendidik.
Skill lain yang saya bawa adalah kemampuan beradaptasi dengan teknologi.
Dunia pendidikan berubah sangat cepat. Dari papan tulis menjadi layar digital. Dari buku cetak menuju buku elektronik. Dari tatap muka menuju pembelajaran daring. Kini, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) ikut mengubah cara manusia belajar.
Saya tidak ingin menjadi penonton perubahan.
Sebaliknya, saya ingin menjadi bagian dari perubahan tersebut. Karena itu saya terus belajar menggunakan berbagai teknologi untuk mendukung proses belajar mengajar. Pengalaman ini menjadi modal penting jika harus bekerja atau berkarya di negara lain.

Yang tidak kalah penting adalah kemampuan belajar sepanjang hayat.
Sering kali orang mengira bahwa pengalaman adalah tujuan akhir. Padahal pengalaman hanyalah titik awal untuk terus berkembang. Saya selalu percaya bahwa guru terbaik bukanlah guru yang merasa paling pintar, melainkan guru yang tidak pernah berhenti belajar. Semangat belajar inilah yang akan saya bawa ke mana pun saya berada.
Menariknya, semua keterampilan tersebut saling terhubung. Menulis membuat saya dikenal. Mengajar membuat tulisan saya memiliki makna. Teknologi memperluas jangkauan tulisan. Komunitas membuat ilmu terus bertumbuh. Belajar sepanjang hayat menjaga semuanya tetap relevan.

Banyak orang bertanya mengapa saya begitu konsisten menulis hampir setiap hari. Jawabannya sederhana. Karena saya sedang membangun aset yang tidak akan habis dimakan waktu.
Tulisan adalah rekam jejak kehidupan. Ketika suatu hari saya tidak lagi berada di ruang kelas, tulisan-tulisan itu akan tetap mengajar. Ketika saya tidak lagi hadir dalam sebuah seminar, artikel-artikel yang saya tinggalkan masih bisa menginspirasi orang lain.
Inilah keistimewaan seorang penulis. Ia dapat melampaui batas ruang, waktu, bahkan batas negara.
Di era digital saat ini, identitas seseorang tidak lagi hanya ditentukan oleh kartu identitas atau paspor. Jejak digital yang positif justru sering menjadi "kartu nama" pertama yang dilihat orang.
Seseorang bisa dikenal dunia bukan karena tempat tinggalnya, melainkan karena karya yang dihasilkannya. Karena itu saya percaya bahwa investasi terbaik bukan hanya membeli rumah, kendaraan, atau harta benda, tetapi juga membangun kompetensi yang bermanfaat bagi banyak orang.
Skill adalah mata uang global. Semakin banyak nilai yang kita berikan kepada orang lain, semakin besar pula kesempatan yang akan datang menghampiri.
Penutupan
Jika suatu hari saya benar-benar harus tinggal di luar negeri dan menjadi warga negara asing, saya tidak akan membawa gedung sekolah, ruang kelas, ataupun meja kerja. Saya hanya akan membawa apa yang telah melekat dalam diri: ilmu, pengalaman, karakter, dan keterampilan.
Di antara semuanya, kemampuan menulis tetap menjadi bekal yang paling saya banggakan.
Sebab tulisan mampu menembus batas negara, bahasa, bahkan generasi. Tulisan dapat menjadi jembatan persahabatan, sarana berbagi ilmu, sekaligus warisan yang terus hidup ketika penulisnya telah berhenti berbicara.
Saya semakin yakin bahwa menulis bukan sekadar hobi, melainkan investasi seumur hidup. Tulisan yang lahir dari pengalaman nyata akan selalu memiliki tempat di hati pembaca, di mesin pencari Google, dan di ruang-ruang diskusi yang membutuhkan inspirasi.
Maka, jika ada yang bertanya, "Skill apa yang akan Omjay bawa ke luar negeri?"
Jawaban saya tetap sama. Saya akan membawa kemampuan menulis, karena menulis adalah paspor yang tidak pernah kedaluwarsa. Ke mana pun saya pergi, tulisan akan lebih dahulu memperkenalkan siapa diri saya.
Dan selama saya masih menulis, saya percaya Omjay akan tetap eksis sekaligus narsis, menginspirasi, serta meninggalkan jejak kebaikan bagi siapa pun yang membacanya.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
